Jadal Qur’an

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an adalah kitab suci bagi umat Islam, yang  disampaikan Allah SWT kepada Rasulullah dengan perantaraan malaikat Jibril. Kitab ini merupakan petunjuk dan aturan hidup yang paling sempurna, yang diturunkan untuk membimbing manusia ke arah kebahagiaan dan kebaikan.

Ayat-ayat dalam Kitab Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab dan susunan kalimat-kalimatnya mengandung nilai sastra yang sangat sempurna. Bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an sedemikian menakjubkan sehingga kita tidak akan bisa menemukan ada kitab lain yang bisa menyamai keindahannya, apalagi melebihinya. Taha Husain, seorang sastrawan Mesir menyatakan, “Al-Qur’an jauh lebih indah dari prosa dan syair, karena keistimewaan yang dimilikinya tidak bisa ditemukan dalam prosa atau syair manapun. Oleh karena itu, al-Qur’an tidak bisa disebut sebagai prosa, tidak pula bisa disebut syair. Al-Qur’an adalah al-Qur’an, dan tidak bisa disamakan

Namun demikian, al-Qur’an mengandung kalimat-kalimat yang sangat halus dan  berbagai gaya bahasa sastra, seperti majaz, metafora, perumpamaan, atau penyerupaan. Dalam al-Qur’an juga terdapat ayat-ayat yang berpola atau berirama, yang jumlahnya lebih dari 100 ayat. Namun demikian, al-Qur’an memiliki perbedaan besar dengan syair. Selain itu, poin yang menarik untuk dicermati adalah bahwa al-Qur’an juga memiliki perbedaan dengan kalimat, khutbah, dan hadits dari para nabi, sehingga al-Qur’an merupakan sebuah karya yang tidak ada dua.

Hakikat-hakikat yang sudah jelas nampak dan nyata telah dapat disentuh manusia, dijelaskan oleh bukti-bukti alam dan tidak memerlukan lagi argumentasi lain untuk menetapkannya dalil atas kebenarannya. Namun demikian, kesombongan sering kali mendorong seseorang untuk membangkitkan keraguan dan mengacaukan hakikat-hakikat tersebut dengan berbagai kerancuan yang dibungkus baju kebenaran serta dihiasinya dalam cermin akal.[1]

Al-Qur’an al-Karim, seruan Allah kepada seluruh umat manusia, berdiri tegak dihadapan berbagai macam arus yang mengupayakan kebatilan untuk mengingkari hakikat-hakikatnya dan memperdebatkan pokok-pokonya. Karenanya ia perlu membungkam intrik-intrik mereka secara kongkrit dan realistis serta menghadapi mereka dengan uslub bahasa yang memuaskan, argumentasi yang pasti dan bantahan yang tegar.[2]

Secara garis besar ‘ulûm al-Qur’an terbagi kepada dua bagian, yaitu: ‘ilm al-riwayah dan ‘ilm al-dirayah. ‘Ilm al-riwayah adalah ilmu-ilmu al-Qur’an yang diperoleh melalui cara periwayatan (naql) yakni dengan cara menceritakan kembali atau mengutipnya, seperti bentuk-bentuk qira’at, waktu, tempat dan proses turunnya al-Qur’an. Ilmu-ilmu tersebut dapat diketahui melalui ‘ilm al-qira’at, ilm nuzul al-Qur’an, ilm mawathin al-nuzul, ilm asbab al-nuzul dan sebagainya.

Adapun ‘ilm al-dirayah adalah ilmu-ilmu al-Qur’an yang diperoleh dengan cara penelitian dan pengkajian, seperti mengetahui lafal-lafal yang asing (gharib), makna-makna yang menyangkut hukum dan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an. Ilmu-ilmu tersebut dapat diketahui melalui ‘ilm gharib al-Qur’an, ‘ilm al-nasikh wa al-mansukh, dan sebagainya.

T.M Hasbi al-Shiddiqiy[3] membagi ‘ulûm al-Qur’an kepada 17 macam ilmu, diantaranya:

  1. ‘Ilm Mawathin Al-Nuzul. kitab karya al-Suyuthi, al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an merupakan salah satu contohnya
  2. ‘Ilm Tawarikh Al-Nuzul contohnya kitab lubab al-nuqul fi asbab al-nuzul karya al-Wahidi.
  3. ‘Ilmu Makki wa al-Madani
  4. ‘Ilm Al-Qira’at
  5. ‘Ilm Tajwid
  6. ‘Ilm Gharib Al-Qur’an, buku yang relevan untuk kajian ini adalah al-Mufradath li Alfadz al-Qur’an al-Karim karya Al-Isfahaniy.
  7. ‘Ilm ‘I’rab Al-Qur’an contonhya karya al-Baqa’ al-Ukbari, Imla’ al-Rahman.
  8. ‘Ilm Wujuh Al-Nadzhair, ilmu ini dapat dipelajari dalam kitab Mu’tarak al-Aqran, karya al-Suyuthiy.
  9. ‘Ilm Al-Ma’rifah Al-Muhkam Wa Al-Mutasyabihat kitab yang dapat dirujuk diantaranya al-Mandzumah al-Sakhawiyyah karangan al-Syakhawiy.
  10. ‘Ilm Al-Nasikh Wa Al-Mansukh contohnya adalah kitab al-Nasikh wa al-Mansukh karya al-Ja’far al-Nuhas.
  11. ‘Ilm Badai’ Al-Qur’an
  12. ‘Ilm I’jaz Al-Qur’an
  13. ‘Ilm Tanasub Ayat Al-Qur’an, diantara kitab yang berhubungan dengan ilmu ini adalah kitab Nadzm al-Durar karangan Ibrahim al-Biqai’.
  14. ‘Ilm Aqsam Al-Qur’an, Ibn al-Qayyim membahas ilmu ini dalam kitabnya al-Tibyan Fi Aqsam al-Qur’an.
  15. ‘Ilm Amtsal Al-Qur’an, Al-Mawardi telah mengupas masalah ini dalam kitabnya Amtsal al-Qur’an.
  16. ‘Ilm Jidal Al-Qur’an
  17. ‘Ilm Adab Al-Tilawah Al-Qur’an[4]

Di samping ilmu-ilmu yang sudah disebutkan di atas, masih ada ilmu-ilmu lain yang termasuk ‘ulûm al-Qur’an, yaitu ilmu tafsir atau hermeneutika[5] (Exegesis Studies). Menurut Amin al-Khulli sebagaimana dikutip oleh Sunarwoto[6] ilmu tafsir/ ‘ulûm al-Qur’an termasuk dalam kategori ilmu yang belum matang dan belum final. Ini berarti masih terbuka lebar peluang untuk mengadakan pembaruan terus menerus, baik menyangkut penafsiran ayat-ayat tertentu maupun perangkat metodologinya. Namun demikian, pembaruan ‘ulûm al-Qur’an masih dihadapkan pada: terjadinya perluasan wilayah “tak terpikirkan” (meminjam istilah Arkoun) di mana terdapat wilayah-wilayah yang “tidak boleh dijamah” serta “dilanggar” oleh pikiran-pikiran kritis ilmiah.[7]

Dari sekian banyak pembagian ‘ulum al-Qur’an, pada pembahasan makalah kali ini penulis hanya akan fokuskan pembahasannya pada salah satu bagian saja, yaitu masalah jadal dalam al-qur’an.

B. Rumusan Masalah

Sehubungan dengan adanya latar belakang tersebut di atas kiranya dapat menjadi latar belakanng bagi penulis dalam menyusun tulisan ini, adapun batasan masalah penilisan ini adalah;

1. Apa itu jadal al-Qur’an?

2. Bagaimana metode berdebat (Jadl) yang di tempuh al-Qur’an?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah;

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud jadal dalam al-Qur’an.

2. Untuk mengetahui metode berdebat (Jadl) yang di tempuh al-Qur’an?

BAB II

PEMBAHASAN

JADAL AL-QUR’AN

  1. Jadal Al-Qur’an
  1. Defiisi Jadal Al-Qur’an

Secara bahasa jadal berasal dari kata جَدَلَ-يَجْدُلُجُدُوْلًا yang artinya صَلُبَ وَ قَوِيَ atau dalam arti lain الحَبًّ : قَوِيَ فِى سنبله[8]

Adapun secara istilah Jadal dan Jidal adalah bertukar pikiran dengan cara bersaing dan berlomba untuk mengalahkan lawan. Pengertian ini berasal dari kata جَدَلْتُ الحَبْل yakni اَحْكَمْتُ فَتْلَهُ (aku kokohkan jalinan tali itu), mengingat kedua belah pihak itu mengokohkan pendapatnya masing-masing dan berusaha menjatuhkan lawan dari pendirian yang dipeganginya.[9]

Dalam literatur lain disebutkan depinisi “Al-jadal ” dan al-jidal, maknanya bertarung dalam bentuk beradu dan tewas menewas. asal kalimat ini ialah ” saya menyimpul tali ”  yakni……apabila saya memperkemaskan simpulannya. “tali yang tersimpul” ialah tali yang telah dikemas kuatkan simpulannya.[10] Dengan maksud, seolah olah mereka yang berdebat saling memperkuatkan hujjah dan menyimpulkannya, sebagaimana beliau menguatkankan simpulan tali, supaya dengan menguatkan hujjahnya beliau akan dapat menewaskan  lawannya.

Allah menyataakan dalam al-Qur’an bahwa Jadal atau berdebat merupakan salah satu tabiat manusia

Dan manusia adalah kahluk yamh paling banyak berdebatnya”(al-Kahfi; 54)

Dengan arti bahwa sesungguhnya manusia adalah makhluk yang suka bersaing, berdebat dan selalu mempertahankan pendapat dan fikirannya masing-masing. Rasulallah juga sebagai pengenban amanat ilahi diperintahkan agar berdebat dengan kaum musyrik dengan cara yang baik yang dapat meredakan keberingasan mereka. Firman-Nya:

Serulah manusia kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik”(al-Nahl; 125)

Dalam ayat lain Allah memerintahkan agar Rasulnya tidak menuruti perdebatan mereka, malah beliau mestilah menutup pintu perdebatan itu dengan cara yang paling ringkas dengan mengatakan: Allah amat mengetahui apa yang kamu lakukan.[11] Firman Allah:

“Dan jika mereka membantah (mendebat) kamu, maka  katakanlah   Allah lebih mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Hajj: 22: 68 )

Disamping itu Allah juga memperbolehkan ber-munazarah (berdiskusi) dengan ahli kitab dengan cara yang baik.[12] Firmannya:

“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik” (al-Ankabut; 46)

  1. Metode Berdebat yang ditempuh al-Qur’an

Qur’an Al-Karim dalam berdebat dengan para penentangnya banyak mengemukakan dalil dan bukti kuat serta jelas yang dapat dimengerti kalangan awam dan orang ahli, ia membatalkan setiap kerancuan vulgar dan mematahkannya dengan perlawanan dan pertahanan dalam uslubb yang konkrit hasilnya, indah susunannya dan tidak memerlukan pemerasan akal atau banyak penyelidikan.

Qur’an tidak menempuh metode yang dipegang teguh oleh para ahli kalam yang meemerlukan adanya muqadimmah (premis) dan nafiah (kongklusi), seperti dengan cara beristidlal (inferensi) dengan sesuatu yang bersifat kully (universal) atas yang juz’iy (partial) dalam qias syumul, beristidlal dengan salah satu dua juz’iyat yang lain dalam qias tamtsil, atau beristidlal dengan juz’iyat kullly dalam kias istiqra. Hal itu disebabkan:

A. Qur’an datang dalam bahasa Arab dan menyeru mereka dengan bahasa yang mereka ketahui.

B. Bersandar pada fitrah jiwa, yang percaya kepada apa yang disaksikan dan dirasakan, tanpa perlu penggunaan pemikiran mendalam dalam beristidlal adalah lebih kuat pengaruhnya dan lebih effective hujjahnya.

C. Meninggalkan pembicaraan yang jelas, dan mempergunakan tutur kata yang pelik, merupakan kerancuan dan teka-teki yang hanya dapat dimengerti kalangan ahli (khas). Cara demikian yang biasa ditempuh para ahli mantiq (logika) ini tidak sepenuhnya benar. Karena itu dalil-dalil tentang tauhid dan hidup kembali di akhirat yang diungkapkan dalam Qur’an merupakan dalalah tertentu yang dapat memberikan makna yang ditunjuknya secara otomatis tanpa harus memasukannya ke dalam qadiyah kulliyah (universal posisition)

Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dalam kitabnya ar-Raddu’alal Mantiqiyyin”

“dalil-dalil analogi yang dikemukakan para ahli debat yang mereka namakan dan Maha Tinggi itu, sedikitpun tidak dapat menunjukan esensi Zat-Nya. Tetapi hanya menunjukan sesuatu yang mutlak dan universal yang konsepnya itu sendiri tidak bebas dari kemusyrikan. Sebab jika kita mengatakan , ‘ini adalah muhdas (baru) dan setiap yang muhdas pasti mempunyai muhdis(pencipta)’ ; atau’ini adalah sesuatu yang mungkin dan setiap yang mungkin harus mempunyai yang wajib’, pernyataan seperti ini hanya menunjukan muhdis mutlak atau wajib mutlak …… konsepnya tidak bebas dari kemusyrikan”…..Selanjutnya ia mengatakan:”Argumentasi mereka ini tidak menunjukan wajibul wujud atau yang lain. Tetapi ia hanya menunjuk kepada sesuatu yang kullyy, padahal sesuatu yang kulliyy itu konsepnya tidak terlepas dari kemusryikan. Sedang wajibul wujud, pengetahuan mengenainya, dapat menghindarkan dari kemusyrikan. Dan barang siapa tidak mempunyai konsep tentang sesuatu yang bebas dari kemusyrikan, maka ia belum berarti telah mengenal Allah ….” “ini berbeda”, lanjutnya “ dengan ayat-ayat yang disebutkan Allah dalam Kitab-Nya, seperti firman-Nya:

sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam san siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, san apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu ia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan ia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang di kendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (al-Baqarah 2: 164) dan firman-Nya:

sesungguhnya pada apa yang demikian itu terdapat tanda tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum ayng berakal, bagi kaum yang berfikir” dan lain sebagainya; memunjukan sesuatu tertentu, seperti matahari yang merupakan tanda bagi siang hari ……Dan firman-Nya:

dan kami jadikan malam dan siang sebagai tanda, lalu kami hapuskan tanda malam dan kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan.” (al-Isra 17:12)

Ayat-ayat tersebut menunjukan esensi Pencipta Yang Tunggal, Allah swt, tanpa sekat antara Dia denga yang lain. Segala sesuatu selain Dia selalu membutuhkan Dia, karena itu eksistensi segala sesuatu itu menuntut secara pasti eksistensi Pencipta itu sendiri”.

Dalil-dalil Allah atas ketauhidan-Nya, ma’ad (hidup kembali di akhirat) yang diberitakan-Nya dan bukti-bukti yang ditegakkan-Nya bagi kebenaran rasul-rasu-Nya,tidak memerlukan qiyas syumul atau qiyas tamsil. Akan tetapi dalil-dalil tersebut benar-benar tentang makna yang ditunjukkannya; dan proses perpindahan pikiran dari detil tersebut kepada madlulnya pun sangat jelas bagai proses perpindahan pikiran dari melihat sinar matahari ke pengetahuan tentang terbitnya matahari itu. Inferensi semacam ini bersifat aksiomatik (badhl) dan dapat di pahami oleh semua akal.

Berkata Az-Zarkassyi:”ketahuilah bahwa Qur’an telah mencakup segala macam dalil dan bukti. Tidak ada satu dalil pun, satu bukti atau definisi-definisi mengenai sesuatu, baik berupa persepsi akal maupun dalil naql yang universal, kecuali telah dibicarakan oleh kitabullah. Tetapi Allah mengemukakannya sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan bangsa Arab; tidak menggunakan metode-metode berfikir ilmu kalam yang rumit, karena dua hal:

Pertama, mengingat firman-Nya:” Dan kami mengutus seseorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya.” (Ibrahim 14: 4)

Kedua, bahwa orang yang cenderung menggunakan argumentasi pelik dan rumit itu sebenarnya ia tank sanggup menegakkan hujjah dengan kalam agung. Sebab, orang yang mampu memberikan pengertian(persepsi) tentang sesuatu dengan cara lebih jelas yang bisa di pahami sebagian besar orang, tentu tidak perlu melangkah ke cara yang lebih kabur, rancu dan berupa teka-teki yang hanya dipahami oleh segelintir orang . oleh karena itu Allah memamparkan seruan-Nya dalam berargumentasi dengan makhluk-Nya dalam bentuk argumentasi yang paling agung yang meliputi juga benyuk paling pelik, agar orang awam dapat memahami dari yang agung itu apa yang dapat memuaskan dan mengharuskan mereka menerima hujjah, dan dari celah-celah keagungngannya kalangan ahli dapat memahami juga apa yang sesuai dengan tingkatan pemahaman para sastrawan.

Dengan pengertian itulah hadist:”Sesungguhnya setiap ayat itu mempunyai lahir dan batin, dan setiap huruf memmpunyai suatu hadd dan matla”diartikan, tidak dengan kaum bathiniyah. Dari sisi ini maka setiap orang yang mempunyai ilmu pengetahuan banyak, tentu akan lebih banyak pula pengetahuannya tentang ilmu Qur’an. Itulah sebabnya apabila Allah menyebutkan hujjah atas rububiyah (ketuhanan ) dan wahdaniyah (keesaan-Nya) selalu dihubungkan dengan “mereka yang berakal” “mereka yang mendengar’ dengan “mereka yang berfikir dan terkadang dengan “ mereka yang mau menerima pelajaran”. Hal ini untuk mengingatkan setiap potensi dari potensi-potensi tersebut dapat digunakan untuk memahami hakikat hujjah-Nya itu. Misalnya firman Allah :

sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal.” (ar-Ra’d 13:4) dansebagainya.

Ketahuilah bahwa terkadang nampak dari ayat-ayat Qur’an, melalui kelembutan pemikiran, penggalian dan penggunaan bukti-bukti rasional menurut metode ilmiah kalam. Diantaranya ialah pembukttian tentang Pencipta ala mini hanya satu, berdasarkan induksi yang diisyaratkan dalam firman-Nya:

sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah tentulah keduamya itu telah hancur binas.”(al-Anbiya’ 21:22). Sebab, seandainya ala mini mempunyai dua pencipta, tentu pengendalian dan pengaturan keduanya tidak akan berjalan secarateratur dan kokoh, dan bahkan sebaliknya, kelemahan akan menimpa mereka atau salah satu dari keduanya. Itu disebabkan, andaikata salah seorang dari keduanya ingin menghidupkan suatu jisim, sedang yang lain ingin mematikannya maka dalam hal ini tidak terlepas dari tiga kemungkinan: a)keinginan keduanya dilaksanakan maka hal ini akan menimbulkan kontradiksi , karena mustahil terjadi pemilahan kerja andai terjadi kesepakatan diantara mereka berdua, dan tidak mungkin dua hal yang berbeda dapat berkumpul jika tidak terjadi kesepakatan; b)keinginan mereka tidak terlaksana, maka yang demikian menyebabkan kelemahan mereka; c) keingina salah satunya tidak terlaksana, dan ini menyebabkan kelemahannya, padahal Tuhan tidaklah lemah

Pertama,Al-Qur’an dalam brdebat dengan para penantangnya banyak mengemukakan dalil dan bukti kuat serta jelas yang dapat dimengerti kalangan awam dan orng ahli. Ia membatalkan setiap kerancuan vulgar dan mematahkannya dengan perlawanan dan pertahanan dalam uslub yang kongkrit hasilnya indah susunannya dan tidak memerlukan pemerasan akal atau banyak peneyelidikan.

Kedua, Dalam al-Qur’an ungkapan ayat-ayat jadal Allah tidak menggunakan metode yang remit seperti metode yang dipegang oleh ahli kalam yang memerlukan adanya muqadimah (premis) dan natijah (kesimpulan) atau para penyair yang menggunakan kata-kata yang rumit, hal ini disebabkan;

Ketiga, al-Qur’an datang dalalm bahasa arab dan menyeru mereka dengan bahasa yang mereka ketahui, sehingga tidak ada lagi ungkapan yang samar dari maksud ayat seperti dalam mengkiaskan pengulangan terhadap penciptaan langit dan bumi yang terdapat dalan surat Yasin ayat 81;

“Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang diganti sesudah hancur itu?Benar, Dia berkuasa. Dan dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.”

Keempat, bersandar pada fitrah jiwa, yang percaya kepada apa yang disaksikan dan dirasakan, tampa perlu penggunaan pemikiran mendalam dalam memahami dalil adalah lebih kuat pengaruhnya dan lebih efektif hujahnya.seperti dalam pengungkapan tentang kedaan siang dan malam yang terungkap dalam Durat al-Isra’ ayat 12;

” Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.”

Sehingga dapat kita lihat dari kesemua ayat-ayat Jadal atau ayat ayat yang lainnhya kesemuanya itu menunjukan esensi Pencipta Yang tunggal, tanpa serikat antara Dia dengan yang lain karena itu eksistensi segala sesuatu itu menuntut secara pasti eksistensi Pencipta itu sendiri.

Menurut al-Zarkassyi sebagaimana yang di kutip dalam Manna Khalil Qattan terj. Drs. Mudzakir AS, menyatakan bahwa al-Qur’an telah mencakup segal macam dalil dan bukti, tidak ada satu dalil pun, satu bukti atau definisi-definisi mengenai sesuatu, maupun berupa persepsi akal maupun dalil naql yang uuniversal, kecuali telah dibicarakan oleh Kitabullah. Tetapi Allah mengemukakannya sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan bangsa Arab; tidak menggunakan metode-metode berpikir ilmu kalam yang rumir, hal ini disebabkan kepada dua hal,diantara nya;

Pertama,Mengingat Firman-Nya dalam Surat Ibrahim ayat 4;

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Kedua, bahwa orang yang cenderung menggunakan argumentasi pelik dan rumit itu sebenarnya ia tidak sanggup menegakan hujjah dengan kalam agung. Sebab orang yang mampu memberi pengertian tentang sesuatu dengan cara yang lebih jelas yang bis dipahami sebagian besar orang, tentu tidak perlu melangkah kepada yang lebih kabur, rancu dan teka-teki yang hanya dipahami oleh segelintir orang.

  1. Bentuk-bentuk Perdebatan dalam al-Qur’an dan Dalilnya
  1. Menyebutkan ayat-ayat kauniyah yang disertai perintah melakukan perhatiandan pemikiran untuk dijadikan lalil bagi penetapan dadsar-dasar kaidah, seperti ketauhidan Allah dan Uluhiyah-Nya dan keimanan kepada malikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian. Seperti firman Allah;

21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,

22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah,Padahal kamu mengetahui. (al-Baqarah; 21-22)

  1. Membantah pendapat para penantang dan lawan, serta mematahkan argumentasi mereka, perdebatan macam ini mempunyai beberapa bentuk;

1). Membungkam lawam bicara dengan mengajukan pertanyan tentang hal-hal yang telah diakui dan diterima baik oleh akal, agar ia mengakui apa yang tadinya diingkari, seperti penggunaan dalil dengan makhluk untuk menetapkan adanya Khalik, seperti firman Allah:

35. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?

36. Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).

37. Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa?

38. Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata.

39. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki?

40. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang?

41. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya?

42. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu merekalah yang kena tipu daya.

43. Ataukah mereka mempunyai Tuhan selain Allah. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.(al-Thur; 35-43)

2). Mengambil dalil dengan mabda’ (asal mula kejadian) untuk menetapkan ma’ad (hari kebangkitan), seperti Firman-Nya dalam Surat Qaaf ayat 15:

15. Maka Apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? sebenarnya mereka dalam Keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.

  1. Membatalkan pendapat lawan danmembuktikan (kebenaran) kebalikannya, seperti yang tersurat dalam surat al-An’am ayat 91;

91. Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, Padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.

Ayat ini merupakan bantahan kepada pendirian orang Yahudi, sebagaimana diceritakan Allah dalam firman-Nya diatas bahwa mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”.

  1. Menghimpun dan merinci beberapa sifat dan menerangkan bahwa sifat-sifat tersebut ‘illah atau alasan hukum, seperti dalam firman-Nya surat al-An’am ayat 143-144;

143. (yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang domba, sepasang dari kambing. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya?” Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar,

144. Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya? Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat Dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan ?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

  1. Membungkam lawan danmematahkan hujjahnya dan menjelaskan bahwa pendapat uang dikemikakannya itu menimbulkan suatu pendpat yang tidak diakui oleh siapa pun, seperti firma-Nya dalam surat al-An’am ayat 100-101;

100. Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, Padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.

101. Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana Dia mempunyai anak Padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah tidak mempunyai anak, hal ini kana proses kelahiran anak tidak mungkin terjadi dari sesuatu yang satu. Proses tersebut hanya bisa terjadi dari dua pribadi. Padahal Allah tidak mempunyai istri. Di samping itu Dia menciptakan segala sesuatu dan penciptaanya segala sesuatu ini sungguh kontradiktif bila dia dinyatakan melahirkan sesuatu.[13]

KESIMPULAN

Secara etimologi, mujadalah berarti berdebat, berdiskusi, atau berbantah-bantahan. Di dalam Alquran kurang lebih terdapat 30 ayat yang menerangkan masalah mujadalah ini. Kadangkala dikaitkan dengan masalah akidah dan keyakinan, seperti terdapat pada surat Al-A’raf ayat 71, ”…. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu?”

Ayat tersebut memberikan gambaran seringnya orang-orang berbantah-bantahan mempertahankan tradisi, adat, dan kebiasaan yang telah dikerjakan secara turun-temurun, padahal tidak ada alasan apa pun yang membenarkan perilaku tersebut. Kadangkala dikaitkan pula dengan watak dan karakter manusia yang selalu ingin berdebat dan mendebat sesuatu, seperti tercantum dalam surat Al-Kahfi ayat 54, ”…. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” Karena terkait dengan watak dasar manusia, maka Al-Qur’an tidak melarang secara mutlak berdebat, berdiskusi, dan bahkan berbantah-bantahan, asal dilakukan dengan cara yang sportif, elegan, dan lebih baik, serta bertujuan mencari kebenaran, bukan untuk mencari kelemahan-kelemahan yang sifatnya personal dari lawan berdebat.

Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl ayat 125, ”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” Bahkan, ketika berdebat dengan orang atau kelompok orang yang berbeda akidah dan keyakinan pun, kaum Muslimin diperintahkan berdebat dengan cara yang lebih baik. Perhatikan firman Allah SWT dalam surat Al-Ankabut ayat 46 : “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka”.

Perintah berdebat dengan cara yang terbaik ini agar substansi masalahnya dapat dipecahkan dan dicarikan solusi yang terbaik pula. Tetapi, jika perdebatan dilakukan dengan cara-cara yang tidak elegan, dengan penuh emosi, dan dengan ucapan-ucapan yang kotor yang menyinggung perasaan, biasanya substansinya hilang dan yang terjadi adalah saling mencemooh dan saling menjatuhkan.

Adapun metode berdebat (Jadl) yang di tempuh al-Qur’an yaitu: Pertama, Al-Qur’an dalam brdebat dengan para penantangnya banyak mengemukakan dalil dan bukti kuat serta jelas yang dapat dimengerti kalangan awam dan orng ahli.

Kedua, Dalam al-Qur’an ungkapan ayat-ayat jadal Allah tidak menggunakan metode yang remit seperti metode yang dipegang oleh ahli kalam yang memerlukan adanya muqadimah (premis) dan natijah (kesimpulan) atau para penyair yang menggunakan kata-kata yang rumit, hal ini disebabkan;

Ketiga, al-Qur’an datang dalalm bahasa arab dan menyeru mereka dengan bahasa yang mereka ketahui, sehingga tidak ada lagi ungkapan yang samar dari maksud ayat seperti dalam mengkiaskan pengulangan terhadap penciptaan langit dan bumi yang terdapat dalan surat Yasin ayat 81;

Keempat, bersandar pada fitrah jiwa, yang percaya kepada apa yang disaksikan dan dirasakan, tampa perlu penggunaan pemikiran mendalam dalam memahami dalil adalah lebih kuat pengaruhnya dan lebih efektif hujahnya.seperti dalam pengungkapan tentang kedaan siang dan malam yang terungkap dalam Durat al-Isra’ ayat 12.

DAFTAR PUSTAKA

v Al-Husin al-Muqaddasi, Fath al-Rahman li al-thalib al-ayat al-Qur’an. (Indonesia: Maktabah Dahlan, tt.).

v http://www.geocities.com/zam8557/was4.html

v Jalaluddin ‘Abrurrahman al-Suyuuthi (imam al-Suyuti), Al-Itqan fii ‘Ulumil Qur’an, Juz 1, Darul Hadits, Kairo Mesir

v Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka: 1998).

v Al-Qura’an dan Terjemah, (Jakarta; 2000)

v M. Hasbi AshShiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/ tafsir, (Jakarta; Bulan Bintang, 1992)

v Manna’ Khalil al-Qaththan,(Trjm; Drs. Mudzakir) Studi Ilmu-ilmu Qur’an, (Jakarta: Litera Antarnusa, 2002).

v M. Ibnu ‘Uluwi al-Maliki al-Husaini, Zubdzatu al-Itqan Fii ‘Uluumi al-Qur’an.(Arab Saudi: Dar al-Syuruq)

v www.bangjay.com/index.php

v www.alislamu.com/index.php

v ————-, Kamus al-Munjid Fii al-Lughati wa al-A’alaami;(Libanon: Beirut)


[1] Manna’ Khalil al-Qattan(trjmah; Drs, Mudzakir AS), Studi Ilmu-ilmu a-Qur’an, Litera Antar Nusa, Halim Jaya, Jakarta, 2002. hal 425

[2] Ibid. hal 425

[3] Muhammad Hasbi Al-Shieddiqiy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 105-108.

[4] Lihat Supiana, Ulum al-Qur’an, hlm 51

[5] Hermeneutika kerap diartikan to interpret dipahami sebagai seni dan metode tafsir, padanan kata yang dianggap sebagai hermeneutik adalah tafsir, ta’wil, syarh dan bayan. Baca Ricard E. Palmer Hemeneutic Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger and Gadamer. Telah diterjemhkan ke dalam Bahasa Indonesia.

[6] Sunarwoto, Nasr Hamid Abu Zaid dan Rekonstruksi Studi-Studi Al-Qur’an dalam buku Hermeneutika Al-Qur’an Madzhab Yogya (Yogyakarta: Islamika, 2003), hlm. 103.

[7] Mohammad Arkoun, Berbagai Pembacaan al-Qur’an (terj) Machasin (Jakarta Belanda: INIS, 1997), hlm 10

[8] Al-Munjid Fii Lughati wa Al-A’laam. Hal 82

[9] Manna’ Khalil al-Qattan(trjmah; Drs, Mudzakir AS), Studi Ilmu-ilmu a-Qur’an, Litera Antar Nusa, Halim Jaya, Jakarta, 2002. hal 426

[10] Diakses pada tanggal 27-Okt 2008, http://www.geocities.com/zam8557/was4.html

[11] Diakses pada tanggal 27-Okt 2008, http://www.geocities.com/zam8557/was4.html

[12] Manna’ Khalil al-Qattan(trjmah; Drs, Mudzakir AS), Studi Ilmu-ilmu a-Qur’an, Litera Antar Nusa, Halim Jaya, Jakarta, 2002. hal 426

[13]Manna’ Khalil al-Qattan(trjmah; Drs, Mudzakir AS), Studi Ilmu-ilmu a-Qur’an, Litera Antar Nusa, Halim Jaya, Jakarta, 2002. hal 434

4 Komentar

  1. makasih banyak yah … tugas suami saya terselesaikan …

  2. syukron jazakallah sebelumnya…
    izin copy ya…

  3. جزاك الله خيرا

  4. [...] Al-Qur’an al-Karim, seruan Allah kepada seluruh umat manusia, berdiri tegak dihadapan berbagai macam arus yang mengupayakan kebatilan untuk mengingkari hakikat-hakikatnya dan memperdebatkan pokok-pokonya. Karenanya ia perlu membungkam intrik-intrik mereka secara kongkrit dan realistis serta menghadapi mereka dengan uslub bahasa yang memuaskan, argumentasi yang pasti dan bantahan yang tegar.[2] [...]


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.