MU’TAZILAH {TRANSISI PEKEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM}

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kontroversi tentang teologi berlanjut dengan penuh semangat pada masyarakat Islam klasik.[1] Istilah yang kita terjemahkan menjadi teologi bahasa Arabnya adalah “Kalam”, artinya “Pembicara” atau Wacana”. Orang yang terlibat kontroversi tentang persoalan kepercayaan agama dikenal dengan mutakallimun (baca. mutakallimin). Istilah yang terakhir ini tidak hanya digunakan untuk kalangan teologi muslim, tapi juga untuk Kristen dan Yahudi, serta sarjana agama lainnya yang masing-masing ikut dalam perdebatan teologis atas nama masyarakat penganut mereka.[2]

Perdebatan mereka menyangkut persoalan sifat dan kebijaksanaan Tuhan, kitab suci, nabi, baik dan buruk, dan dasar agama bagi otoritas dan kemapanan politik. Tema-tema ini membentuk wacana dalam batas-batas doctrinal yang memisahkan kelompok-kelompok agama yang ada dalam masyarakat Islam. Pada saat yang sama tema-tema tersebut membatasi kelompok-kelompok tersebut untuk berdebat dalam cara berbicara yang sama tentang hubungan mereka dengan satu sama lain.

Dalam bahasa kontemporer, kalam memberikan wacana yang kaya tentang identitas politik agama pada masyarakat Islam abad pertengahan. Istilah seperti mukmin “orang yang beriman”, kafir“ orang yang tidak beriman “, murtad “pengingkaran agama”, dan ahl al-kitab “orang yang mempunyai kitab” merupakan inti wacana, dimana batas-batas antara komunitas dibangun dengan hati-hati dan dipertahankan selama keberadaan (dan perubahan) konflik[3] tersebut. Dikalangan

Muslim sendiri perdebatan antar sekte mencuat dan opinipun terfragmentasi secara tajam. Saat sekte-sekte ini (firaq, baca. firqa) menjadai mapan dalam masyarakat Islam terdahulu.[4] Maka sebagian besar mereka dianggap sebagai mazhab/school of doctrine (madhahib baca madhab). Semenjak abad kedelapan samapai abad kesebelas, mazhab kalam atau kelompok mazhan kalam yang utama terkenal adalah Mu’tazilah.[5]

1.2 Identifikasi Masalah

Dalam pembahasan perkembangan pemikiran Islam pada masa Mutazilah, dan yang telah tergambar pada latar belakang yang penulis byat diatas, secara pribadi ingin mengidentifakasikan kerangka penulisan pada beerapa pertanyaan yaitu:

1. Bagaimanakah awal cikal bakal sejarah, hingga terbentuknya faham Mu’tazilah?

2. Apa yang mendasari pemeberian nama “Mu’tazilah”, dan apa maksud dibalik nama tersebut?

3. Apa saja spesifikasi doktrin Mu’tazilah yang terkenal dengan sebutan “Al-Usul Al-Khamsa”?

BAB II

MU’TAZILAH

{TRANSISI PEKEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM}

2.1 Mu’tazilah (Telusur Sejarah)

2.1.1 Telisik Cikal Bakal Mu’tazilah (Dari Khalifah Abu Bakar Sampai Munculnya Kaum Murji’ah)

Tradisi Islam menempatkan awal munculnya teologi Mu’tazilah pada majlis (lingkar studi) Syekh Hasan al-Basri (W.728), yaitu seorang ulama sufi.[6] Al-Hasanlah mungkin yang paling diingat dalam sejarah pemikiran Islam karena kejujuran risalahnya (risalah) dalam memberikan jawaban kepada khalifah ‘Abd al-Malik (berkuasa. 685-705) tentang persoalan kebebasan manusia versus takdir Tuhan. Dalam risalahnya, Hasan al Basri menggunakan sejumlah “loci probantes” atau bukti tekstual Al-Qur’an untuk menyakinkan bahwa manusia diciptakan dengan pertanggungjawaban moral terhadap apa yang mereka lakukan.[7]

Orang-orang yang menekankan kemampuan dan kebebasan berkehendak manusia untuk berbuat dinamai Qadariyah, berasal dari kata qadar, yang kemudian didefinisikan oleh Mu’tazilah sebagai kekuatan tau kemampuan untuk melakukan tindakan yang mandiri. [8]

Kemudian Mu’tazilah mempertahankan dan memoles doktrin kebebasan manusia tersebut. Sementara penentang mereka yang kemudian diberi nama Jabariyah atau Mujbirah (keterpaksaan), menegaskan bahwa semua kemampuan menusia berasal dan harus dikembalikan hanya kepada qadar Tuhan. Sekitar dua abada setelah Hasan al-Basri, arus utama mazhab Sunni yang dikenal dengan Ash’ariyah memperbaiki pendirian Mujbirah. Mereka mencapai posisi yang lebih moderat dengan menyatakan bahwa tindakan manusia adalah mandiri, (dengan kehendak mereka sendiri) namun usaha mereka (kasb), yaitu kekuatan untuk bertindak berasal dari Tuhan saat sebuah perbuatan terjadi, jadi tetap mempertahankan omnipotence Tuhan.[9]

Perpecahan yang lebih hebat pada awal perdebatan tentang kalam adalah isu yang muncul dari pertikaian sipil (fitna) yang berkobar menyusul pembunuhan terhadap Khalifah ketiga Ustman (berkuasa, 644-656). Perdebatan sengit tersebut dikenang dalam tradisi Islam dimana anggota kaum ‘Ustman di Mekkah bersikeras bahwa khalifah ‘Ali ibn Abi Thalib (berkuasa, 656-661), khalifah keempat, sepupu dam menantu nabi Muhammad, harus menuntut balas atas kematian Ustman. Sementara kelompok lain menegaskan hal yang berbeda, disebabkan Ustman tidak memerintah menurut Al-qur’an dan Sunnah Nabi, maka beliau berhak dihukum, bahkan mati sekalipun.[10]

Kekhalifahan ‘Ali kemudian terjebak dalam perselisihan yang tragis ini. Hal ini kemudian diperparah dengan kesepakatan antara ‘Ali dan Mu’awiyah untuk menyerahkan persoalan apakah ‘Ali harus menuntut balas atas kemataian Ustman atau tidak kepada arbitrase/juru damai. Mu’awiyah adalah anggota suku Ustman, Bani Umayah Mekah. Pada saat arbitrase tersebut beliau adalah gubernur Damaskus Keputusan arbitrator berada dipihak Mu’awiyah, yaitu bahwa ‘Ali harus menuntut balas atas kematian ‘Ustman. Hal ini membuat’Ali dan kelompoknya dalam posisi difensif. Anggota kelompok Ali yang menyalahkannya karena tidak membela orang-orang yang secara sah (dalam pandangan mereka) telah membunuh khalifah ketiga, melepaskan diri (kharaju) dari ‘Ali dan Shi’ahnya. Merka kemudian terkenal dengan nama Khawarij atau “orang yang melepaskan diri”.

Khawarij menyakini bahwa iman termanifestasikan dalam kerja, dan dosa besar menggabungkan status pelakunya sebgai mukmin dan keanggotaanya dalam ummat Muslim.

Perselisihan yang disebutkan diatas menciptakan reaksi menentang pada kelompok-kelompok Muslim yang meyakini bahwa hanya Tuhan yang menentukan apakah seorang muslim (yang berserah diri kepada Allah) yang melakukan dosa, benar-benar seorang Mu’min (orang-orang yang benar-benar memiliki kualitas iman). Karena itu ummat harus menerima semua yang mengakui Islam (muslim) sebagai Mu’min.

Sementara keputusan tentang orang yang menyesal (irja’), apakah status mereka sebagai Mu’min atau tidak, berada ditangan Tuhan pada hari akhir. Kelompok ini kemudian terkenal dengan nama Murji’ah. Walaupun perselisihan ini terjadi dua abad sebelum era Abd al-Jabbar.

2.1.2 Mu’tazilah (Antara Nama dan Sejarah)

Persolan-persoaln diatas diperdebatkan oleh kalangan cendikiawan yang berkumpul disekeliling al-Hasan di Basrah, Iraq, pada masa sebelum satu abad setelah wafat Nabi Muhammad.

Diantara para cendikiawan yang ikut serta dalam diskusi tersebut adalah Wasil bin Ata’ (W.748) dan Amr ibn ‘Ubayd (W762).[11] Menurut sejarah, dulu kala, ketika seseorang bertanya kepada al-Hasan di Basrah, apakah pendosa harus dianggap Mu’min atau tidak, al-Hasan ragu, Wasil bin Ata’ mengambil kesempatan itu untuk memberikan penilaian bahwa pendosa besar bukan Mu’min juga bukan kafir, tetapi orang itu berada diposisi pertengahan (al-manzilah bain al-manzilatain) yang merupakan salah satu lima dasat teologi Mu’tazilah.[12]

Menurut riwayat Wasil kemudian memisahkan diri (I’tazala) dari kelompok al-Hasan dan diikuti oleh kelompok murid Hasan, termasuk Amr ibn ‘Ubayd. Bentuk “pemisahan diri” dari kalangan al-Hasan di Basrah inilah etimologi istilah Arab “Mu’tazilah” sering dihubungkan.[13]

Figur berikutnya adalah Dirar ibn ‘Amr (W. Ca. 815) yang tumbuh dewasa pada masa rezim yang makmur diera khalifah Abasiyah trekenal yaitu Harun al Rasyid, bahkan ia pernah bertemu dan belajar dengan Wasil bin Ata’(walaupun Watt tidak menganggap seperti itu).[14]

Dirar adalah pemikir yang independen. Sebagai contoh, beliau setuju dengan Mujbira dan menentang posisi Qadariyah Mu’tazilah tentang kebebasan manusia.

Mungkin karena ini Dirar hanya sedikit disebut dalam catatan biografi Mu’tazialh Ia juga dituduh sebagai zandaqa (tidak beragama) yang bisa dihukum mati, tapi tuntutan tersebut tidak dilaksanakan. Dalam lanjutan perdebatan tentang pembunuhan terhadap Ustman, yang sekarang antara kelompok Shi’ah dan Sunni (Ahl al-sunnah Wa al-Jamaah), maka Dirar lebih menerima posisi pertenghan Mu’tazilah. Tidak berbeda dengan teologi Mu’tazilah lainnya, Dirar juga merupakan rasionalis yang memberi peranan akal dalam memahami kebenaran Tuhan yang terdapat didalam wahyu (shar’i). Namun pada masa Dirar, mazhab Mu’tazilah belum terbentuk sebagai mazhab yang definitif.[15]

Pemikiran utama pasca Dirar adalah Abu al-Hudayl. Beliaulah yang dalam beberapa hal, memapankan mazhab Mu’tazilah dalam bentuk yang lebih formal di Basrah.[16]

Walau begitu, hanya terdapat beberapa catatan dan kutifan singkat dari karya Abu al Hudayl yang masih tersisa didalam karya terakhirnta. Dari judul yang hubungkan dengannya, kita bisa menyimpulkan bahwa ia terlibat aktif dalam polemik dengan beragam kelompok, baik non-Muslim maupun Muslim. Perdebatan yang baru saja kita lihat adalah modus operandi yang utama bagi mutakallimun.

Reperensi ynag menarik untuk sejarah tingkat permulaan Mu’tazialh adalah rujukan terhadap Risalah Lima Dasar Teologi Mu’tazilah (al-usul al-khamsa) yang dihubungkan kepada Abu al-Hudayl.[17] Judul buku tentang salah satu lima dasar (ke-Esaan Tuhan, Teodesi, posisi tengah, dan seterusnya) juga dihubungkan kepada Abu al-Hudayl dan teolog lainnya selama seperempat pertama abad sembilan, begitu juga penolakan terhadap Mujabira, Khawarij, Murji’a dan opson teologi lainya. Seperti yang baru saja kita jelaskan, tidak disangka sangat seadikit sekali teks dari periode awal ini yang masih tersissa, hanya sedikit catatan berserakan dan kutifan yang terdapat dalam karya selanjutnya untuk memberitahu apa sebenarnya yang dikatakan oleh teolog terdahulu.[18]

2.2 Ajaran Mu’atazilah (Telusur Teoritis)

Dalam Sub Bab ini sebenarnya penulis ingin sedikit mengupas tentang kitab al-Khusul al-khamsa yang di tulis oleh Qadi Abd Al –Jabbar, karena setidaknya landasan dari al-Khusul al-khamsa, dapat mewakili karakteristik dari pemahaman atau doktrin dari Mu’tazilah.

2.2.1 Kesaan Tuhan (al-tauhid)

Dalam kitab al-Khusul al-khamsa, teks yang ditulis di paragraph ke 16 menyatakan tentang persoalan tentang ke-Esaan Tuhan dan dasar teologi untuk meyakini bahwa keberadaan tuhan berbeda dengan makhluknya, sama seperti pernyataan bahwa tuhan itu satu, tidak lebih.[19]

Lebih lanjut, dalam penerangan tentang doktrin mutazilah yang pertama ini, salah satu “pendahulu mutazilah Al-Asy’ari (meski berpindah haluan), memberikan penjelasan tentang ciri konsep Mu’tazilah tentang Tauhid :

“Mu’tazilah setuju bahwa Tuhan adalah satu, tidak ada yang menyerupai Nya, Dia mendengar, Melihat, Dia bukanlah tubuh (jism), tidak terbentuk, tidak berdaging, tidak berdarah, dia bukan individu, bukan substansi, bukan sifat,….tidak melahirkan dan tidakdilahirkan, kehebatan tidak bisamenutupinya, akal tidak bias mencapai-Nya, dia tidak bias dibandingkan dengan manusia, dan sama sekali tidak menyerupai makhluk, Dia selalu yang pertama dan paling dahulu, Dia ada sebelum ada asal dari segala sesuatu, dia mengetahui, berkuasa, hidup,….tdak sebagaimana (manusai) menguasai, berkuasa, dan hidup…Dia tidak merasa senang, sakit, suka atau gembira, duka atau lara….Dia terlalu sci untuk disentuh oleh wanita kawin atau punya anak.[20]

Ditempat lain, dalam berbagai symber, Ash’ari mengungkapkan bahwa Mu’tazilah menafsirkan Al Qur’an secara metaforis (ta’wil)[21]. Jadi, sebagai contoh untuk penunjukan terhadap mata tuhan untuk pemgetahuanNya.[22]

Namun dalam pencapaian pemikiran mereka mengenai tauhid tentunya ad sangkalan dari pihak lain , seperti :

1) Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Dalil ini sangat lemah, bahkan menjadi runtuh dengan adanya dalil sam’i (naqli) dan ‘aqli yang menerangkan tentang kebatilannya. mensifati dirinya sendiri dengan sifat-sifat Adapun dalil sam’i bahwa Allah yang begitu banyak , padahal Dia Dzat Yang Maha Tunggal. Allah berfirman: ”Sesungguhnya adzab Rabbmu sangat dahsyat. Sesungguhnya Dialah yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali), Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, Yang mempunyai ‘Arsy lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Buruuj: 12-16). Adapun dalil ‘aqli: bahwa sifat-sifat itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari yang disifati, sehingga ketika sifat-sifat tersebut ditetapkan maka tidak menunjukkan bahwa yang disifati itu lebih dari satu, bahkan ia termasuk dari sekian sifat yang dimiliki oleh dzat yang disifati tersebut. Dan segala sesuatu yang ada ini pasti mempunyai berbagai macam sifat … “ [23]

2) Menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluq bukanlah bentuk kesyirikan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Ar-Risalah Al-Hamawiyah: “Menetapkan sifat-sifat Allah tidak termasuk meniadakan kesucian Allah, tidak pula menyelisihi tauhid, atau menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.” Bahkan ini termasuk konsekuensi dari tauhid al-asma wash-shifat. Sedangkan yang meniadakannya, justru merekalah orang-orang yang terjerumus ke dalam kesyirikan. Karena sebelum meniadakan sifat-sifat Allah tersebut, mereka terlebih dahulu menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. [24]

2.2.2 Teodesi (al-‘adl)

Dalam penelaahan persoalan keadilan tuhan, mandelung menguraikannya pada dua hal :

1) Tuhanm menginginkankebaikan bagi manusia, Dia tidak menginginkan atau menciptakan kejahatan atau kedustaan, da sebagainya. Tuhan memberikan bimbingan (huda) kejalan yang benar dan sebaliknya tidak memaksa manusia kepada kesesatan(dalal).

2) Konsekuensi, perbuatan dan kelakuan serta tindakan amoral yang bisa dihukum, tidak dipaksakan oeleh pencipta terhadap makhluknya Tuhan tidak akan bertindak tidak adil kalau ia menghukum makhluk=Nya karena tindakan yang diciptakanNya pada makhluknya.[25]

Dalam teologi, khususnya pda wacana Mu’tazillah, Teodisi dibentuk oleh konsep taklif . Than sebagai al mukallif membebankan tugas-tugas manusia. Kemudian manusia sering disebut mukallafun, bentuk jama kata kerja pasif. Kemudian kita sering bertemu dengan kata benda Verbal, kata kerja aktif, kata kerja pasif yang mengelilingi penyebutan “kewajiban”. Tuhan sebagai “pemberi kewajiban” , dan manusiasebagai yang “menerima kewajiban.

Dalam persepektif Teodesi ini, kembali bsnysk bantahan yang dilontarkan seperti bantahan dari As-Syaikh Yahya bin Abil – Khair Al – ‘imrani berkata:

“Kita tidak sepakat bahwa kesukaan dan keinginan itu satu , dasarnya adalah dalam Al – Qur’an Allah berfirman : “ Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai Orang – orang kafir “ Padahal kita semua tau Allah – lah yang menginginkan adanya orang kafir tersebut dan Dia – lah yang menciptakan mereka. Terlebih lagi Allah telah menyatakan bahwa sanya apa yang dikehendaki dan dikerjakan hamba tidak lepas dari kehendak dan ciptaan – Nya , Allah berfirman : “ Dan kalian tidak akan mampu menghendaki ( jalan itu ) , kecuali bila dikehendaki Allah .” ( Al – Ihsan : 30 ) . “ Padahal Allah – lah yang meciptakan kalian dan yang kalian perbuat” (Ash-Shaafaat : 96 ) . Dari sini kita tau bahwa ternyata istilah keadilan itu mereka jadikan sebagai yang merupakan bagian dari takdir Allah , kedok untuk mengingkari kehendak Allah . atas dasar inilah mereka lebih pantas dikatakan Qadariyyah , Majusyiah , dan orang – orang yang zalim . “[26]

2.2.3 Eskatologi (al-wad wa i-waid)

Abd al-Jabr pun membicarakan persoalan social serta konsekuensi eskatologi dai dosa, yaitu masalah ancaman dan jani. Inimerupakan isu yang membedekan khawari dan Murjiah pada decade pertam setelah wafatnya Nabi.

Dalam hal ini Abd al-jabbar menjelaskanbahwa Tuhan akan menjawab permohonan keringanan bagi prangmukmin, selain dalam kasus orang yang berdosabesar(fasiqun). Menekdim mengatakan bahwa yang menjadi penentang adalahj Murjiah yang meyakini bahwa orang yang berdosa besdar diantara “orang-orang yang beribada” mempunyai akses untuk dibela, “dimana ada keimanan maka dosa buakanlah kesalahan” [27]

2.2.4 Posisi Pertengahan (al-manzilu bayn al-manzilatayn)

Dalam perihal ini, sebenarnya ada pertamyaam yamg menarik yakni, “kenapa pendosa besar tidak digolongkan sebagai orang kafir?”, maka jawaban faham Mu’tazilah adalah : Hukum Islam yaitu Syari’ah tidak memperlakukan pendosa besar seagaimana orang kafir.[28]

Sebenarnya hal ini yang pertama-tama ingin ditegaskan oleh Mu’tazilah, bahwasanya, para munafik akan selalu menyembunykan kekafiran mereka, sementara pendosa besar tidak.[29]

2.2.5 Menyruh Yang Baik Dan Melarang Yang Munkar

( Al-amr bial-ma’ruf wa al’nahy’)

Prinsip perintah d/larangan dalam istilah teologi perbanddingan, bisa dianggap sebagai misi ke dunia”. Abd al-Jabbar menekankan bahwa misi proakti kepada dunia adalah kewajiban Muslim, dan tidak “memerintahkan kebaikan dan melarang kejahatan” sama dengan tidak patuh kepada tuhan.

Sekaitan dengan ini, sebenarnya Mu’tazilah menguraikannya kepada empat bagian lebih rinci, yaitu :

1) Teologo Politik (Imamah)

2) Validitas Sunanah

3) Takdir Tuhan

4) Taubat dan keimanan

2.3 Mu’tazilah (Telusur Tokoh)

Meski Sub bab ini, tidak diformatkan penulis dalamlandasan identifikasi masalah, namun setidaknya penulis ingin sedikit tau tentang dua orang yang menurut pengamatan penulis cukup berperan dalam perkembangan faham Mu’tazillah, yaitu : Qadi Abd Al-Jabbar dan Muhammad Abduh.

2.3.1 Qadi Abd Al-Jabbar

Nama lengkap beliau adalah Abu al-Hasan’Abdal-Jabbar Ibn Ahmad In Khalil ibn’Abdillah al-Hamdhani al-Asadabadi (W.1024), dan dipanggil Qadi al-Qudat (hakim kepala Iran).[30]Beliau dilahirkan di Persia antara tahun 932-937 H., di Asadabad.

Qadi cukup tertkenal di masa dinasti Abasiya, hal ini pun memungkinkannya untuk terus berkaryta dalah khasanah keilmuan (khususnya keagamaan ).

Sebenarnya di masa beliau hidup, eliau mengadapi masa transisi dalam peperintahan bani Abasiyah. Meski memang ada beerapa nama menggambarkan kepopulisan ummat muslim, di buka pada masa beliau hidup seperti : Sunni-hanafi, maliki, Syafi’i, dan Hambali. Sudah mulai kembali diinstitusionalkan.

Qadi meninggal di Rayy pada tahun1024 H. Dan selama hidupnya, beliau banyak memberikan inspirasi kepada ilmuan-ilmuan muslim dalam mengepakan sayapnya, khusnya dalam bidang filsafat, politik dan lain-lain.

2.3.2 Muhammad Abduh

Syekh Muhamad Abduh bernama lengkap Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah.  Beliau dilahirkan di desa Mahallat Nashr di Kabupaten al-Buhairah, Mesir pada 1850 M/1266 H, berasal dari keluarga yang tidak tergolong kaya dan bukan pula keturunan bangsawan. [31]

Singkat kata, setelah dua tahun sejak pertemuannya dengan Jamaluddin al-Afghani, terjadilah perubahan yang sangat berarti pada kepribadian Abduh dan mulailah ia menulis kitab-kitab karangannya seperti Risalah al-’Aridat (1837), disusul kemudian dengan Hasyiah Syarah al-Jalal ad-Diwani Lil ‘Aqaid adh-Adhudhiyah (1875).  Dalam karangannya ini, Abduh yang ketika itu baru berumur 26 tahun telah menulis dengan mendalam tentang aliran-aliran filsafat, ilmu kalam (teologi), dan tasawwuf, serta mengkritik pendapat-pendapat yang dianggapnya salah.[32]

Di samping itu, Abduh juga menulis artikel-artikel pembaruan di surat kabar Al-Ahram, Kairo.  Melalui media ini gema tulisan tersebut sampai ke telinga para pengajar di al-Azhar yang sebagian di antaranya menimbulkan kontroversi serta pembelaan dari Syaikh Muhammad al-Mahdi al-Abbasi, di mana ketika beliau menduduki jabatan “Syaikh al-Azhar”, Muhammad Abduh dinyatakan lulus dengan mencapai tingkat tertinggi di al-Azhar, dalam usia 28 tahun (1877 M).[33]

Tahun 1884 Muhammad Abduh diutus oleh surat kabar tersebut ke Inggris untuk menemui tokoh-tokoh negara itu yang bersimpati kepada rakyat Mesir. Tahun 1885 Muhammad Abduh meninggalkan Paris menuju ke Beirut (Libanon) dan mengajar di sana sambil mengarang beberapa kitab, antara lain:[34]

1.   Risalah at-Tauhid (dalam bidang teologi);

2.   Syarah Nahjul Balaghah (Komentar menyangkut kumpulan pidato dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib);

3.   Menerjemahkan karangan Jamaluddin al-Afghani dari bahasa Persia, Ar-Raddu ‘Ala ad-Dahriyyin (Bantahan terhadap orang yang tidak mempercayai wujud Tuhan); dan

4.   Syarah Maqamat Badi’ az-Zaman al-Hamazani (kitab yang menyangkut bahasa dan sastra Arab).

Pada  tanggal 11 Juli 1905, saat masa puncak aktivitasnya membina umat, Muhammad Abduh meninggal dunia di Kairo, Mesir. Yang menangisi kepergiannya bukan hanya umat Islam, tetapi ikut pula berduka di antaranya sekian banyak tokoh non-Muslim.

Selain yang telah disebutkan di atas, selama hidupnya beliau juga melahirkan beberapa karya lain,  yaitu:[35]

1.   Tafsir al-Qur’an al-Hakim (belum sempurna, kemudian dirampungkan oleh Rasyid Ridha);

2.  Khasyiah ‘Ala Syarh ad-Diwani li al-‘Aqaid adh-‘Adhudhiyat;

3.   Al-Islam wa an-Nashraniyat ma’a al-‘Ilm wa al-Madaniyat.

Syekh Muhammad Abduh menggerakkan dan mempelopori kebangkitan intelektual pada paruh kedua abad ke–9. Kebangkitan dan reformasi dipusatkan pada gerakan kebangkitan, kesadaran, dan pemahaman Islam secara komprehensif, serta penyembuhan agama dari berbagai problem yang muncul di tengah-tengah masyarakat modern.

Ada dua fokus utama pemikiran tokoh pembaharu Mesir ini; Pertama, membebaskan umat dari taqlid dengan berupaya memahami agama langsung dari sumbernya – al-Qur’an dan Sunnah – sebagaimana dipahami oleh ulama salaf sebelum berselisih (generasi Sahabat dan Tabi’in). Kedua, memperbaiki gaya bahasa Arab yang sangat bertele-tele, yang dipenuhi oleh kaidah-kaidah kebahasaan yang sulit  dimengerti. Kedua fokus tersebut ditemukan dengan sangat jelas dalam karya-karya Abduh di bidang tafsir[36]

BAB III

KESIMPULAN

Seperti yang telah penulis sampaikan di Bab pendahuluan, penulis membatasi kerangka penulisan pada 3 (tiga) hal (dapat di buka di halaman 3). Maka penulis pun menympulkan bahwa :

  1. Tradisi Islam menempatkan awal munculnya teologi Mu’tazilah pada majlis (lingkar studi) Syekh Hasan al-Basri (W.728), yaitu seorang ulama sufi. Al-Hasanlah mungkin yang paling diingat dalam sejarah pemikiran Islam karena kejujuran risalahnya (risalah) dalam memberikan jawaban kepada khalifah ‘Abd al-Malik (berkuasa. 685-705) tentang persoalan kebebasan manusia versus takdir Tuhan. Dalam risalahnya, Hasan al Basri menggunakan sejumlah “loci probantes” atau bukti tekstual Al-Qur’an untuk menyakinkan bahwa manusia diciptakan dengan pertanggungjawaban moral terhadap apa yang mereka lakukan. Orang-orang yang menekankan kemampuan dan kebebasan berkehendak manusia untuk berbuat dinamai Qadariyah, berasal dari kata qadar, yang kemudian didefinisikan oleh Mu’tazilah sebagai kekuatan tau kemampuan untuk melakukan tindakan yang mandiri.
  2. Menurut riwayat Wasil kemudian memisahkan diri (I’tazala) dari kelompok al-Hasan dan diikuti oleh kelompok murid Hasan, termasuk Amr ibn ‘Ubayd. Bentuk “pemisahan diri” dari kalangan al-Hasan di Basrah inilah etimologi istilah Arab “Mu’tazilah” sering dihubungkan.
  3. Isi dari Al-Usul Al Khmosa, mempunyai karakter doktrin tersendiri tentang hal

1) Kesaan Tuhan (al-tauhid)

2) Teodesi (al-‘adl)

3) Eskatologi (al-wad wa i-waid)

4) Posisi Pertengahan (al-manzilu bayn al-manzilatayn)

5) Menyruh Yang Baik Dan Melarang Yang Munkar ( Al-amr bial-ma’ruf wa al’nahy’)


[1] Saya menggunakan istilah “Islamicate” dalam pemahaman Marsal Hudgson tentang masyarakat yang berada dibawah kekuasaan Islam, yang terdiri dari beberapa komunitas yang telah mengakui, dan berbagai budaya yang sudah umum yang diwariskan oleh budaya tulis Islam. Lih Hodgson, The Venture Of Islam, I :57-60

[2] Laporan tentang kalam pada masyarakat Muslim, Kristen, dan Yahudi pada masyarakat Islam awal adalah; The Philosophy Of Kalam. Untuk diskusi tentang umat Yahudi/Muslim dan hubungan teologisnya di masa awal Islam, lih Wassertrom Between Muslian And Jew. Tentang kalam Kristen/Muslim, lih Griffith, Comparative Religion.

[3] Wasserstrom, Between Muslian And Jew, hlm, 10-11. dan secara umum bab 4 membicarakan istilah wacana yang diadopsi oleh Muslim dan Yahudi untuk berbicara satu sama lain.

[4] Islamic (ate) society, sebagaimana sudah kami indikasikan, merujuk pada komposisi pemerintah masyarakat relijius (Suni, Shi’I juga beragam masyarakat Kristen dan Yahudi dan orang yang dilindungi (orang-orang dhimmi) yang tinggal dibawah kekuasaan Islam. Istilah “Umma” dalam wacana Islam disatu sisi khususnya meruju kepada kelompok tertentu yang sudah mengakui keislamannya..

[5] Bentuk mu’annas feminim dari kata benda Mu’tazilah meruju pada kelompok, sementara mu’tazili adalah bentuk kata sifat/substantif (mu’tazili doctrine). Persamaan bahasa Inggrisnya adalah “mu’tazilate”.

[6] Abu Sa’id al-Hasan b Abi al-Hasan Yasur al-Basri, lihat GAL, SI, 102-103;GAS, I, 591, EI, sv, “ Hasan al-Basri”, Teologie, 2:41-118.

[7] Pembicara tentang risalah/surat Hasan al-Basri kepada ‘Abd al-Malik (dan posisi teologis lainnya) lihat Formative period, hlm, 100-102.

[8] Anthony lewis, Philosophy of Islam, Berlin : North.Univ, 2001, hlm. 18.

[9] Formative Period, hlm, 118, 193-194, George F Hourani, ISLAMIC Rasionalism membicarakan doktrin ini sehubungan dengan karya teologi Abd al-Jabbar, khususnya hlm, 39-43 dan 97.

[10] Anthony lewis, Philosophy of Islam, Hlm. 22.

[11] Abu Hudayfa Wasil Bin Ata’ al-Gazzal, lahir di Madinah tahun 699 dimana ia menjadi mawla (orang yang dalam perlindungan) suku Arab dank arena itu juga oleh Muslim. Ia pindah ke Basrah dimana ia bertemu dengan al-Hasan, lihat GAL SI : 103, GAS, I :593;SEI, sv.” Wasil Bin Ata’ “; Tabaqat hlm, 28-31, dan teologie, 2,234-280. abu Uthman Amr Bin’Ubayd juga seorang mawla, namun biografi tentang dirinya kurang tersedia jika dibanding Wasil. Lihat GAL, SI, 338, GAS, I, 594, EI, sv, “Amr b. ‘Umayd”. Tabaqat, hlm 35-36, dan Teologie, 2:280-310.

[13] Terdapt banyak variasi tentang cerita ini, diantanya ada yang berlawanan dengan yang lain. Watt dan (lainnya) mempercayai bahwa derivasi Mu’tazilah/I’tizal dari pernyataan yang dibuat oleh al-Hasan al-Basri adalah fiksional. Watt juga berfikir ‘Amr lebih terkenal ketimbang Wasil. Untuk tinjauan perdebatan bagaimana mazhab Mu’tazilah mendapatkan namanya, lihat formative period, hlm, 209-217, dan Teologie, 2, 335-342.

[14] Abu ‘Amr Dirar b. al- Ghatafani al-kufi, lihat GAS 1, 614;EI, sv, “Dirar Bin ‘Amr” formative period, hlm : 189199, dan Teologie, 3, 32-63.

[15] Anthony lewis, Philosophy of Islam. 56.

[16] Abu al-Hudayl Muhammad bin al-Hudayl al-Allaf al’Abdi seorang mawla suku Abd al-Qays. Lihat GAL, SI :338, GAS, I, : 617-18, EI, sv, “Abu Hudayl”:Fihrist, I 386-389, Tabqat, hlm, 44-49, Formotive Period, hlm, 219, et passim, Theologie 3, 209-296.

[17] Di catat oleh Josef Van Ess, ER, s.v “Mu’tazilah”, 10:220-229.

[18] Josef Ven Ess mengumpulkan, menempatkan, dan menafsirkan penggalan teks kalam dari abad pertama Islam dalam Theologie und Gesellschaft im, 2 Und 3. Jahrhundert Hidschra:Eine Geschiche des religiosen Denkens im Fruhen Islam, dikutif dengan simplel dalam theologie, dalam semua bagian.

[19] Yosef, The Historical of Islamic Science, Italy : drozz, 1976. Hlm.2003.

[20] Richard C Martin, MarxWoodWart, Post Mu’tazilah, Yogyakarta : IRCSISoD, 2002, Hlm. 132.

[21] Metaforis disini maksudnya : Majaz untuk membandingkan benda dengan zat yang lain.

[22] Richard C Martin, MarxWoodWart, Post Mu’tazilah ,Hlm, .133.

[23] Ibid. Hlm. 134-136.

[24] Ibid.

[25] Ibid.Hlm. 138.

[26] Yosef, The Historical of Islamic Science, Hlm. 231.

[27] Ibid.

[28] Richard C Martin, MarxWoodWart, Post Mu’tazilah ,Hlm, 156-157.

[29] Ibid.

[30] Richard C Martin, MarxWoodWart, Post Mu’tazilah, Hlm. 73-26.

[31] Muhammad Azhari, Introduction of Islamic Philosophy, (Gombak : IIUM Press, 2003), hal.228.

[32] Muhammad Azhari, Introduction of Islamic Philosophy), hlm. 229-238.

[33] Ibid.

[34] Ibid.

[35] Ibid.

[36] Ibid.

About these ads

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.