Pasar Modal Syariah

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pasar modal merupakan tonggak penting dalam perekonomian dunia saat ini. Banyak industri dan perusahaan yang menggunakan institusi ini sabagai media untuk menyerap investasi dan media untuk memperkuat posisi keuangannya.[1] Pasar modal memiliki peran yang sangat besar bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan.[2] Pasar modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena pasar modal menyediakan fasilitas yang mempertemukan dua kepentingan yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (issuer).

Dengan adanya pasar modal maka pihak yang mempunyai kelebihan dana dapat menginvestasikan dana tersebut dengan harapan memperoleh imbalan (return) sedangkan pihak issuer (dalam hal ini perusahaan) dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa harus menunggu tersedianya dana dari operasi perusahaan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena pasar modal memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.

Sekaitan dengan hal diatas maka, di Indonesia pun pasar modal menjadi salah satu elemen penting dalam laju perekonomian negara ini. Pasar modal pun tentunya menjadi tempat investasi yang sangat diminati oleh berbagai kalangan, terutama kalangan menengah keatas. Hal ini dikarenakan segala efisiensi sistem transaksi dan atau sistem investasi di pasar modal.

  1. Namun pada prakteknya, terlalu banyak hal yang dapat merubah kemurnian mekanisme transaksi pasr modal, yang memang membuat khususnya para investor muslim merasakan keragu-raguan dalam hal keabsahan segala mekanisme transaksi yang terjadi di pasar modal. Maka Pemerintah sebagai fasilitator memberikan solusi dengan dibukanya Jakarta Islamic Index (JII), yang menjadi kepanjangan tangan dari Bursa Efek Indonesia yang dapat melindungi investor-investor muslm khususnya dari praktek mekanisme pasar yang terjadi di Bursa Efek yang ditakutkan oleh sebagian kalangan tidak “islami”.

1.2 Identifikasi Masalah

Dari sedikit penjelasan yang melatar belakangi penulis untuk menulis karya tulis ini, maka penulis pun ingin mempersempit pokok-pokok pembahasan dalam beberapa cakupan penulisan, antara lain :

  1. Apa sebenarnya pengertian dalam konteks teoritis?
  2. Bagaimana perkembangan pasar modal syariah di Indonesia?
  3. Bagaimana sebenarnya hukum dari pasar modal dalam konteks syariah?

BAB II

PASAR MODAL SYARIAH

DALAM TINJAUAN TEORITIS, HISTOTIS DAN LEGALITAS

2.1 Pasar Modal ( Tinjauan Teoritis)

Pasar modal (Capital Market) merupakan kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum perdagangan efek perusahaan publik yang berkaitan dengan produk. Dalam arti sempit pasar modal adalah suatu pasar dimana dana-dana jangka panjang baik hutang maupun modal sendiri diperdagangkan. Dengan kata lain pasar modal merupakan tempat pertemuan antara penawaran dan permintaan surat berharga. Jenis surat berharga yang diperjualbelikan di pasar modal memiliki jatuh tempo lebih dari satu tahun. Dua jangka ynag merupakan modal sendiri berbentuk saham biasa (Common Stock) dan saham prefern (Preferen Stock), sedangkan dana jangka hutang berbentuk obligasi (Bond).[3]

Saham didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas tersebut. Selain saham biasa, ada pula yang disebut saham preferen yaitu gabungan (Hibryd) antara obligasi dan saham biasa, artinya disamping memiliki karakteristik seperti obligasi, juga memiliki karakteristik saham biasa. Saham merupakan surat bikti kepemilikan atas sebuah perusahaan yang melakukan penawaran umum (go public) dalam nominal ataupun persentase tertentu. Saham merupakan tanda penyertaan modal pada suatu Perseroan Terbatas (PT).[4]

Sebagaimana dipahami pengertian Pasar Modal menurut Undang-Undang Repiblik Indonesia No. 8 Tahun 1995 merupakan kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang ditebitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek tersebut. Pasar modal bertindak sebagai penghubung antara para investor dengan perusahaan ataupun institusi pemerintah melalui perdagangan instrumen keuangan jangka panjang.

Menurut Warkum Sumitro, pasar modal merupakan salah satu sarana untuk melakukan kegiatan investasi. Pasar modal sama seperti pasar modal pada umumnya, yaitu tempat bertemunya penjual dan pembeli dengan objek yang diperjualbelikan adalah hak dan kepemilikan perusahaan dan surat pernyataan utang perusahaan.

Sedangkan menurut Tjiptono Darmadji dan Hendy M. Fakhrudin, pada dasarnya pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk instrumen keuangan jangka panjang yangbisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang atau modal sendiri.[5] Pada pasar modal, diperjualbelikan instrumen keuangan seperti saham, obligasi, waran, right, obligasi konvertibel, dan berbagai produk turunan (derivatif) seperti opsi (put atau call).

Dalam menjalankan fungsinya, pasar modal dibagi menjadi tiga macam yaitu :[6]

1. Pasar Perdana, adalah penjualan perdana efek atau penjualan efek oleh perusahaan    yang menerbitkan efek sebelum efek tersebut dijual melalui bursa efek. Pada pasar    perdana efek dijual dengan harga emisi,[7] sehingga perusahaan yang menerbitkan             emisi hanya memperoleh dana dari penjualan tersebut.

2. Pasar Sekunder, adalah penjualan efek setelah penjualan pada pasar perdana berakhir.           Pada pasar sekunder ini harga efek ditentukan berdasarkan kurs efek tersebut.[8]

3. Bursa Paralel, merupakan bursa efek yang ada.[9] Bagi perusahaan yang telah menerbitkan efek yang akan menjual efeknya melalui bursa dapat dilakukan melalui bursa paralel. Bursa paralel merupakan alternative bagi perusahaan yang go public memperjualbelikan efeknya jika dapat memenuhi syarat yang ditentukan pada bursa efek.

Praktek kegiatan ekonomi konvensional, khususnya dalam kegiatan pasar modal yang mengandung unsur spekulasi sebagai salah satu komponennya nampaknya masih menjadi hambatan psikologis bagi umat Islam untk turun aktif dalam kegiatan investasi terutama di bidang pasar modal.

Perbedaan secara umum antara pasar modal konvensional dengan pasar modal syariah dapat dilihat pada instrumen dan mekanisme transaksinya, sedangkan perdedaan nilai indeks saham syariah dengan nilai indeks saham konvensional terletak pada kriteria saham emiten yang harus memenuhi prinsip-prinsip dasar syariah. Secara umum konsep pasar modal syariah dengan pasar modal konvensional tidak jauh berbeda meskipun dalam konsep pasar modal syariah desebutkan bahwa saham yang diperdagangkan harus berasal dari perusahaan yang bergerak dalam sektor yang memenuhi kriteria syariah dan terbatas dari unsur ribawi, serta transaksi saham dilakukan dengan menghindarkan berbagai praktik spekulasi.

2.2 Pasar Modal Syariah di Indonesia (Tinjauan Historis)

Sejarah perkembangan industri keuangan syariah yang meliputi perbankan, asuransi dan pasar modal pada dasarnya merupakan suatu proses sejarah yang sangat panjang. Lahirnya Agama Islam sekitar 15 (lima belas) abad yang lalu meletakan dasar penerapan prinsip syariah dalam industri keuangan, karena didalam Islam dikenal kaidah muamalah yang merupakan kaidah hukum atas hubungan antara manusia yang didalamnya termasuk hubungan perdagangan dalam arti yang luas.

Menurut Achsien (2000)[10] pengembangan pertama indeks syariah dan aquity fund seeprti reksa dana adalah Amerika Serikat, setelah The Amana Fund diluncurkan oleh The North American Islamic Trust sebagai equity fund pertama di dunia tahun 1986, tiga tahun kemudian Dow Jones Index meluncurkan Dow Jone Islamic Market Index (DJIMI).

Langkah awal perkembangan pasar modal syariah di Indonesia dimulai dengan diterbitkannya Reksa Dana Syariah pada 25 Juni 1997 diikuti dengan diterbitkannya obligasi syariah pada akhir 2002. kemudian diikuti pula dengan hadirnya Jakarta Islamic Index (JII) pada Juli 2000. Instrumen-instrumen investasi syariah trsebut kemudian mengalami perkembangan sejalan dengan maraknya pertumbuhan bank-bank nasional yang membuka “window” syariah

Kegiatan pasar modal di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal (UUPM). UUPM tidak membedakan apakah kegiatan pasar modal tersebut dilakukan dengan prinsip-prinsip syariah atau tidak, dengan demikian berdasarkan UUPM kegiatan pasar modal Indonesia dapat dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dan dapat pula dilakukan tidak sesuai  dengan prinsip-prinsip syariah.

Di lihat dari legal formalnya, pasar modal dengan prinsip-prinsip syariah Islam berdiri pada tanggal 14 Maret 2003. Semenjak ditandatangani Nota Kesepahaman antara Bapepam dan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), yang dilanjutkan dengan Nota Kesepahaman antara DSN-MUI dengan SROs (self regulatory Organizations), setelah pada tanggal 3 Juli 2000, BEJ mengeluarkan daftar perusahaan yang tercantum dalam bursa yang sesuai dengan syariah Islam atau saham-saham yang tercatat di Jakarta Islamic Index (JII).

Meskipun sampai saat ini peraturan yang bisa mengakomodasi penerapan prinsip syariah di pasar modal Indonesia belum ada, namun pada prinsipnya struktur pasar modal syariah sama dengan pasar modal konvensional. Beberapa hal yang sama antara lain konsep penerbitan obligasi, reksadana, dan lainnya, selama mengikuti prinsip-prinsip syariah.

Dalam perjalanannya, perkembangan pasar modal syariah di Indonesia telah mengalami kemajuan, sebagai gambaran setidaknya terdapat beberapa perkembangan dan kemajuan pasar modal syariah yang patut dicatat diantaranya adalah telah diterbitkan 6 (enam) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) yang berkaitan dengan industri pasar modal. Adapun ke enam fatwa dimaksud adalah :

  1. No.05/DSN-MUI/IV/2000 tentang Jual Beli Saham
  2. No.20/DSN-MUI/IX/2000 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi untuk Reksadana Syariah.
  3. No.20/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah;
  4. No.33/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah Mudharabah;
  5. No.40/DSN-MUI/IX/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal;
  6. No.41/DSN-MUI/III/2004 tentang Obligasi Syariah Ijarah

Dengan diterbitkannya fatwa-fatwa yang berkaitan dengan pasar modal, telah memberikan dorongan untuk mengembangakan alternatif sumber pembiayaan yang sekaligus menambah alternatif instrumen investasi halal. Perkembangan pasar modal syariah saat ini ditandai dengan maraknya perusahaan yang listing di Jakarta Islamic Index (JII), penawaran umum Obligasi Syariah dan juga Reksadana Syariah.

Kinerja saham syariah yang terdaftar dalam JII mengalami prkembangan yang cukup menggembirakan. Hal ini terlihat dari kenaikan JII sebesar 38,60% jika dibandingkan dengan akhir tahun 2003. Kapitalisasi pasar saham syariah yang terdaftar dalam JII juga meningkat signifikan, yaitu sebesar 46,06% dari Rp.177,78 triliun menjadi Rp.259,66 triliun pada akhir Desember 2004. Dengan keluarnya fatwa obligasi ijarah tahun 2004 telah mendorong sebanyak 7 (tujuh) emiten mendapat pernyataan efektif dari Bapepam untuk dapat menawarkan Obligasi Syariah Ijarah dengan total nilai emisi sebesar Rp.642 Miliar. Sehingga sampai dengan akhir 2004 ini, secara kumulatif terdapat 13 (tiga belas) obligasi syariah dengan total nilai emisi sebesar Rp.1,38 triliun. Hal ini berarti bahwa jumlah obligasi syariah telah tumbuh sebesar 116,67% dan nilai emisi obligasi syariah tumbuh sebesar 86,7% jika dibandingkan dengan akhir tahun 2003. Reksadana syariah juga tumbuh sangat mengesankan, sebelumnya pada tahun 2003 hanya ada 3 (tiga) reksadana syariah yang efektif, kemudian bertambah secara kumulatif menjadi 10 (sepuluh) reksadana syariah sampai dengan akhir 2004.[11]

Bapeppam juga telah membentuk unit khusus yang membawahi pengembangan kebijakan pasar modal syariah pada Oktober 2004 yang lalu. Pembentukan unit khusus ini dalam rangka mengembangkan pasar modal syariah serta melihat tantangan yang semakin besar untuk mengatur dan mengawasi kegiatan pasar modal syariah yang semakin berkembang.[12]

2.3 Prinsip Investasi Pasar Modal Syariah (Tinjauan Legalitas)

Dalam ajaran Islam, bahwa kegiatan berinvestasi dapat dikategorikan sebagai kegiatan ekonomi yang termasuk kegiatan muamalah yaitu suatu kegiatan yang mengatur antara hubungan manusia. Sementara itu berdasarkan Kaidah Fiqih, bahwa hukum asal dari kegiatan muamalah itu adalah mubah (boleh) yaitu semua kegiatan  dalam pola hubungan antara manusia adalah mubah (boleh) kecuali yang jelas ada larangannya (haram). Ini berarti ketika suatu kegiatan muamalah yang kegiatan tersebut baru muncul dan belum dikenal sebelumnya dalam ajaran Islam maka kegiatan tersebut dianggap dapat diterima kecuali terdapat implikasi dari Al Qur’an dan Hadist yang melarangnya secara implisit maupun eksplisit.

Sebenarnya, banyak prinsip-prinsip syariah terkandung dalam peraturan perundangan yang sudah ada. Misalnya, prinsip عَنْ تَرَا ضٍ)) ridho sama ridho yang ada dalam syariah juga terkandung dalam pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang mensyaratkan adanya kesepakatan para pihak dalam membuat sebuah perjanjian.

2.3.1 Telisik Jual Beli Dalam Legal Syari’ah

Apabila kita melihat dalam Al Qur’an dan Hadist sebagai sumber utama ajaran Islam maka kita dapat melihat beberapa ketentuan mengenai hal tersebut :

…وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا…

“…..Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…….” .(Q.S Al-Baqarah: 275)

  1. $yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#þqè=à2ù’s? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJŠÏmu‘ ÇËÒÈ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakai harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang dilakukan suka sama suka “. (QS. An-Nisa’ : 29)

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qèù÷rr& ϊqà)ãèø9$$Î/ 4

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu”(Q.S al-Maidah :1)

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص م عَنْ بَيْعِ الغَرَا رِ

“ Rasulullah saw melarang jual beli (yang mengandung) gharar “ (HR Al Baihaqi dari Ibnu Umar)

Berdasarkan Al-Qur’an, Hadist dan pendapat para ahli Fiqih (ajaran Islam), sesuatu yang dilarang atau diharamkan adalah :

1) Haram karena bendanya (zatnya)

Pelarangan  kegiatan muamalah ini disebabkan karena benda atau zat yang         menjadikan objek dari kegiatan tersebut berdasarkan ketentuan Al-Qur’andan Hadist telah dilarang/diharamkan. Benda-benda tersebut, antara lainBabi, Khamr (minuman keras), bangkai binatang, darah.

2) Haram selain karena bendanya (zatnya)

Pengertian dari pelarangan atas kegiatan ini adalah suatu kegiatan yang objek dari kegiatan tersebut bukan merupakan benda-benda yang diharamkan karena zatnya artinya benda-benda tersebut benda-benda yang dibolehkan (dihalalkan). Akan tetapi benda tersebut menjdai diharamkan disebabkan adanya unsur : Tadlis, Taghrir/Gharar, Riba, Ikhtikar dan Bay Najash.

3) Tidak sah akadnya

Seperti halnya dengan pengharaman disebabkan karena selain zatnya maka pada kegiatan ini benda yang dijadikan objeknya adalah benda yang berdasarkan zatnya dikategorikan halal (dibolehkan) tetapi benda tersebut menjdai haram disebabkan         akad atau perjanjian yang menjadi dasar atas transaksi tersebut dilarang/diharamkan oleh ajaran Islam.

2.3.2 Telisik Bentuk Akad (Perjanjian) Dalam Legal Syariah

Akad dalam bahasa Arab artinya perikatan atau perjanjian atau pemufakatan. Adapun pengertian berdasarkan fiqih maka akad adalah pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan kabul (pernyataan menerima ikatan), sesuai dengan kehendak syariah yang berpengaruh pada objek perikatan[13]. Berdasarkan pengertain tersebut maka akad adalah suatu perbuatan hukum yang melibatkan kedua belah pihak atau lebih, yang melakukan perjanjian. Ajaran Islam menekankan bahwa semua transaksi yang dilakukan oleh dua belah pihak atau lebih, tidak boleh menyimpang dan harus sejalan dengan kehendak syariah (hukum Islam). Menurut istilah (terminologi), yang dimaksud dengan akad adalah :[14]

اِ رْ تِبَاطُ اْلإيْجَاب ِ ِبِِِِِِِقََبُوْْْْْْْل عَلَى وَجْهِ مَشْرُوْع ٍيُثَبِتُ التَرَاضَِىْ

Artinya :“ Perikatan ijab dan Kabul yang dibenarkan syara yang menetapkan  keridhaan kedua belah pihak “

Oleh karena itu akad menurut ajaran Islam adalah sesuatu yang penting. Hal ini disebabkan akad boleh dikatakan akan terjadi dalam setiap kegiatan yang ada hubungan dengan muamalah. Kita akan menemukan penggunaan akad-akad yang sama di berbagai kegiatan ekonomi seperti perbankan, asuransi maupun pasar modal. Akad yang sering dilakukan dimasyarakat  adalah Al Bay (Jual Beli, Perdagangan, Perniagaan). Para Ulama mengistilahkan menjadi : tukar menukar harta atas dasr saling ridha[15]. Adapun yang menjadi objek dari pertukaran dapat berupa Ayn dan Dayn. Ayn adalah benda-benda yang berupa real asset berupa barang maupun termasuk pula jasa dan bisnis. Sedangkan pengertian dayn adalah financial asset yaitu berupa uang dan surat berharga.

Penukaran antara dayn dan ayn lebih dikenal dengan istilah barter. Ajaran Islam mengatur bahwa barter dapat dibolehkan untuk benda-benda yang berlainan jenis, misalnya barter yang sering dilakukan oleh masyarakat pedesaan berupa beras dengan hasil pertanian lain. Sedangakan bagi benda yang sejenis tidak diperbolehkan kecuali secara kasat mata benda tersebut sejenis tetapi memiliki mutu yang berbeda serta memenuhi persyaratan tertentu.

Sedangakan yang lazim dilakuakan di masyarakat modern adalah pertukaran antara ayn dengan dayn. Beberapa akad yang terjadi dari pertukaran ini antara lain : Tunai/ Naqdan, Mudharabah, Sakam, Istishna, Ijarah, Ju’alah.

Disamping kegiatan pertukaran, kita pun mengenal kegiatan percampuran. Pengertian dari percampuran adalah suatu akad antara dua atau lebih pihak yang bertujuan untuk bekerja sama untuk melakukan suatu kegiatan bisnis dimana masing-masing pihak melakukan menyerahkan sejumlah dana atau jasa. Bentuk-bentuk akad untuk kegiatan percampuran tersebut adalah : Mudharabah dan Musyarakah.

Pengertian Mudharabah adalah dimana pemilik harta (modal) menyerahkan modal kepada pengusaha untuk berdagang dengan modal tersebut, dan laba dibagi di antara keduanya berdasarkan persyaratan yang disepakati[16]. Sedangkan pengertian Musyarakah kerjasama dalam melakukan usaha yang disepakati kedua belah pihak dalam usaha menurut syariah.

Akad-akad tersebut diatas, akan selalu kita temui dalam  kegiatan investasi syariah di pasar modal. Hal tersebut dikarenakan selain terjadi pertukaran (al-bay jual beli) di pasar modal pun kita mengenal suatu kegiatan percampuarn misalnya yang terjadi di penerbitan saham suatu perusahaan. Regulasi mengenai akad yang digunakan dalam penerbitan efek syariah di atur dalam Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor : KEP-131/BL/2006 Tentang Akad-Akad Yang Digunakan Dalam Penerbitan Efek Syariah Di Pasar Modal.

2.3.3 Telisik Standard Legal Syariah di Indonesia Tentang Kegiatan Investasi di Pasar Modal

Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa terdapat karekteristik tersendiri dalam malakukan investasi syariah, termasuk juga di sektor pasar modal. Batasan tersebut adalah berupa kesesuaian suatu produk investasi atas prinsip-prinsip ajaran Islam. Dewan Syariah Nasional (DSN) atau Al-Hai’ah as-Syar’iyah al-Wathaniyah alias National Sharia Board adalah suatu lembaga dibawah MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang dibentuk tahun 1999 telah mengeluarkan ketentuan mengenai kegiatan investasi di pasar modal syari’ah. Lembaga bertugas untuk menggali, mengkaji dan merumuskan nilai dan prinsip-prinsip Hukum Islam (Syari’ah) untuk dijadiakn pedoman dalam kegiatan transaksi di lembaga-lembaga keuangan syariah serta mengawasi pelaksanaan dan implementasinya. Ketentuan tersebut dituangkan kedalam beberapa fatwa MUI tentang kegiatan investasi yang sesuai syariah ke dalam produk-produk investasi di Pasar Modal Indonesia.

Fatwa DSN Nomor : 40/DSN-MUI/X/2003 tanggal 4 Oktober 2003 Tentang Pasar Modal Dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah Di Bidang Pasar Modal[17], telah menentukan tentang kriteria produk-produk investasi yang sesuai dengan ajaran Islam. Pada intinya, produk tersebut harus memenuhi syarat, antara lain :

1)      Jenis Usaha, produk barang dan jasa yang diberikan serta cara pengelolaan perusahaan emiten tidak merupakan usaha yang dilarang oleh prinsip-prinsip syariah, antara lain :

  1. Usaha perjudian atau permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang
  2. Lembaga Keuangan Konvensional (ribawi), termasuk perbankan asuransi konvensional.
  3. Produsen, distributor, serta pedagang makanan dan minuman haram.
  4. Produsen, distributor, dan/atau penyedia barang/jasa yang merusak moral dan bersifat madharat.

2)      Jenis transaksi harus dilakukan menurut prinsip kehati-hatian serta tidak diperbolehkan melakukan spekulasi yang didalamnya mengandung unsur :

  1. Najsy, yaitu melakukan penawaran palsuBai’ al-ma’dum, yaitu melakukan penjualan atas barang (Efek Syariah) yang  belum dimiliki (short selling)
  2. Insider trading, yaitu memakai informasi orang untuk memperoleh keuntungan  atas transaksi yang dilarang.
  3. Menimbulkan informasi yang menyesatkan
  4. Margin trading, yaitu melakukan transaksi atas Efek Syaraiah dengan fasilitas pinjaman berbasis bunga atas kewajiban penyelesaian pembelian Efek Syariah tersebut, dan.
  5. Ihtikar (Penimbunan), yaitu malakukan pembelian atau dan mengumpulan suatu Efek Syariah untuk menyebabkan perubahan harga Efek Syariah, dengan tujuan mempengaruhi pihak lain;
  6. Dan transaksi-transaksi lain yang mengandung unsur-unsur diatas.

BAB III

PASAR MODAL SYARIAH DI INDONESIA

3.1 Pasar Modal Syariah di Indonesia

3.1.1 Struktur Pasar Modal Indonesia

Adapun struktur pasar modal Indonesia adalah sebagai berikut :

Gambar 1. struktur pasar modal

Sumber : www. Bapepam. Go.id

3.1.2  Fungsi dan Karakter Pasar Modal Syariah

Dengan adanya berbagai ketentuan dan pandangan syariah seperti diatas, maka investasi tidak dapat dilakukan terhadap semua produk pasar modal karena diantara produk pasar modal itu banyak yang bertentangan dengan syari’ah. Oleh karena itu investasi di pasar modal harus dilakukan dengan selektif dan dengan hati-hati (ihtiyat) supaya tidak masuk kepada produk non halal. Sehingga hal inilah yang mendorong Islamisai Pasar Modal.

Menurut Matewally (1995)[18] fungsi dari keberadaan pasar modal syariah

1)      Memungkinakan bagi masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan bisnis dengan memperoleh bagian dari keuntungan dan risikonya.

2)      Memungkinkan para pemengang saham menjual sahamnya guna mendapatkan likuiditas.

3)      Memungkinkan perusahaan meningkatkabn modal dari luar untul membangun dan mengmbangkan lini produksinya.

4)      Memisahkan operasi kegiatan bisnis dari fluktuasi jangka pendek pada harga saham yang merupakan ciri umum pada pasar modal konvensional.

5)      Memungkinkan investasi pada ekonomi itu dotentukan oleh kinerja kegiatan bisnis sebagaimana tercermin pada harga saham.

Sedangakan karakteristik yang diperlukan dalam membentuk pasar modal syariah menurut Metwally, (1995)[19] adalah sebagai berikut :

1)            Semua saham harus diperjualbelikan pada bursa efek

2)            Bursa perlu mempersiapkan pasca perdagangan dimana saham dapat diperjualbelikan melalui pialang.

3)            Semua perusahaan yang mempunyai saham yang dapat diperjualbelikan di bursa efek diminta menyampaikan informasi tentang perhitungan (account) keutungan dan kerugian serta neraca keuntungan kepada komite manajemen bursa efek, dengan jarak tidak lebih dari 3 bulan

4)            Komite manajemen menerapkan Harga Saham Tertinggi (HST) tiap-tiap perusahaan dengan interval tidak lebih dari 3 bulan sekali.

5)            Saham tidak boleh diperjualbelikan dengan harga lebig tinggi dari HST.

6)            Saham dapat dijual dengan harga dibawah HST.

7)            HST diterapkan dengan rumus seperti berikut :

Jumlah Kekayaan Bersih Perusahaan

HST =                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             Jumlah Saham Yang Diterbitkan

Komite manajemen harus memastikan bahwa semua perusahaan yang terlibat dalam bursa efek itu mengikuti standar akuntansi syariah

8)            Perdagangan saham mestinya hanya berlangsung dalam satu minggu periode perdagangan setelah menentukan HST.

9)            Perusahaan hanya dapat menerbitkan saham baru dalam periode perdagangan, dan dengan harga HST.

3.2 Pihak – Pihak yang Terlibat di Pasar Modal

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam pasar modal adalah :

1. Emiten

Emiten adalah badanusaha (perseroan terbatas) yang menerbitkan saham untuik menambah modal atau menerbitkan obligasi untuk mendapatkan pinjaman kepada para investor di Bursa Efek.

2. Perantara Emisi yang meliputi

a. Penjamin Emisi

Penjamin emisi adalah perantara yang menjamin penjual emisi, sehingga apabila dari emisi wajib membeli (setidak-tidaknya sementara waktu sebelum laku) agar kebutuhan dana yang diperlukan emiten terpenuhi sesuai rencana.

b. Akuntan Publik

Akuntan publik berfungsi untuk memeriksa kondisi keuangan emiten dan memberikan pendapat apakah laporan keuangan yang telah dikeluarkan emiten wajar atau tidak.

c. Perusahaan Penilai

Perusahaan penilai berfungsi untuk memberikan penilaian terhadap emiten, apakah niali aktiva emiten sudah wajar atau tidak

3. Badan Pelaksanaan Pasar Modal

Badan pelaksanaan pasar modal adalah badan yang mengatur dan mengawasi jalanya pasar modal, termasuk mencoret emiten (delisting) dari lantai bursa, memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang melanggar peraturan pasar modal. Di Indonesia Badan Pelaksana Pasar Modal adalah Bapeppam (Badan Pengawas dan Pelaksana Pasar Modal).

4. Bursa Efek

  1. Bursa Efek merupakan tempat diselenggarakannya kegiatan perdagangan efek pasar modal yang didirikan oleh suatu badan usaha. Di Indonesia AWALNYA terdapat dua Bursa Efek, yaitu Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang dikelola PT Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (BES) yang dikelola oleh PT Bursa Efek Surabaya

Namun pada desember 2007, kedua bursa tersebut digabung pada satu bursa yaitu BEI (Bursa Efek Indonesia)

5. Perantara Perdagangan Efek

Efek yang diperdagangkan dalam bursa hanya boleh ditransaksikan melalui perantara, yaitu makelar (broker) dan komisioner.

  1. Makelar adalah pihak yang melakukan pembelian dan penjualan efek untuk kepentingan orang lain dengan memperoleh imblan.
  2. Komisioner adalah pehak yang melakukan pembelian dan penjualan efek untuk kepentingan sendiri atau orang lain dengan memperoleh imbalan.

6. Investor

Investor adalah pihak yang menanamkan modalnya dalam bentuk efek di bursa dengan membeli atau menjual kembali efek tersebut.[20]

Dalam kerangka kegiatan pasar modal syariah selain lembaga-lembaga tersebut di atas, terdapat Dewan Syariah Nasional yang berfungsi sebagai pusat referensi (reference center) atas semua aspek-aspek syariah yang ada dalam kegiatan pasar modal syariah. DSN bertugas memberikan fatwa-fatwa sehubungan dengan kegiatan emisi, perdagangan, pengelolaan portofolio efek-efek syariah dan kegiatan lain yang berhubungan dengan efek syariah.[21]

DSN adalah pihak yang otonom dan independen dan berhak mengatur mekanisme pasar modal syariah. DSN terdiri dari para ahli profesional, sehingga memiliki kapabilitas dan independen. Selain itu, DSN juga berhak menentukan isi suatu saham apakah halal atau sebaliknya. Sedangkan sturan transaksi, saat ini Bapepam dan DSN menargetkan aturan terperinci transaksi dan mekanisme perdagangan syariah. Pasalnya, ada hal-hal yang biasa dilakukan di pasar modal konvensional seperti penggorengan saham, short selling, dan margin tradingtidak diperkenankan di pasar modal syariah.

3.3 Mekanisme Transaksi Pasar Modal Syariah

Dalam konteks pasar modal syariah, menurut Alhabshi, idealnya pasar modal syariah itu tidak mengndung transaksi ribawi, transaksi yang meragukan (gharar), dan saham perusahaan yang bergerak pada bidang yang diharamkan. Pasar modal syariah harus bebas dari transaksi yang tidak beretika dan amoral, seperti manipulasi pasar, transaksi yang memanfaatkan orang dalam (insider trading), menjual saham yang belum dimiliki dam membelinya belakangan (short selling).[22]

Sementara itu Obaidullah mengemukakan etika di pasar modal syariah, yaitu setiap orang bebas melakukan akad (freedom contract) selama masih sesuai syariah, bersih dari unsur riba (freedom from al-riba), gharar (ezcessive uncertainty), al-qimar/judi (gambling), al-maysir (unearned income), manipulasi dan kontrol harga (price control and manipulaion), darar (detriment) dan tidak merugikan kepentingan publik (unrestricted public interest), juga hara terbentuk secara fair (entitlement to transact at fair price) dan terdapat informasi yang akurat, cukup dan apa adanya (entitlement to equal, adequate, and accurate infromation).[23]

Inti dari apa yang disebutkan oleh Alhabshi dan Obaidulah tersebut adalah pasar modal syariah harus membuang jauh-jauh setiap transaksi yang berlandaskan spekulasi. Inilah bedanya dengan pasaar modal konvensional yang meletakan spekulasi saham sebagai cara untuk mendapatkan keuntungan. Meskipun dalam kasus-kasus tertentu seperti insider dan manipulasi pasar dengan membuat laporan keuangan palsu dilarang dalam pasar modal konvensional.

Irfan Syauqi menjelaskan prihal spekulasi ini, pertama, spekulasi hakikatnya bukanlah kegiatan investasi, kedua, spekulasi menyebabkan peningkatan pendapatan bagi kelompok masyarakat tanpa memberikan kontribusi apapun baik yang bersifat positif maupun produktif, ketiga, spekulasi merupakan sumber penyebab krisis keuangan, keempat, spekulasi datang dari mental “ingin cepat kaya”.[24]

Dalam mekanisme transaksi produk pasar modal syariah, Irfan Syauqi mengemukakan wacana bahwa transaksi pembelian dan penjualan saham tidak boleh dilakukan secara langsung. Dalam pasar modal konvensional investor dapat membeli dan menjual saham secara langsung dengan menggunakan jasa broker atau pialang. Keadaan ini memungkinkan bagi para spekulan untuk mempermainkan harga. Akibatnya perubahan harga saham ditentukan oleh kekuatan pasar bukan karena nilai intrinsik saham itu sendiri. Menurut Irfan Syauqi hal ini dilarang dalam Islam.

Untuk itu untuk proses dalam perdagangan saham, emiten memberikan otoritas kepada agen di lantai bursa, selanjutnta agen tersebut bertugas untuk mempertemukan emiten dengan calaon investor tetapi bukan untuk menjual dan membeli saham secara langsung. Kemudian saham tersebut dijual/dibeli karena sahamnya memang tersedia dan berdasarkan prinsip first come-first served.[25]

Perkembangan harga saham dalam pasar modal konvensional sudah lepas dari nilai instrinsiknya yang dipicu oleh transaksi spekulatif, juga muncul dari keinginan para pelaku pada umumnya agar harga saham terus meningkat.

Dalam perdagangan obligasi syariah, menurut Muhammad Gunawan tidak boleh diterapkan harga diskon atau harga premium yang lazim dilakukan pada obligasi konvensional. Prinsip transaksi obligasi syariah adalah al-hawalah (transfer service atau pengalihan piutang dengan tanggungan bagi hasil), sehingga jual beli obligasi syariah hanya boleh pada harga nominal pelunasan jatuh tempo obligasi.[26]

Sedangkan untuk perdagangan Reksa dana Syariah, manajer investasi menawarkan kepada pembeli Reksa Dana Syariah yang bersifat jangka pendek di pasar uang dan reksa Dana Syariah jangka panjang di pasar saham. Misalnya Danareksa Syariah mengalokasikan 80% investasinya di saham dan 20% di pasar Syariah ini sangat bergantung pada bagaimana manajer investasi menginvestasikan dana yang dikelolanya.[27]

3.4 Indeks Syariah atau Jakarta Islamic Index (JII)

Untuk bisa masuk dalam JII antara lain perusahaan tidak mencangkup hal-hal yang dilarang,[28] dalam Syariah Islam meliputi :

1)      Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang;

2)      Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi) termasuk perbankan dan asuransi konvensional;

3)      Usaha yang memproduksi, mendistribusikan serta memperdagangkan makanan dan minuman yang tergolong haram;

4)      Usaha yang memproduksi, mendistribusi serta menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudharat.

Sesuai dengan pedoman yang ditetapkan dalam menentukan kriteria saham-saham emiten yang menjadi komponen dari Jakarta Islamic Index tersebut adalah :

  1. Memilih kumpulan saham dengan jenis usaha utama yang tidak bertentangan dengan prinsip hukum syariah dan sudah tercatat lebih dari tiga bulan (kecuali bila termasuk di dalam saham-saham sepuluh berkapitalisasi besar).
  2. Memilih saham berdasarkan laporan keuangan tahunan atau tengah tahunan barakhir yang memiliki kewajiban terhadap aktiva maksimal sebesar 90%.
  3. Memilih 60 saham dari susunan di atas berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi pasar terbesar selama satu tahun terakhir.
  4. Memilih 30 saham dengan urutan berdasarkan tingkat likuiditas rata-rata nilai perdagangan selama satu tahun terakhir.

Pengkajian ulang akan diulang 6 bulan sekali dengan penentuan komponen indeks awal bulan Januari dan Juli setiap tahunnya. Sedangkan perubahan pada jenis usaha emiten akan dimonitor secara terus menerus berdasarkan data publik dan media. Indeks harga saham setiap hari dihitung menggunakan harga terakhir yang terjadi dibursa.

Gambar 2. Proses Penyaringan Emiten JII

Seleksi Syariah

Emiten tidak menjalankan usaha perjudian/permintaan yang tergolong judi, dan perdagangan yang dilarang

Bukan merupakan lembaga keuangan konvensional

Tidak memproduksi, mendistribusikan serta menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudharat

Seleksi Kapitalisasi

Proses ini menyaring 60 saham dengan nilai kapitalisasi pasar tertinggi di BEJ

Seleksi Nilai Volume Transaksi

Proses ini menyaring 30 saham dengan nilai transaksi rata-rata tertinggi harian di BEJ

PROSES EVALUASI EMITEN SETIAP 6 BULAN SEKALI

Sumber : Heri Sudarsono (2007:195)

BAB IV

KESIMPULAN

Seperti yang telah penulis sampaikan dalam identifikasi masalah di  bab pendahuluan, penulis pun menyimpulkan isi dari karya tulis ini pada tiga baian pokok, yaitu :

  1. Pengertian Pasar Modal menurut Undang-Undang Repiblik Indonesia No. 8 Tahun 1995 merupakan kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang ditebitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek tersebut. Pasar modal bertindak sebagai penghubung antara para investor dengan perusahaan ataupun institusi pemerintah melalui perdagangan instrumen keuangan jangka panjang.
  2. Perkembangan kegiatan investasi syariah di pasar modal Indonesia masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan kemajuan yang sama yang telah dicapai oleh sktor perbankan. Kenyataan lain adalah bahwa hingga saat ini, jumlah pemodal yang melakukan investasi di pasar modal khususnya yang berbasis syariah masih tergolong minim, walaupun kegiatan investasi syariah dimaksud telah lama diperkenalkan di Indonesia yaitu dengan diterbitkannya instrumen reksa dana syariah pada pertengahan tahun 1997. Di samping itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui organnya yaitu Dewan Syariah Nasional (DSN) juga telah mengeluarkan sejumlah fatwa DSN-MUI berkaitan dengan kegiatan investasi syariah di Pasar Modal Indonesia.
  3. Berdasarkan Kaidah Fiqih, kegiatan investasi dikategorikan sebagai kegitan muamalah yaitu suatu kegitan yang mengatur hubungan antara manusia, yang hukum asalnya adalah mubah (boleh) yaitu semua kegiatan dalam pola hubungan antara manusia adalah mubah (boleh) kecuali yang jelas ada larangannya (haram). Kriteria produk-produk investasi yang sesuai dengan ajaran Islam, antara lain : jenis usaha, produk barang dan jasa yang diberikan serta cara pengelolaan perusahaan Emiten tidak merupakan usaha yang dilarang oleh prinsip-prinsip Syariah, dan jenis transaksi harus dilakukan menurut prinsip kehati-hatian serta tidak diperbolehkan melakukan spekulasi yang didalamnya mengandung unsur najsy, bai’, al-ma’dum, insider trading, menimbulkan informasi yang menyesatkan, margin trading, ihtikar.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Al Mushlih dan Shalah Ash-Shawi. Bunga Bank Haram Menyikapi Fatwa MUI       Menuntaskan Keragaman Umat, Cet. 1 (Jakarta: Darul Haq, 2001)

Dewan Syariah Nasional, (2003), Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional, Jakarta (Bank Indonesia-Dewan Syariah Nasional : Edisi 2)

E.A. Koetin, analisis pasar modal, (Jakarta: Pustaka Sinar, 1993)

Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, Gunung Djati Press, Bandung, 1997

Iggi H. Achsien , Investasi Syariah di Pasar Modal, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 2000

Imam Santoso, Lc, Fiqh Muamalah, Pustaka Tarbiatuna, cetakan 1, Jakarta 2003.

Irfan Syauqi Beik, Prinsip pasar Modal Syariah, Republika Online 21 Maret 2003

M. Ali Hasan, Berbagai Transaksi Dalam Islam; Fiqh Muamalah, Jakarta, Rajawali Pers, cetakan I

Martono, Bank dan Lembaga Keuangan lain, Ekonosia (Yogyakarta), 2004.

Matewally, Teori Dan Praktek Ekonomi Islam, Bangkit Daya Insani, Jakarta 1995.

M-WEB Finance, Reksa Dana Syariah, Bagi yang Anti Riba, yang dipublikasikan kembali oleh Danareksa. Com 6 Mei 2002.

Muhammad Obaidullah, ethics and Efficiency in Islaic Stock Markets. International Journal of Islamic Financial Services. Volume 3. No 2 Juli-September 2001.

Muhammad Gunawan, Bagaimana Seharusnya Obligasi Syariah, Republika Online 7 Oktober 2002.

Muhammad Obaidullah, ethics and Efficiency in Islaic Stock Markets. International Journal of Islamic Financial Services. Volume 3. No 2 Juli-September 2001.

Nurul Huda dan Mustafa Edwin Nasution, Investasi pada Pasar Modal Syariah. Kencana Prenada Media Group, Jakarta 2007.

Pandji Anoraga dan Piji Pakarti, Pengantar Pasar Modal, cet. Iii, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2001).

Rahmat Syafe’i, Fiqih Muamalah, Pustaka setia, Bandung, 2004.

Syed Othman Alhabshi, To woerd an Islamic Capital Market.

Tjiptono Darmadji dan Hendy M Fakhruddin, pasar modal di Indonesia pendekatan Tanya jawab (Jakarta   : Selemba Empat, 2001)

www. Jsx.co.id

http://www.bapepam.go.id


[1] Irfan Syauqi Beik, Prinsip Pasar Modal Syariah, dalam //www.pesantrenvirtual.com/ekonomi/001.shtml.                 hal. 1

[2] Tjiptono Darmadji dan Hendy M Fakhruddin, pasar modal di Indonesia pendekatan Tanya jawab (Jakarta             : Selemba Empat, 2001) Ed. 1 hal 2

[3] Martono, Bank dan Lembaga Keuangan lain, Ekonosia (Yogyakarta), 2004, hal. 181

[4] Nurul Huda dan Mustafa Edwin Nasution, Investasi pada Pasar Modal Syari’ah, Kencana  Prenada        Media Group (Jakarta), 2007, hal.59

[5] Tjiptono Darmadji dan Hendy M. Fakhruddin, Op. Cit., hal.1

[6] Warkum Sumitro, Op. Cit, hal 199-200

[7] E.A. Koetin, analisis pasar modal, (Jakarta: Pustaka Sinar, 1993) hal. 59

[8] Naik turunnya kurs suatu efek ditentukan oleh daya tarik menarik antara permintaan dan penawaran efek                  tersebut. Tidak semua efek diperjualbelikan di bursa efek, karena ada persyaratan untuk listing di              bursa      efek tersebut cukup berat dan ketat.

[9] Bursa adalah pasar yang didalamnya berjalan usaha jual beli saham dan surat berharga lainnya, yang juga               melibatkan para broker yang menjadi perantara antara penjual dan pembeli. Disebut bursa karena dinisbatkan kepada sebuah hotel di Belgia di mana kalangan konglomerat dan para broker berkumpul                 untuk melakukan operasi kerja mereka. Atau dinisbatkan kepada seorang lelaki Belgia bernama Deer          Bursia, yang memiliki sebuah istana tempat berkumpulnya kaum konglomerat dan para broker untuk         tujuan yang sama. Target bursa adalah untuk menciptakan pasar simultan dan kontonyu dimana      penawaran dan permintaan serta orang-orang yang hendak melakukan perjanjian jual beli dipertemukan.           Lihat dalam Abdullah Al Mushlih dan Shalah Ash-Shawi. Bunga Bank Haram Menyikapi Fatwa MUI          Menuntaskan Keragaman Umat, Cet. 1 (Jakarta: Darul Haq, 2001) hal. 121.

[10] Iggi H. Achsien , Investasi Syariah di Pasar Modal ,( Jakarta : Gramedia Pustaka Utama,. 2000), hal. 45.

[11] www. Jsx.co.id

[12] http://www.bapepam.go.id

[13] M. Ali Hasan, Berbagai Transaksi Dalam Islam; Fiqh Muamalah, Jakarta, Rajawali Pers, cetakan I, hlm                 101.

[14] Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, Gunung Djati Press, Bandung, 1997. hal 46.

[15] Imam Santoso, Lc, Fiqh Muamalah, Pustaka Tarbiatuna, cetakan 1, Jakarta 2003, hlm 19

[16] Rahmat Syafe’i, Fiqih Muamalah, Pustaka setia, Bandung, 2004, hal 224.

[17] Dewan Syariah Nasional, (2003), Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional, Jakarta (Bank Indonesia-Dewan Syariah Nasional : Edisi 2) hlm 263

[18] Matewally, Teori Dan Praktek Ekonomi Islam, Bangkit Daya Insani, Jakarta 1995, hlm. 177.

[19] Matewally, Op.Cit., hlm 178-179

[20] Pandji Anoraga dan Piji Pakarti, Pengantar Pasar Modal, cet. Iii, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2001), hlm    34-37

[21] Nurul Huda dan Mustafa Edwin Nasution, Investasi pada Pasar Modal Syariah. Kencana Prenada Media Group, Jakarta 2007, hlm 58

[22] Syed Othman Alhabshi, To woerd an Islamic Capital Market. Hlm

[23] Muhammad Obaidullah, ethics and Efficiency in Islaic Stock Markets. International Journal of Islamic Financial Services. Volume 3. No 2 Juli-September 2001. hlm 3-6

[24] Irfan Syauqi Beik, Prinsip pasar Modal Syariah, Republika Online 21 Maret 2003

[25] Irfan Syauqi Beik, Prinsip pasar Modal Syariah, Republika Online 21 Maret 2003

[26] Muhammad Gunawan, Bagaimana Seharusnya Obligasi Syariah, Republika Online 7 Oktober 2002.

[27] M-WEB Finance, Reksa Dana Syariah, Bagi yang Anti Riba, yang dipublikasikan kembali oleh Danareksa. Com 6 Mei 2002

[28] Nurul Huda dan Mustafa Edwin Nasution, Op.Cit., hlm 56

2 Komentar

  1. JAZAKALLOH ya pa,,,
    tu9as sya slesi j9, berkat tulisan bp ini….
    tulisan bp sa9t b’guna bagi kami yan9 ingin tw tentan9 informasi ini…..:)

  2. asalamualaikum mas
    mohon bantuanya
    saya kesulitan nyari data tentang daftar emiten yang masuk dalam jakarta islamic index periode juni-desember 2006
    tolong pencerahanya
    sapa tau mas punya datanya
    mohon di share
    by: djawainside@gmail.com


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.