Ilmu=Pengetahuan yang “Benar”


Prolog

Apa itu pengetahuan merupakan pertanyaan mendasar dalam dunia akademis. Sejatinya pertanyaan retoris tersebut tidak terungkap, jika setiap manusia memahami dirinya, dan persoalannya manusia kerap sulit atau bahkan tidak mampu memahami dirinya sendiri, dan berimbas pada ketidakmampuan untuk memahami realitas dan Tuhannya.

Apa yang diketahui oleh manusia, disepakati sebagai sebuah pengetahuan knowledge. Siapapun akan memiliki pengetahuannya sendiri, yang dihasilkan melalui cara-caranya tersendiri. Dalam hal ini tidak ada parameter yang disepakati oleh menusia sampai batas mana manusia akan mampu mendapatkan pengetahuannya. Siapapun yang mengetahui sesuatu, maka ia telah mendapatkan pengetahuan tentang hal itu.

Dalam hal proses mendapatkan pengetahuan, akal manusia menjadi komponen vital dan memiliki fungsi signifikan. Sebab melalui organ itulah, manusia dibedakan dengan makhluk Tuhan lainnya. Dalam perspektif lain, disamping akal, manusia memiliki hati qalb, dalam menentukan pengetahuan itu apakah baik untuknya atau tidak.

Walaupun pengetahuan yang ada dalam diri manusia sepertinya muncul dan berkembang demikian adanya, akan tetapi jika dikaji secara filosofis tidaklah demikian. Menurut Juhaya S Pradja, pengetahuan yang ada dalam diri manusia setidaknya memiliki tiga kriteria umum[1], yakni:

  1. Adanya suatu system gagasan dalam fikiran
  2. Persesuaian antara gagasan itu dengan benda-benda yang sebenarnya
  3. Adanya keyakinan tentang persesuaian tersebut.

Sebenarnya ketiga kriteria umum di atas, ada dalam benak dan fikiran manusia yang sehat, mungkin hanya bahasanya saja yang tidak semua orang mampu mengungkapkannya. Seperti, gagasan dalam fikiran, tentu saja siapapun manusianya jika ia memiliki rasa ingin tahu curiosity, maka fikirannya akan dengan segera mengartikulasikan apa yang diinderanya melalui jalan fikiran. Artinya, kriteria yang diungkapkan di atas, merupakan pengetahuan dalam kajian filsafat, dan filsafat tentu bukan menjadi menu bagi orang kebanyakan.

Pengetahuan yang dimiliki manusia tentu saja beragam, bermacam-macam dan jelas tidak terbatas –dalam arti pengetahuan, bukan secara hakekat-. Sebab realitas yang dihadapi manusia senantiasa berubah. Fakta ini akan berimplikasi pada perwujudan pengetahuan yang dapat menjadikan manusia sejahtera, tercerahkan dan terpuaskan secara komunal. Karenanya untuk sampai pada harapan tersebut, perlu parameter yang disepakati secara komunal pula, dan tentunya namanya-pun menjadi berbeda, tidak lagi menjadi pengetahuan, akan tetapi menjadi ilmu pengetahuan.

Manusia memiliki kemampuan untuk selalu ingin mengetahui curiosity. Artinya bahwa dalam setiap diri manusia ada keinginan untuk mengetaui apa yang diinderanya. Dan setelah ia tahu apa yang diketahuinya maka itulah yang dimaksud dengan pengetahuan. Dan cara untuk memperoleh pengetahuan itu ada yang dengan usaha juga yang tanpa usaha.

Selanjutnya, kita mengenal istilah ilmu pengetahuan, yang seringkali berdampak pada ketidakjelasan pengetahuan itu sendiri. Ilmu dalam istilah barat adalah science, al-‘ilmu, sedangkan pengetahuan sejatinya adalan knowledge, al-ma’rifaat. Jelas bahwa ilmu adalah bagian dari pengetahuan. Maka di judul yang penulis sampaikan pada makalah ini, kata benar diberi tanpa kutip karena kebenaran yang dimiliki oleh ilmu adalah yang mencapai kualifikasinya yang akan penulis bahas selanjutnya.

Ilmu Pengetahuan

Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah. Menurut Sudirman bahwa:

Ilmu dalam bahasa arab yakni ‘alima’ suatu uraian yang tersusun dengan lengkap tentang salah saatu dari keberadaan: uraian yang tersusun dengan lengkap itu adalah tentang segi-segi dari keberadaan tertentu, segi-segi keberadaan tersebut saling berkaitan, mempunyai hubungan sebab-akibat, tersusun logis daan diperoleh melalui cara atau metode tertentu.

Menurut Nur Uhbiyati ilmu ialah suatu kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematis dan mempunyai metode-metode tertentu yang bersifat ilmiah. Menurut Hasan langgulung Ilmu dalam bahasa Arab berasal dari kata kerja ‘alima yang bermakna mengetahui. Oleh karena itu dengan adanya ilmu berarti untuk menghindari keraguan dan menjauhkan seseorang  untuk salah atau sesat dalam bertindak.

Ilmu memiliki landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis, dalam hal ini Jujun S Suriasumantri menegaskan bahwa :

Dasar ontologi ilmu adalah mempelajari berbagai gejala dan peristiwa yang menurut anggapannya mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia. Berdasarkan objek yang ditelaahnya, maka ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris, dimana objek-objek yang berada di luar jangkauan manusia tidak termasuk ke dalam bidang penelaahan keilmuan. Dasar apistemologi ilmu adalah pengetahuan yang diperoleh dengan menerapkan metode keilmuan. Sedangkan dasar aksiologinya adalah ilmu tidak mengenal sifat baik dan buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah yang harus mempunyai sikap, dalam hal ini berarti ilmu bersifat netral.

Berdasarkan penjelasan beberapa tokoh di atas, jelas bahwa ilmu akan sangat berbada dengan apa yang kita fahami dengan pengetahuan metafisik. Jika digambarkan adalah sebagaimana berikut:

Macam  pengetahuan

Objek

Paradigma

Metode

Criteria

Sains/ilmu Empiric Sains Sains Logis dan empiris
Filsafat Abstrak logis Logis Logis Logis
Mistik Abstrak supralogis Mistik Mistik Keyakinan dan rasa

Point yang kerap menjadi pembeda antara pengetahuan ilmu, filsafat dan mistik adalah dalam metodenya. Dalam konstruksi metodologi ilmu dikenal dengan istilah metode ilmiah. Cara berpikir metode ilmiah adalah dengan mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif (dari kesimpulan yang umum ke realitas yang khusus) dan induktif (dari realitas-realitas yang khusus ke kesimpulan umum). Selanjutnya langkah-langkah metode ilmiah adalah sebagai berikut:

  1. Perumusan masalah
  2. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis
  3. Perumusan hipotesis (jawaban sementara)
  4. Pengujian hipotesis
  5. Penarikan kesimpulan

Secara filosofis apa yang dimaksud dengan ilmu yakni memenuhi aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologisnya. Maksudnya,

Ontologis, objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut, bagaimana hubungan antara objek tadi degnan daya tangkap manusia,

Epistemologis, bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu, bagaimana prosedurnya, hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar, apakah yang disebut kebenaran, akapah kriterianya,

Aksiologis, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan, bagaiamana kaitan antara cara penggunaan ilmu tersebut dengan kaidah-kaidah moral,

Jadi ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut berdasarkan atas penjelasan yang ada. Dan sarana untuk melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana atau alat berpikir ilmiah yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistika.

Dalam ranah ilmu kebenaran disusun atas criteria kebenaran, yakni;

  1. Teori koherensi, yakni pernyataan dianggap benar jika pernyataan itu bersifata koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Misal, setiap manusia akan mati, maka di fulan pasti akan mati.
  2. Teori korespondensi, adalah suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang dikandung itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Ibu kota Indonesia adalah Jakarta, dan memang faktanya ibukota Indonesia adalah Jakarta.
  3. Teori pragmatis, ialah kebenaran suatu pernyataan diukur dengan criteria apakah pernyataan itu bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau memiliki kegunaan dalam kehidupan manusia.

Kesimpulan

Jadi bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar –dengan tanda kutip-, adalah segala pengetahuan yang dimiliki manusia yang memenuhi criteria-kriteria keilmua sebagaimana dijelaskan diatas.


[1] Aliran-aliran filsafat dan etika, Yayasan Piara: Bandung, 1997, hlm 6

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.