Propaganda Orientalis terhadap al qur’an (tinjauan historis)

B A B I

P E N D A H U L U A N

1.1 Latar Belakang Masalah

Menurut keimanan umat Islam, al Qur’an adalah kitab suci (sakral) karena ia merupakan wahyu Allah yang tidak mengandung keraguan.[1]

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad sebagai petunjuk terhadap orang Islam dalam segala hal, baik masalah duniawi maupun ukhrawi, dari sini segala perilaku orang muslim banyak dipengaruhi oleh doktrin al Qur’an.

Al Qur’an sebagai nahkoda atau pilar tehadap orang Islam tentu mendapat kecaman dari seteru abadinya (orang-orang non Muslim). Karena dengan menghancurkan al-Qur’an mereka yakin akan lebih mudah untuk menghancurkan aqidah kita (orang Islam). Sebab segala prinsip orang Islam di ambil dari Al-Qur’an dan Hadis, sehingga cara terbaik untuk menghancurkan Islam ialah dengan cara menghancurkan sumbernya.

Sakralitas al Qur’an tersebut terus-menerus digerogoti oleh kaum yang sering disebut kaum orientalis beserta para pengikutnya. Mereka berusaha keras menghancurkan sakralitas al Qur’an dengan berbagai cara. Di antaranya dengan cara menggugat otentisitas dan otoritas al Qur’an. Gugatan otentisitas al Qur’an pada gilirannya jelas akan mengguncang otoritas (kehujjahan) al Qur’an, atau mengancam kedudukan al Qur’an sebagai hujjah atau dalil syariat pertama bagi segala ajaran Islam.[2]

Jika otoritas al Qur’an ini sudah bisa dihancurkan, kaum orientalis tentu berharap akan dapat pula meruntuhkan seluruh sumber ajaran Islam lainnya seperti as-Sunnah, Ijma Sahabat, dan Qiyas. Itulah tujuan akhir mereka yang sangat keji.

Kaum Orientalis sendiri sebenarnya di motori oleh kalangan Yahudi-Kristen, telah lama menghujat al ­Qur’an. Hal ini bisa dimengerti karena mereka menolak jika al Qur’an meluruskan fondasi agama Yahudi-Kristen. Dalam kaitannya dengan agama Kristen, misalnya, Allah berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam.”[3]

“Sesungguhnya kafirlah orang ­orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga.”[4]

“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka.”[5]

Selain itu, Allah juga melaknat orang-orang Nasrani karena menyatakan al-Masih itu putera Allah.[6]

Pernyataan al Qur’an tersebut membuat kalangan Kristi­ani marah dan geram. Oleh sebab itu, sejak awal mereka menganggap al Qur’an sama sekali bukan kalam Ilahi. Mereka menjadikan Bibel sebagai tolak ukur untuk menilai Al-Qur’an. Mereka menilai bila isi al Qur’an bertentangan dengan kandungan Bibel, maka al Qur’an yang salah. Sebabnya, menurut mereka, Bibel adalah God’s Word, yang tidak mungkin salah. Karena al Qur’an berani mengkritik dengan sangat tajam kata-kata Tuhan di dalam Bibel, maka aI Qur’an bersumber dari setan. [7]

Tentunya hal ini tidak lantas dibiarkan begitu saja, para pemikir islam melakukan tindakan defemsif , dengan cara menjawab segala hujatan-hujatan atau pertanyaan yang dilontarkan oleh kaum orientalis tersebut diatas.

Dan tentunya para pemikir islam pun, tidak lantas hanya mengedepankan argumen yang tanpa bukti, namun mereka mencoba memberikan tanggapan dengan pendekatan secara historis dan juga ilmu-ilmu kekinian (Modern).

Dan hal ini pula yang memberi daya tarik tersendi bagi penulis untuk mengkaji apa yang sebenarnya terjadi dalam “perang pemikiran’, para kaum orientalis dan para pemikir islam. Yang tentunya banyak pendapat-pendapat yang dapat diambil hikmah pun ilmu bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.

1.2 Identifikasi Masalah

Seperti yang telah penulis ungkapkan diatas, penulis mempunyai tujuan tersendiri dalam penulisan karya tulis ini. Namun dengan tetap berpegangan pada latar belakang penulisan yang dituliskan diatas, penulis mencoba untuk menspesifikasikan alur tulisan yang ingin enulis uraikan dalam karya tulis ini, yang antara lain :

1. Bagaimana awal mula terbentuknya faham dan atau kaum orientalis ?

2. Hujatan atau tudingan apa saja yang dilontarkan kaum orientalis terhadap muatan hukum dan eksistensi Al Qur’an ?

3. Dan bagaimana para tokoh Muslim menganggapi dan menjawabnya ?

B A B I I

O R I E N T A L I S D A N A L Q U R ’ A N

(TINJAUAN SEJARAH)

2.1 Kaum Orientalis (Penelusuran Teori dan Sejarah)

Sebelum kita masuk pada pembahasan yang lebih lanjut, penulis ingin menyampaikan tentang definisi atau arti dari kata orientalis itu sendiri .

Dalam tata bahasa, Orientalis diambil dari kata Oriental yang artinya, “(Adat istiadat atau bentuk atau ciri-ciri/ tabiat) ketimuran (Asia)”.[8] Lalu jika kata tersebut memakai imbuhan –is dibelakang, maka akan mengandung arti ‘ahli barat yang mempelajari timur”[9] , sedangkan untuk paham nya sendiri biasa disebut orientalisme.

Atau jika merujuk pada tulisan DR.Abdul Mun’im Hasanain, bahwa Asal kata Orientalis bahasa Arabnya al istisyraaq, mashdar fiil: Istasyraqa. Artinya, mengarah ke Timur dan memakai pakaian masyarakatnya.[10]

Dengan ini penulis menyimpulkan, Orientalis merupakan studi yang dilakukan intelektual Barat untuk mempelajari situasi Timur; khususnya yang menyangkut sejarah, agama, bahasa, etika, seni, tradisi, dan adat-kebiasaannya

Adapun kegiatan orientalis itu sendiri sudah ada sejak lama, yaitu sejak abad kesepuluh Masehi. Sebagai motor penggerak kegiatan ini ialah dendam perang Salib antara orang-orang Eropa dengan kaum Muslimin. Setelah selesai perang itu yang menyebabkan raja-raja Kristen banyak yang memeluk islam, seperti Mesir, Siria, Afrika Utara dan Andalusia. Yang mendorong timbulnya kebencian kaum salib terhadap Islam ialah karena mengingkari kepercayaan trinitass, penyaliban Isa (Yesus) dan penebusan dosa, padahal ketiga hal ini merupakan asas agama Masehi.[11]

Hal lain yang mendorong kegiatan orientalis ialah mereka hendak melakukan pengabdian terhadap Negara-negaranya (Eropa Barat) di dunia Arab, dalam melakukan ekspansi politik. Dengan kata lain kegiatan orientalis itu adalah dalam rangka melakukan pengabdian kepada imprealisme.[12]

Lebih lanjut Ibrahim laban menatakan: Sesungguhnya adanya kegiatan orientalis itu merupakan problema budaya dan problema agama yang besar bagi kaum Muslimin, karena pemikiran kaum orientalis tersebut telah merembet ke beberapa instansi pendidikan Islam.[13]

2.2 Munculnya Pendekatan Orientalis Terhadap al Qur’an di Abad Ke-19

Khusus berkaitan dengan studi al Quran, tujuan orientalisme bukanlah untuk mengimani dan mengamalkan al Quran, melainkan untuk membuat keraguan terhadap keabsahan al Quran sebagai wahyu Allah. Hal itu tidak mengherankan, sebab asumsi dasar orientalisme memang bukan keimanan, tetapi kekafiran sekaligus kebencian dan kedengkian yang mendalam terhadap Islam. Ini bisa dibuktikan dengan sikap mereka yang sangat kurang ajar terhadap Rasulullah saw.[14]

Dengan maksud hendak membuktikan moralitas dan superioritas teologi Barat, Bergtrasser, Jeffery, Mingana, Pretzl, Tisdal dan banyak lagi lainnya, telah mencurahkan seluruh kehidupannya guna menyingkap perubahan teks Al-Qur’an yang, katanya, tidak mereka dapatkan dalam kajian kitab Injil.[15] Karena banyak sekali perbedaan yang memenuhi halaman-halaman dalam Kitab Injil,

Sebenarnya, orientalis yang termasuk pertama kali menunjukkan Al ­Qur’an sangat terpengaruh dengan ajaran-ajaran Kristen, adalah Wright dengan karyanya Early Christianity in Arabia (1855). Teori pengaruh Kristen terhadap Al-Qur’an dikem­bangkan lagi oleh Louis Cheikho (m. 1927) dalam karyanya berjudul AI-Nasraniyyah wa adabuha bayn `Arab al­ Jahiliyyah. Cheikho mengkaji secara mendalam literatur Kristen yang ada di dunia Arab. Ia merujuk kepada karya-karya klasik, yang sangat jarang dijumpai. Tujuannya untuk me­nunjukkan kesusastraan agama Kristen sudah mapan di tanah Arab. Ia mengkaji kata-kata, nama-nama Kristen yang diguna­kan oleh orang-orang Arab yang tersebar di Syam, Iraq, Yaman, Hijaz, Najd. Bagaimanapun, tidak semua nama-nama yang ada di buku tersebut ada juga di dalam Al-Qur’an.[16] Hal yang sama juga dilakukan oleh Julius Wellhausen, yang menulis sebuah buku berjudul Reste arabischen Heidentums (Sisa Paganisme Arab), pertama kali terbit pada tahun 1877.[17]

Friedrich Schwally, berbeda pendapat dengan Noldeke. Ketika merevisi Geschichte des Qorans, Schwally mengungkapkan pengaruh Kristen lebih dominan di dalam Islam dis­banding Yahudi.[18]

Selain itu, Wilhelm Rudolph, seorang pakar Perjanjian Lama dan meraih gelar doktor pada tahun 1920, menulis disertasinya berjudul Die Abhangigkeit des Qorans von Judentum und Christentum (Ketergantungan Al-Qur’an terhadap Yahudi dan Kristen). Disertasi tersebut diterbitkan di Stuttgart pada tahun 1922. Dalam disertasinya, Rudolph me­nyimpulkan bahwa sebenarnya Islam berasal dari Kristen (Islam is actually vom Christentum ausgegangen). Dalam pan­dangan Rudoph, Kristen adalah `buaian Islam’ (die Wiege des Islam).[19]

Senada dengan Rudolph, Tor Andrae menulis (Der Ursprung des Lslams und das Christentum (Asal Mula Islam dan Kristen).[20] Tor Andrae berpendapat bahwa ajaran-ajaran AI-Qur’an memiliki contoh-contoh yang jelas dalam Literatur Syiriak (die Predigt des Qorans hat bestimmte Vorbilder in der syirischen Literatur).[21] Andrae menyatakan: “Konsep kenabi­an sebagai sesuatu yang hidup dan aktual, sesuatu yang milik sekarang dan akan datang, sukar, sejauh yang aku lihat, mun­cul di dalam jiwa Muhammad jika ia tidak mengetahui menge­nai nabi-nabi dan kenabian yang telah diajarkan Yahudi dan Gereja-Gereja Kristen di Timur.” [22]

Menegaskan pengaruh Kristen terhadap Al Qur’an, Richard Bell (m. 1953) menulis sebuah buku berjudul The Origin of Islam in its Christian Environment (London: 1926). Di da­lam buku tersebut, Bell berpendapat pengaruh tersebut datang dari tiga pusat: Syiria, Mesopotamia dan Ethiopia. Bell meneliti ilmu pengetahuan Kristen yang berada di Arab Selatan (South Arab) sebelum kedatangan Islam. Menurut Bell, puisi­puisi yang ada sebelum munculnya Islam menyentuh aspek­aspek Kristen seperti gereja, tempat-tempat ibadah, gong dan bel, acara-acara seremonial Kristen dan lainnya. Bell juga berpendapat bahwa kosa kata Aramaik dan Ethiopia yang digunakan oleh orang-orang Kristen, diketahui oleh Muhammad, yang selanjutnya memasukkannya ke dalam AI-Qur’an.[23]

Pada tahun 1927, Alphonse Mingana (m. 1937), seorang pendeta Kristen asal Iraq, menulis sebuah essai yang memuat pengaruh Syiriak kepada Al Qur’an. Mingana berpendapat ada 100 % pengaruh asing kepada Al Qur’ an. Ethiopia mewa­kili 5 %, lbrani 10 %, bahasa Yunani-Romawi 10 %, Persia 5 % dan Syiriak 70 %. Pengaruh Syiriak kepada A1 Qur’an ada di dalam enam perkara. Pertama, nama-nama diri, seperti Sulayman, Fir`aun, Ishaq, lsma`il, Isra’il, Ya`qub, Nuh, Zaka­riyya dan Maryam. Kedua, istilah-istilah agama seperti Kahin, Masih, Qissis, Din, Safarah, Mithl, Furqan, Taghut, Rabba­niyy, Qurban, Qiyamah, Malakut, Jannah, Malak, Ruh al­Quds, Nafs, Waqqara, Ayah, Allah, Salla, Sama, Khata, Kafara, Zabaha, Tajalla, Sabbaha, Qaddasa, Hub, Tuba dan lainnya. Ketiga, kata-kata umum seperti Qur’an, Husban, Muhaymin, Nun, Tur, Tabara, Shani, Bariyyah, Aqna, Hanan, Abb, Misk, Maqalid, Istabraq dan lain-lain. Keempat, ortografi yang mengkhianati pengaruh Syiriak. Kelima, konstruksi kalimat-kalimat seperti dalam beberapa ayat Al Qur’an. Keenam, referensi-referensi sejarah yang asing seperti legen­da Alexander yang Agung (Alexander the Great), Majusi, Nasara, Hanif, dan Rum.[24]

Selain itu, K. Ahren menulis Christlisches im Koran. Eine Nachlese (Kristen di dalam Al-Qur’an: Sebuah Investigasi). Ahren berpendapat bahwa pengaruh Kristen terhadap Muhammad di Mekkah bukan saja begitu mendalam, bahkan argumentasi Muhammad untuk menentang Kristen sebenar­nya berasal dari fraksi-fraksi Kristen.[25]

Teori pengaruh kosa-kata asing kepada Al Qur’an juga melebar kepada budaya dan agama lain. W. St. Clair-Tisdall, seorang misionaris Inggris untuk Isfahan, berpendapat Islam bukan hanya dipengaruhi oleh Yahudi dan Kristen, tetapi juga oleh unsur-unsur budaya asing. Tisdall menegaskan Islam itu bukan bersumber dari ‘langit’, tapi bersumber dari ragam aga­ma dan budaya. Menurut Tisdall, konsep Islam tentang Tuhan, haji, cium hajar aswad, menghormati kabah, semuanya diam­bil dari budaya jahiliyyah. Shaiat 5 waktu dari tradisi Sabian. Kisah Nabi Ibrahim, Sulayman, Ratu Balqis, Harut Marut, Habil Qabil dari Yahudi. Ashabul Kahfi dan Maryam dari Kristen. Tidak ketinggalan dari Hindu dan Zoroaster, yaitu Isra’ NIi`raj dan jembatan (sirat) di hari kiamat.[26]

Dengan memanfaatkan semua karya para orientalis sebe­lumnya, Arthur Jeffery menulis The Foreign Vocabulary of the Qur’an (Kosa Kata Asing Al Qur’an). Jeffery, yang konon menguasai 19 bahasa,[27] berpendapat dengan melacak kata­kata tersebut kembali kepada sumbernya, maka sejauh mana pengaruh yang terjadi kepada Muhammad dalam berbagai periode misinya akan dapat diperkirakan. Selain itu, dengan mengkaji istiiah-istilah agama di dalam literatur asal yang kontemporer dengan Muhammad, maka kadang-kadang apa yang Muhammad sendiri maksudkan dengan menggunakan istilah-istilah tersebut di dalam Al Qur’an akan dimengerti dengan lebih akurat.

“(By tracing these words back to their sources we are able to estimate to some extent the influences which were working upon Muhammad at various periods in his Mission, and by studying these religious terms in their na­tive literature contemporary with Muhammad, we can some­times understand more exactly what he himselfmeans by the terms he uses in the Qur’an).[28]

Jeffery ingin menganalisa secara kritis Al Qur’an, suatu analisa yang belum dilakukan oleh para mufassir Muslim de­ngan memuaskan. Jeffery mengklaim tafsir Al-Qur’an yang diproduksi oleh para mufassir Muslim tidak kritis dan belum memuaskan karena tidak memuat pengaruh bahasa asing. Ia berpendapat Al-Qur’an bukan saja berada di bawah pengaruh miliu Yahudi-Kristen, bahkan juga terpengaruh dengan miliu yang lain. Menurut Jeffery, bahasa Al-Qur’an tidak terlepas dari pengaruh berbagai bahasa seperti Ethiopia, Aramaik, Ibrani, Syriak, Yunani kuno, Persia dan bahasa lainnya. Ini di­sebabkan pada zaman Rasulullah saw, Arab tidaklah terisolasi dari dunia luar. Saat itu, orang Arab sudah berinteraksi dengan budaya lain seperti Persia, Syiria dan Ethiopia. Interaksi tersebut secara alami menghasilkan pertukaran kosa kata.[29]

Tentunya Perbagai pendapat para orientalis mendapat kecaman dan perlawanan dari kaum ulama, atau pemikir islam yang akan saya jelaskan di Bab berikutnya.

B A B I I I

P A N D A N G A N O R I E N T A L I S

T E R H A D A P M U A T A N H U K U M A L Q U R ’ A N

3.1 Metode Orientalis Dalam Studi Al Qur’an

Dewasa ini, islamolog barat mengembangkan studi Islam dalam bidang Quranic Studies diberbagai Universitas di Eropa Barat dan Amerika. Perhatian dan kecenderungan islamolog Barat dalam studi Al Qur’an perlu diidentifikasi, baik pada konsep subtansialnya maupun dalam metodologinya. Karena dengan mengidentifikasi metode yang mereka gunakan dapat dipahami struktur logika internal dari suatu metode pendekatan yang mengharuskan munculnya suatu konklusi. Namun apakah konklusi tersebut sesuai dengan ajaran Islam atau tidak, karena biasanya konklusi itu bercorak menurut metodologinya..

Metodologi yang dipakai sarjana barat dalam mendekati Al Qur’an ada tiga yaitu: Pendekatan historis, Pendekatan Fenomenologis, Pendekatan Historis-Fenomenologis.

3.1.1 Pendekatan Historis

Metode semacam ini muncul pada abad 19, yang dipelopori oleh Leopold Von Ranke (1795-1886). Historis berpandangan bahwa suatu entitas, baik itu intuisi, nilai-nila maupun agama berasal dari lingkungan fisik, sosio cultural dan sosio religius tempat entitas itu muncul. Prinsip historisme menurut Meinecke adalah mencari kausalitas peristiwa historis, dan kausalitas itu tidak berasal dari dunia metafisik atau trans-historis tetapi empiric sensual. Bias dari munculnya teori ini menurut Fuck-Franfurt mendorong kecendrungan dalam studi Al Qur’an di Barat yang yang mengasalkan Al Qur’an dari kitab suci tradisi Yahudi dan Kristen.[30]

Sedangkan Sarjana barat yang menggunakan metode historisme dalam studi al-Qur’an ini antara lain adalah: Maxime Rodinson, Tor Andre, A. Jeffery dan lain-lain. Namun dalam penjelasan ini kami hanya akan menjelaskan pendapatnya J. Wasbrough yang mengasalkan al Qur’an dari Tradisi Yahudi dan Perjanjian Lama dan Richard Bell yang mengasalkan al Qur’an dari tradisi dan kitab suci Kristen.[31]

Menurut Wansbrough (1977), Ajaran tentang kemukjizatan Al Qur’an dipandang sebagai imitasi dari tradisi Yahudi tentang Taurat Musa, sehingga kumpulan ucapan dalam al-Qur’an dinaikkan derajatnya menjadi kitab suci yang mutlak kebenaranya.

Richard Bell mengatakan, al Qur’an berasal dari ajaran Kristen. Pengaruh Kristen menurut Bell belum terjadi pada masa akhir Makkah dan awal Madinah. Indikasinya ialah surah Al-Ikhlas. Menurut Bell surat tersebut bukan polemik antara Muhammad dan orang Kristen, tetapi kepada orang musrik yang percaya bahwa Allah mempunyai tiga anak perempuan. Surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5 yang menjelaskan manusia dari segumpal darah juga bukan konsep dari Bibel. Karena dari konsep Bibel manusia itu diciptakan dari tanah. Pada fase berikutnya terdapat kesamaan antara al Qur’an dan Bibel, misalnya penolakan penyaliban Yesus, yang diambil dari satu sekte Kristen di Syiria[32]

Bell berpendapat bahwa wahyu yang dialami Muhammad merupakan peristiwa natural, bukan peristiwa supranatural. Pengetahuan tentang agama Kristen diaktualkan sebagi wahyu melalui trance-medium (keadaan tak sadar) dalam suasana mistik seperti kehidupan para dukun.[33]

Bell mengartikan wahyu dengan sugesti yang muncul sebagai kilasan Inspirasi, baginya sugesti terjadi secara natural.[34]

3.1.2 Pendekatan Fenomenologis

Fenomologi di ambil dari bahasa Yunani, Phainestai, artinya “menunjukan dan menampakkan dirinya sendiri”. Hurssel menggunakan istilah fenomonologis untuk menunjukkan apa yang tampak dalam kesadaran kita dengan membiarkan termanifestasi apa adanya tanpa memasukkan buah pikiran kita kedalamnya, atau menurut Husserl: “Zuruck zuden zuden sachen selb” (kembalilah kepada realitas itu sendiri). Fenomenologi Husserl bertujuan mencari suatu fenomena dalam mencari esensi bermula dari membiarkan fenomena itu termanisfestasi apa adanya tanpa dibarengai prasangkan.[35]

Pendekatan semacam ini tidak melacak asal-usul suatu intuisi, tetapi dengan mengidentifikasi struktur internalnya. Tokoh-tokoh yang memakai pendekatan ini dalam studi al Qur’an antara lain: Roest Crolius, Maurice BUcaille, Marcel A dan lain-lain. Namun kami akan memunculkan pemikiranya Marcell A. Bouisard yang tidak melihat sisi formal al Qur’an sebagai firman Allah, tetapi sisi subtansinya. Boisard memandang bahwa nabi Muhammad adalah nabi yang sebenarnya. Muhammad hanya sebagai penyambung lidah wahyu yang abadi. Boisard juga memandang al Qur’an berisi kebenaran universal dan bukan buatan manusia tetapi adalah wahyu Allah.[36]

3.1.3 Pendekatan Historis-Fenomenologis

Pendekatan ini mendekatkan dua metode di atas, pendekatan ini dipelopori oleh W. Montgomery Watt di lihat sebagai kegandaan sumber wahyu al Qur’an , yaitu Tuhan dan nabi Muhammad. Wahyu al Qur’an bersumber dari Allah tetapi diproduksi oleh Muhammad dalam konteks lingkungan dan sosio-religius (Yahudi dan Kristen).[37]

Watt dalam satu sisi tidak menolak Islam yang fundamelntal, tetapi disisi lain dia menerapkan pendekatan Historisme yang bertentangan dengan keyakinan Islam. Watt juga menolak malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu. Wahyu hanya dalam bentuk makna, bukan dalam bentuk lafal. Karena ada peranan Nabi Muhammad dalam subtansi wahyu, maka dari ini menurutnya dimungkinkan terhadinya keliru dalam al Qur’an seperti tentang penolakan penyaliban Yesus dalam al Qur’an (QS 4:157). Ajaran seperti ini menurut Watt diambil Muhammad dari sekte Kristen Syiria yang keliru.[38]

Watt berkesimpulan bahwa dengan keterlibatan Nabi Muhammad dalam subtansi wahyu, maka bisa terjadi kekeliruan dalam al Qur’an bila kekeliruan seperti penolakan Yesus dihilangkan, maka Islam dan Kristen bisa bersatu.[39]

Maka dari pendekatan metodologi yang mereka gunakan dalam studi al-Qur’an menghasilkan berbagai golongan aliran orientalis dalam mengkaji al-Qur’an khususnya. Dimana golongan itu secara garis besar dibagi antar Orientalis yang mengkaji al Qur’an atau Islam secara objektif dan subjektif.

3.2 Pandangan Orientalis Terhadap Muatan Hukum Al Qur’an

Salah satu tuduhan yang paling keji yang pernah dilontarkan oleh kaum orientalis adalah bahwa al Qur’an tiada lain adalah karangan Muhammad saw, beliau menyusunnya dengan comot sana comot sini dari Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dengan kata lain dalam pandangan mereka, Islam adalah agama canmpuran yang merupakan kombinasi antara Yahudi, Kristen dan inovasi pribadi dari Muhammad saw. Sehingga menurut mereka tidak heran ketika al-Qur’an banyak menyebutkan legitimasi terhadapnya untuk menjelaskan al Qur’an itu sendiri.[40]

Abraham Geiger (1810-874), seorang intelektual dan pendiri gerakan Yahudi Liberal di Jerman, mengajukan teori mengenai pengaruh Yahudi terhadap al-Qur’an. Pada tahun 1833, dalam esainya yang berjudul “Apa Yang Telah Muhammad Pinjam Dari Yahudi ?”, memaparkan sejumlah indikasi bahwa al-Qur;an merupakan imitasi dari Taurat dan Injil antara lain dari segi kosa kata yang berasal dari bahasa Ibrani yaitu. Taabuut, Tauraat, Jahannam, Taaghuut, dan sebagainya. Selain itu, Geiger juga berkeyakinan bahwa muatan al Qur’an sangat terpengaruh oleh agama Yahudi seperti penjelasan al Qur’an mengenai: (a) hal-hal yang menyangkut keimanan dan doktrin, (b) peraturan-peratuan hukum dan moral dan (c) pandangan tentang kehidupan.[41]

Mengenai ayat-ayat di dalam al Quran yang mengecam Yahudi, Geiger berpendapat bahwa kecaman itu disebabkan Muhammad telah menyimpang dan salah mengerti tentang doktrin-doktrin agama Yahudi.

Theodor Noldeke, seorang pendeta Kristen yang berasal dari Jerman juga menyoroti beberapa hal yang disebutnya sebagai ketidakakuratan Al-Qur’an.. Orientalis yang satu ini mengukur kebenaran al Qur’an dari Bibel. Maka, apa pun yang terkandung di dalam al Qur’an yang bertentangan dengan Bibel akan dianggap salah. Seperti penolakan al Qur’an terhadap penyaliban Nabi Isa.[42]

Pendapat Thedodor Noldeke ini, diamini oleh Ricordo. Namun dia menambah bahwa Muhammad terdapat kesalahpahaman terhadap konsepsi-konsepsi biblical atau dogmatic Kristen, seperti masalah trinitas, penyaliban Isa, dan lainya.

Arthur Jeffery, orientalis yang pernah mencoba membuat al Qur’an edisi kritis, berpendapat bahwa kosa kata asing di dalam al Qur’an mesti diteliti dan dirujuk hingga ke sumber asalnya. Dengan cara demikian, ia berharap bisa memahami sumber-sumber yang mempengaruhi Muhammad saw. dalam mengajarkan risalahnya. Karena menurutnya Muhammad termasuk orang yang haus darah, sehingga kebanyakan hukum yang terkandung dalam al Qur’an bersifat tidak humanis. Pola pikir ini bermula dari sebuah konsep yang subjektif, yaitu bahwa Muhammad saw. adalah penulis al Qur’an yang sebenarnya.. dimana ayat-ayat al-Qur’an banyak dihasilkan dari pada apa yang dilihat oleh Muhammad disekitarnya, seperti menyebarkan Islam dengan pedang, hukum rajam, qhisas dan lain-lain.[43]

Antonius Waleus, pendiri dan retor Semanirium Indicum, (1622-1632), dalam karyanya yang berjudul Opera Omnia, mengatakan bahwa al-Qur’an merupakan kitab suci yang disimpangkan dan penuh dengan pemikiran yang saling bertentangan. Seperti beberapa penggalan ayat yang menerangkan tentang Tuhan, yang digambarkan dengan wujud fisik yang sedang duduk atau berada di atas Kursi.[44]

Tidak hanya itu, beberapa kandungan hukum al-Qur’an, banyak bertentangan dengan hukum moral dan hukum ketuhanan. Yang berkaitan dengan moral seperti legitimasi seorang dapat kawin lebih dari satu, di mana hal ini merupakan pelecehan seksual terhadap kaum perempuan.

Dan pula, menurutnya kandungan hukum al Qur’an, sebut saja hukum pidana, banyak bersifat lokal dan tidak humanis, seperti hukum rajam, qishas dan lain-lain. Ini semua menurutnya (Kenneth Cragg) pengadopsian dari budaya yang berlaku ketika itu. Lebih pedas lagi ketika dia mengatakan bahwa sebenarnya Muhammad termasuk orang paling kejam dan paling berbahaya yang harus di hancurkan baik orangnya maupun Aqidahnya, sebab dia yang menyebabkan pertarungan antara saudara dan permusuhan antara sukunya sendiri, seperti pertarungan antara orang Qurais sendiri dan suku-suku lainya. Sebab ajaran baru yang dibawanya membiaskan permusuhan antara mereka sendiri.[45]

3.3 Tudingan Orientalis terhadap Muatan Hukum Al Qur’an

Dari beberapa tudingan miring yang dilontarkan oleh beberapa orientalis terhadap muatan hukum al Qur’an khususnya dan Islam pada umumnya. Tidak lepas dari niat awal mereka dalam mengkaji al Qur’an dan Islam, dimana antara lain niat mereka adalah mengusung misi tidak lain adalah untuk melemahkan aqidah orang Islam.

3.3.1 Beberapa Tudingan Yang Fundamental

Tudingan Abraham Geiger yang mengatakan bahwa Muatan hukum al-Qur’an merupakan imitasi dari kitab-kitab terdahulu, ini bisa dibenarkan namun dalam masalah aqidah, terdapat perbedaan yang sangat mendasar, yaitu dalam al-Qur’an Allah suci dari punya anak, sedangkan dalam bible berbicara lain, seperti pengalan ayatnya yang berbunyi,

Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.” (Kejadian 6:1-2)

Sedangkan tudingan Arthur Jeffery, yang mengatakan bahwa muatan hukum al-Qur’an tidak humanis dan menyeleweng dari moral, seperti hukum rajam, qishas, dan praktik poligami. Ini tidak benar, sebab masalah seperti poligami sudah ada sebelum Islam datang. kedatangan Islam hanya membatasi dan mengatur hukum perkawinan, sebab sebelum Islam datang terdapat variasi pernikahan yang pernikahan itu jauh dari nilai moral. Pembenaran hukum qishas, rajam dan lainya, dalam al-Qur’an menurut Tafsir Jalalain terdapat kehidupan dan sangat humanis, sebab ketika dia tahu bahwa kalau dia melakukan pembunuhan atau pidana dia akan dibunuh juga atau dibalas dengan balsan yang setimpal, maka dia enggan untuk melakukkanya.[46]

Tentang tudingan orientalis yang mengatakan bahwa al-Qur’an hasil dari buatan Muhamad bukan termasuk wahyu, ini dapat dipatahkan dengan ayat yang berbunyi,

“Jika kalian tetap ragu terhadap apa yang telah kami turunkan kepada hambaku, maka datanglanlah satu surat yang semisalnya. Dan ajaklah penolong kalian selain Allah, jika kalian termasuk orang yang benar”[47]

Tidak hanya itu al-Qur’an juga menetang dengan beberapa pengagalan ayat lain, yang lebih ringan dari kandungan ayat tersebut. Sedangkan bukti sejarah tidak pernah ada orang maupun makhluk yang lain yang bisa menandingi al-Qur’an.

Sedangkan tudingan bahwa Muhammad adalah orang berbahaya yang menyebarkan angin permusuhan diantara sukunya sendiri dan keluarganya, semisal permusuhan nabi dengan pamanya sendiri (Abu Lahab), ini dapat dipatahkan dengan piagam Madianah. Dimana nabi Muhammad dapat mempersatukan umat disana.[48]

3.3.2 Beberapa Tudingan Orientalis Terhadapa Al Qur’an Beserta Jawabannya

3.3.2.1 Kritikan Orientalis Terhadap Kompilasi AI Qur’an

Tampaknya terdapat beberapa cara yang digunakan sebagai alat penyerang terhadap teks AI-Qur’an, salah satunya adalah menghujat tentang penulisan serta kompilasinya.[49]

Dengan semangat ini pihak Orientalis mempertanyakan mengapa, jika Al-Qur’an sudah ditulis sejak zaman Nabi Muhammad `Umar merasa khawatir dengan kematian para huffaz pada peperangan Yamamah, memberi tahu Abu Bakr akan kemungkinan lenyapnya Kitab Suci ini lantaran kematian mereka.[50] Lebih jauh lagi, mengapa bahan­bahan yang telah ditulis tidak disimpan di bawah pemeliharaan Nabi Muhammad sendiri? Jika demikian halnya, mengapa pula Zaid bin Thabit tidak dapat memanfaatkan dalam menyiapkan Suhuf itu? Meskipun berita itu diriwayatkan oleh al-Bukhari dan dianggap sah oleh semua kaum Muslimin, penjelasan itu tetap dianggap oleh kalangan Orientalis bahwa apa yang didiktekan sejak awal dan penulisannya dianggap palsu.

Mungkin karena kedangkalan ilmu, berlaga tolol (tajahul), atau pengingkaran terhadap kebijakan pendidikan kaum Muslimin merupakan permasalahan sentral yang melingkari pendirian mereka. Katakanlah terdapat satu naskah Al-Qur’an milik Nabi Muhammad mengapa beliau lalai menyerahkannya pada para Sahabat untuk disimak dan dimanfaatkan? Besar kemungkinan, di luar perhatian, tiap nasikh-mansukh, munculnya wahyu baru, ataupun perpindahan urutan ayat-ayat tidak akan tecermin dalam naskah di kemudian hari. Dalam masa[ah ini, beliau akan membuat informasi keliru dan melakukan sesuatu yang merugikan umatnya; kerugian yang ada dirasa lebih besar dari manfaatnya. Jika naskah itu terdapat, mengapa Zaid bin Thabit tidak memakainya sebagai narasumber di zaman pemerintahan Abu Bakr? Sebelumnya, telah saya kemukakan bahwa guna mendapat legitimasi sebuah dokumen, seorang murid mesli bertindak sebagai saksi mata dan menerima secara langsung dari guru pribadinya. Jika unsur kesaksian tidak pernah terwujud, adanya buku seorang ilmuwan yang telah meninggal dunia, misalnya, akan menyebabkan kehilangan nilai teks itu. Demikianlah apa yang dilakukan oleh Zaid bin Thabit. Dalam mendikte ayat-ayat Al Qur'an kepada para Sahabat, Nabi Muhamtnad , melembagakan sistem jaringan jalur riwayat yang lebih tepercaya didasarkan pada hubungan antara guru dengan murid; sebaliknya, karena beliau tidak pernah menyerahkan bahan-bahan tertulis, maka tidak ada unsur kesaksian yang terjadi pada naskah kertas kulit yang dapat digunakan sebagai sumber utama untuk tujuan perbandingan, baik oleh Zaid maupun orang lain.[51]

Tetapi jika keseluruhan Al Qur’an telah direkam melalui tulisan semasa kehidupan Nabi Muhammad dan disimpan baik dalam pengawasan beliau maupun para Sahabat, mengapa pula `Umar takut kehilangan Al Qur’an karena syahidnya para huffaz? Hal ini, sekali lagi, menyangkut tentang hukum persaksian.[52]

Dengan jumlah yang ribuan, para huffaz memperoleh ilmu pengetahuan Al-Qur’an mela]ui satu-satunya otoritas yang saling beruntun di muka bumi ini yang, akhirnya, sampai pada Nabi Muhammad SAW. Setelah beliau wafat, mereka (para sahabat) menjadi sumber otoritas yang juga saling beruntun; kematian mereka hampir-hampir telah mengancam terputusnya kesaksian yang berakhir pada Nabi Muhammad, yang mengakibatkan untuk mendapat ilmu yang diberi otoritas kurang memungkinkan. [53]

Demikian juga apabila mereka mencatat ayat-ayatnya menggunakan tulisan tangan akan kehilangan nilai sama sekali, karena pemiliknya sudah masuk ke liang lahat dan tidak dapat memberi pengesahan tentang kebenarannya. Kendati mungkin terdapat secercah bahan tulisan yang secara tak sengaja persis sama dengan Al Qur’an seperti yang dihafal oleh yang lain, selama masih terdapat saksi utama yang sesuai, ia akan menjadi paling tinggi, menempati urutan ke tiga dari dokumen yang sah. Itulah sebabnya dalam membuat kompilasi Suhuf, Abu Bakr bertahan pada pendiriannya bahwa setiap orang bukan saja mesti membawa ayat, melainkan juga dua orang saksi guna membuktikan bahwa penyampaian bacaan itu datang langsung dari Nabi Muhammmad SAW (kita temukan hukum kesaksian ini juga dihidupkan kembali di zaman pemerintahan `Uthman).[54]

3.3.2.2 Perubahan Istilah Islam pada Pemakaian Ungkapan Asing

Cara kedua masuknya serangan terhadap Al Qur’an adalah melalui perubahan besar-besaran studi keislaman menggunakan peristilahan orang Barat. Dalam karyanya Introduction to Islamic Law, Schacht membagi fiqih Islam kepada judul-judul berikut: orang (persons), harta (property), kewajiban umum (obligations in general), kewajiban dan kontrak khusus (obligations and contracts in particular), dan lain-lain.[55]

Susunan seperti ini sengaja diperkenalkan hendak mengubah hukum Islam pada hukum Romawi yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan topic bahasan serta pembagi­annya yang digunakan dalam sistem perundang-undangan Islam. Wansbrough melakukan hal yang sama terhadap Al Qur’an dengan membagi Quranic Studies menurut ketentuan berikut: Prinsip-prinsip penafsiran (Principles of Exegesis) (1) Tafsiran Masoreti (Masoretic exegesis); (2) Penafsiran Hagadi (Haggadic exegesis); (3) Deutungsbedurftigkeit; (4) Penafsiran Halaki (Halakhic exegesis); dan (5) Retorika dan simbol perumpamaan (Rhetoric and allegory).[56]

Tafsir-tafsir seperti ini menghabiskan lebih dari separuh buku yang ditulis di mana jika saya bertanya pada para ilmuwan Muslim baik dari Timur mau pun yang berlatar belakang pendidikan Barat, tak akan mampu memahami semua daftar isi buku tersebut. Barangkali hanya seorang pendeta Yahudi yang dapat menjelaskan peristilahan Perjanjian Lama, namun hal ini akan sama nilainya seperti seorang pendeta memaksakan baju tradisi mereka pada seorang sheikh. Mengapa mereka begitu bergairah mengubah istilah Islam, di mana tujuannya tak lain hendak memaksakan sesuatu yang di luar jangkauan bidang para ilmuwan Muslim, guna menunjukkan bahwa hukum mereka bersumber dari Yahudi dan Kristen?

3.3.2.3 Tuduhan Orientalis terhadap Penyesusian

Hal ini akan menggiring memasuki cara ketiga dalam menyerang terhadap Al Qur’an: perulangan tuduhan yang ditujukan kepada Islam hanya merupakan pemalsuan terhadap agama Yahudi dan Kristen, atau bagian dari sikap curang dalam memanfaatkan literatur Kitab Suci untuk kepentingan sendiri. Wanshrough, sebagai seorang penggagas tak tergoyahkan dalarn pemikiran ini tetap ngotot, misalnya, ia menyatakan,

Doktrin ajaran Islam secara umum, hahkan ketokohan Muhammad, dihangun di atas prototype kependetaan agama Yahudi.”[57]

Disini, kita hendak mengkaji rasa sentimen ke dua orang ilmuwan tersebut yang menulis menggunakan alur pemikiran yang senada.

1) Tuduhan dan Penyesuaian Kata yang Merusakkan

Dalam satu artikel Encyclopedia Britannica (1891)[58] Noldeke, tokoh Orientalis, menyebutkan banyak kekeliruan di dalam Al Qur’an karena, kata­nya, “kejahilan Muhammad” tentang sejarah awal agama Yahudi – kecerobohan nama-nama dan perincian yang lain yang la curi dari sumber-sumber Yahudi. Dengan membuat daftar kesalahan la menyebut:

[Bahkan] orang Yahudi yang paling tolol sekalipun tidak akan pernah salah menyebut Haman (menteri Ahasuerus) untuk menteri Fir’aun, ataupun menyebut Miriam saudara perempuan Musa dengan Maryam (Miriam) ibunya al-Masih…. [Dan] dalam kebodohannya tentang sesuatu di luar tanah Arab, ia menyebutkan suburnya negeri Mesir-di mana hujan hampir-hampir tidak pernah kelihatan dan tidak pernah hilang-karena hujan, dan bukan karena kebanjiran yang disebabkan oleh sungai Nil.[59]

Ini merupakan satu upaya yang menyedihkan hendak mengubah wajah Islam menggunakan istilah orang lain, siapa orangnya yang menyebut bahwa Fir’aun tidak memiliki seorang menteri yang bernama Haman, hanya karena tidak disebut dalam Kitab Suci yang terdahulu? Dalam kebohongannya Noldeke tidak malu menunjuk bahwa Al Qur’an menyebut Maryam (Ibu al­Masih) sebagai “saudara perempuan Harun”,[60] bukan Musa. Harun ada di jajaran terdepan dalam kependetaan orang-orang bani Israel; yang menurut Perjanjian Baru, Elizabeth, saudara sepupu Maryam dan juga ibunya Yunus, semua lahir dari keluarga pendeta, lantaran itu merupakan “anak-anak perempuan Harun.”[61]. Dengan kepanjangan itu, kita dapat secara meyakinkan mengatakan baik Maryam atau Elizabeth sebagai “saudara-saudara perempuan Harun” atau “anak-anak perempuan `Imran” (ayah Harun).[62]

Apakah tuduhan Noldeke mengenai kesuburan negeri Mesir? Membanjirnya Sungai Nil adalah karena di sebagian daerah, sumber utama, karena adanya perbedaan curah hujan, seperti telah dibuktikan para pakar lingkungan, namun demikian mari kita singkirkan terlebih dulu akan hal ini dan lihatlah ayat 12: 49 yang mengatakan:

“Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia akan diselamatkan, dan di masa itu mereka memeras anggur.”[63]

2) Sebuah Injil Palsu

Ini satu tuduhan lagi yang dialamatkan terhadap Al Qur’an oleh Hirschfeld.[64] Jika kata Injil ditujukan pada Perjanjian Baru, mari kita ingat kembali dua doktrin utama dalam agama Kristen: Dosa Warisan dan Penebusannya. Yang pertama adalah warisan otomatis yang ada pada setiap insan, karena mereka keturunan Adam, sedang yang ke dua karena terbentuknya kepercayaan bahwa Tuhan telah mengorbankan satu-satunya Anak yang lahir ke dunia sebagai penghapus dosa. Tetapi Al Qur’an dengan tegas menolak kedua-duanya:

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. “[65]

“Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”[66]

Trinitas dan penyelamatan melalui al-Masih, sebagai esensi ajaran Kristen, tidak diberi peluang sama sekali dalam Al Qur’an, sementara cerita­-cerita Injil yang ada tidak lebih dari sekadar masalah kesejarahan, bukan keyakinan ideologi.

“Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak seorang pun yang setara dengan Dia. “[67]

Jadi, sebenarnya di manakah asal usul pemalsuan itu? Adapun mengenai penyesuaian dari Perjanjian Lama (sebagaimana dituduhkan oleh Wansbrough, Noldeke, dan lainnya), apa perlunya Nabi Muhammad mengungkapkan satu Kitab Suci yang menggambarkan Yahweh sebagai Tuhan yang bersifat kesukuan, bahkan tidak dihubungkan dengan kaum Samaritan dan kaum Edomit, tetapi semata-mata pada Bani Israel? Sejak awal pembukaan kitab, kita dapati Al Qur’an mengatakan:

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. “[68]

Ini merupakan sebutan universal sifat Allah, yang melintasi batas kesukuan dan bangsa berlandaskan pada ketentuan keimanan. Seseorang tentunya tidak akan dapat menempel buah mangga yang gemuk atau subur pada satu cabang berduri dari sebatang pohon kaktus yang rapuh.

B A B I V

K E S I M P U L A N

Seperti yang telah penulis sampaikan di Bab pendahuluan, penulis membatasi kerangka penulisan pada 3 (empat) hal (dapat di buka di halaman 3). Maka penulis pun menympulkan bahwa :

  1. Orientalis merupakan studi yang dilakukan intelektual Barat untuk mempelajari situasi Timur; khususnya yang menyangkut sejarah, agama, bahasa, etika, seni, tradisi, dan adat-kebiasaannya. Adapun kegiatan orientalis itu sendiri sudah ada sejak lama, yaitu sejak abad kesepuluh Masehi. Sebenarnya, orientalis yang termasuk pertama kali menunjukkan Al ­Qur’an sangat terpengaruh dengan ajaran-ajaran Kristen, adalah Wright dengan karyanya Early Christianity in Arabia (1855). Teori pengaruh Kristen terhadap Al-Qur’an dikem­bangkan lagi oleh Louis Cheikho (m. 1927) dalam karyanya berjudul AI-Nasraniyyah wa adabuha bayn `Arab al­ Jahiliyyah. Cheikho mengkaji secara mendalam literatur Kristen yang ada di dunia Arab. Dalam perkembangan pada abad kekinian, sebenarnya orientalis memunculkan beberapa tokoh seperti : Bergtrasser, Jeffery, Mingana, Pretzl, Tisdal.
  2. Dalam pendekatanya terhadap Al Qur’an, para orientalis memakai orientalis metodologi yaitu: Pendekatan historis, Pendekatan Fenomenologis, Pendekatan Historis-Fenomenologis. Salah satu tudingan orientalis yang cukup fundamental yakni, mengatakan bahwa al-Qur’an hasil dari buatan Muhamad bukan termasuk wahyu, ini dapat dipatahkan dengan ayat yang berbunyi,“Jika kalian tetap ragu terhadap apa yang telah kami turunkan kepada hambaku, maka datanglanlah satu surat yang semisalnya. Dan ajaklah penolong kalian selain Allah, jika kalian termasuk orang yang benar”. Tidak hanya itu al-Qur’an juga menetang dengan beberapa pengagalan ayat lain, yang lebih ringan dari kandungan ayat tersebut. Sedangkan bukti sejarah tidak pernah ada orang maupun makhluk yang lain yang bisa menandingi al-Qur’an.. Tudingan yang cukup tajam dilontarkan oleh Arthur Jeffery, yang mengatakan bahwa muatan hukum al-Qur’an tidak humanis dan menyeleweng dari moral, seperti hukum rajam, qishas, dan praktik poligami.
  3. Selain dari dua hal diatas, beberapa orientalis pun melontarkan beberapa tudingan seperti :

1) Tudingan tentang keberadaan kompilasi Al Qur’an pada zaman Abu bakar dan Utsman; maka para pemikir islam menjawabnya dengan beberapa fakta sejarah. Dan para ulama lebih menekankan bahwasanya, Abu bakar atau pun Utsman melakukan pengumpulan ayat Al Qur’an agar para sahabat tidak berbeda pendapat dalam hal penafsiran ataupun penyusunan makna.

2) Tudingan yang lainnya, yaitu tentang penyesuaian kata yang menganggap Muhammad salah dalam pelafalan atau pun penulisan beberapa kata. Hal ini disanggah oleh para ulama bahwasanya, segala hal yang berkenaan denan nama ataupun istilah, kembali pada hal yang fundamental,yakni bahasa yang digumnakan Al Qur’an dan menakan kan kembali bahwasanya Al Qur’an walaubagaimanapun bukaj karangan Muhammad.

3) Para orientalis pun menuding bahwa Al Qur’an sebaai pemalsuan terhadap Injil, tentunya hal ini membuat ulama kembali mengeluarkan ayat-ayat yang berkenaan dengan kehebatan Al Qur’an dibanding kitab-kitab lainnya.

Segala sesuatu yang berhubungan dengan yang berkaitan dengan pemikiran orientalis terhadap Al Qur’an, pada akhirnya seperti “Senjata Makan Tuan”, karena dengan semakin mereka mencari kesalahan Al Qur’an, maka sebenarnya merekan akan semakin mempercayai keberadaan Al Qur’an dan kehebatannya deibandingkan dengan kitab lainnya di muka bumi ini.

Dengan ini penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya.


[1] QS. al-Baqarah (2) ; 2.

[2] Adnin Armas, Metodologi Bibel Dalam Studi Al-Quran, (Jakarta: Gema Insani, 2005), Bab. 1.

[3] QS. al-Ma’idah (5): 72

[4] QS. al-Ma’idah (5): 73;QS. al-Tawbah (9): 31.

[5] QS. al-Nisa’ (4): 157.

[6] QS al-Tawbah (9): 30).

[7] Adnin Armas, Metodologi Bibel Dalam Studi Al-Quran, Bab. 1.

[8] Budiono, Kamus Ilmiah Populer Internasional, Surabaya: Alumni, 2005), hal. 459.

[9] Ibid.

[10] Abdul Mun’im Hasanain, “Propaganda Musuh Islam”,Majalah Islamic University Madina, (Agustus, 1977), hal. 79.

[11] Ahmad Muhammad Jamal, Membuka Tabir Upaya Orientalis Dalam Memalsukan Islam, (Bandung: Dipenegoro, 1991), hal. 51.

[12] Ibid,. hal. 52.

[13] Ibid.

[14] Muhammad Azhari, Introduction of Islamic Philosophy, (Gombak : IIUM Press, 2003), hal.228.

[15] Muhammad.M.Al-A’zami, The History of The Qur’anic Text (From Revelation to Compilation), (Jakarta: Gema Insani, 2005), hal. 337.

[16] Louis Cheikho, AI-Nasraniyyah wa adabuha bayn ‘Arab al-Jahiliyyah, (Beirut: Dar al-Mashriq Shamm, 1989). Ed. ke- 2, hal. 256.

[17] Muhammad Azhari, Introduction of Islamic Philosophy, hal. 228.

[18] Ibid., hal. 232.

[19] Ibid.

[20] Adnin Armas, Metodologi Bibel Dalam Studi Al-Quran, Bab. 1V.

[21] Ibid.

[22] Tor Andrae menyatakan: “The conception of prophecy as something living and actual, something that could belong to the present and to the future, could hardly, so taras I can see, have arisen in Mohanuned’s soul ifhe had known noth­ing more of prophets and prophecy than was taught by Judaism and the Chrlstian churches in the Orient.”. Theophil Menzel, The Man and His Faith, (London: Ueorge Allen & Unwin Ltd, 1936), hal. 136.

[23] Richard Bell, The Origin of Islam in its Christian Environment (London: Dreembel, 1926), hal.17.

[24] Alphonse Mingana, “Syiriac Influence on the Style of the Kur’an,” BJRL (Nopember, 1927), hal. 77.

[25] Ibid., hal. 98.

[26] Adnin Armas, Metodologi Bibel Dalam Studi Al-Quran, Bab. 1V.

[27] Ibid.

[28] Arthur Jeffery, The Foreign Vocabulary of the Qur’an, (Baroda: Oriental Institute, 1938), hal. 2.

[29] Ibid.

[30] Von Johann Fuck-Frankfurt, Die Originalitat Des Arashen Propheten, (np : Band 90, 1936), hal. 510.

[31] Ibid., hal. 311.

[32] Richard Bell, The Origin Of Islam in It’s Cristian Enviroment, (London: Macmillan, 1926), hal. 67.

[33] Moh. Natsir Mahmud, ‘Al-Qur’an DiMata Barat”, Al-Hikmah (Tk, 1414 H), hal. 9.

[34] Ricard Bell, The Origin Of Islam in It’s Cristian Enviroment , hal. 69.

[35] Samuel Ijsselina, Hermenutic and Textuality, Question Concering Phenomenology in Studies Of Phenomenology And human Science, (Atlantics Hinglands: Humanities Press, 1979), hal. 5.

[36] Moh. Natsir Mahmud, “Al-Qur’an DiMata Barat”, hal. 11.

[37] W. Montgomery Watt, Islamic Revolution in the Modern World, (Edinburgh: The University Press, 1969), hal. 55.

[38] Ibid.

[39] Ibid.

[40] Dzulhadi, Qosim Nursheha, “Islam Perdana” atawa Islam ala Orientalis?”, (www.hidayatullah.com).nd.

[41] Hidayatullah, Menelusuri Akal Busuk Orientalis@Google.com.nd.

[42] Adnin Armas, Metodologi Bibel Dalam Studi Al-Quran, Bab. 1I.

[43] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an,( Yogyakarta: FKBA, 2001), hal. 385.

[44] M. Fauzan Zenrif, Buku Ajar Ulumul Qur’an, (Malang: Fakultas Syari’ah UIN Malang, 2006), hal. 83.

[45]SKB Kepekaan Kaum Muslim”, Hidayatullah.com, (Desember, 2004).

[46]Akar Rapuh Orientalisme: Tonggak Pemikiran Liberalisme” Sidogiri.Com, nd.

[47] QS. Al-Baqarah (2): 23.

[48] Wael B Hallaq, Sejarah Teori Hukum Islam, (Jakarta: Raja Wali Press, 2001), hal. 352.

[49] Muhammad M Al-A’zami, The History of The Qur’anic Text (From Revelation to Compilation), hal. 337.

[50] Ibid. hal. 84.

[51] Ibid. hal. 90-91.

[52] Abd Hajar, Introduction to Islamic Law, hal. 81.

[53] Ibid. hal. 86.

[54] Ibid.

[55] J. Schacht, An Introduction to Islamic Law, (np: Oxford Univ. Press, 1964), Bab. II.

[56] J. Wansbrough, Quranic Studies, (np: npd,nd), Isi Kandungan.

[57] R.S. Humpreys, Islamic History: A Framework for Inquiry Revised edition, (np: Princeton Univ. Press, 1991), hal. 84.

[58] T. Noldeke , “The Koran”, Encyclopedia Britannica, (ed. ke 9, 1891), jil. 16, hal. 597.

[59] Ibid.

[60] QS. Maryam (19): 28.

[61] Lukas (1): 5. Lukas (I) : 36.

[62] J. Schacht, An Introduction to Islamic Law, Bab. III.

[63] QS. Yusuf (12): 49.

[64] A. Mingana, “The Transmission of the Koran”, Ibn Warraq (ed.), The Origins of the Koran, hal. 112.

[65] QS. al-Baqarah (2): 37.

[66] QS. al-Anaam (6): 164.

[67] QS. al-Ikhlas (1120: 1-4.

[68] QS. al-Fatihah (1): l-2.

1 Komentar

  1. Like..!!!
    Sangat membantu


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.