Proses Sosial

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masyarakat mempunyai aspek statis dan aspek dinamis. Analisa pertama bertolak dari peninjauan aspek morfologinya seperti unsur sturktur sosial. Dalam peninjauan kedua, bahwa unsur-unsur dan bentuk struktural tersebut dipahami dalam hubungan yang dinamis, tingkat pergeseran dan pertumbuhan, perubahan dan pertumbuhan. Dengan kata lain, tidak satupun yang berdiri sendiri, segalanya dapat dipahami dalam hubungan dan interaksi, dan mempunyai derajat dinamika. Dengan adanya unsur dinamika, seperti berbagai proses, interaksi, kepentingan, peranan, dan daya-daya dorong lainnya. Peluasan kebutuhan dan aspirasinya. Dinamika sosial, menunjukisi pokok analisis dinamis kaitan dorongan dan kaitan berbagai gejala yang terkait dalam aktifitas fungsi-fungsi dalam kehidupan sosial masyarakat.

Suatu Proses dalam gejala perubahan, penyesuaian, pembentukan dalam waktu dan ruang baik dalam aspek kualitatif maupun kuantitatif, menunjukan rangkaian peristiwa yang menimbulkan sistem semula atau menunjuk proses dengan serasi atau hamonis, dan dapat pula melalui pertentangan sebagai akibat interaksi dengan berlanjut perubahan dalam struktur. Lapangan Interaksi dapat terjadi dalam antarindividu, antara kesatuan sosial, antar individu dan unsur kebudayaan atau sebaliknya.

1.2 Indentifikasi masalah

. Adapun pembahasan tentang proses sosial mencakup hal yang luas sehingga pembahasannya dibatasi hanya pada bentuk interaksi sosial yaitu bentuk-bentuk yang tampak apabila amanusia baik individu atau kelompok mengadakan hubungan satu sama lain terutama dengan mengetengahkan kelompok serta lapisan sosial sebagai unsur pokok struktur sosial. Diharapkan dengan cara ini akan diperoleh aspek dinamis dan statis pada masyarakat.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Proses Sosial Dalam Definisi Teori

Proses sosial adalah hubungan pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama.[1] Adapun menurut Soerjono Soekanto proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang peroarangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menemukan sistem serata bentuk-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang telah ada. Pengeretian ini sangat luas karena mencakup hal yang nyata dan tidak nyata, proses sosial menjadi hal yang penting dalam pembahasan sosiologi karena pengetahuan tentang struktur masyarakat saja tidak cukup untuk memperoleh gambaran nyata mengenai kehidupan bersama manusia. Bahkan Tamotsu Shibutani menyatakan bahwa soisologi mempelajari transaksi-transaksi sosial yang mencakup usaha-usaha kerjasama antara para pihak, karena segala kegiatan manusia didasarkan pada gotong royong.[2]

Pengetahuan tentang proses-proses sosial memungkinkan seseorang untuk memperoleh pengertian mengenai hal yang dinamis dalam masyarakat atau gerak masyarakat.

2.2 Interaksi Sosial Sebagai “Sebuah Pendekatan”

Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial (yang dapat dinamakan pula proses sosial), karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis dan menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia maupun antara orang per orangan dengan kelompok manusia.[3] Ketika dua orang bertemu maka terjadilah interaksi sosial. Mereka saling menegur, ngbrol atau berkelahi, walaupun mereka tidak saling menyapa, sebetuilnya interaksi sosial telah terjadi karena mereka masing-masing menyadari adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan-perubahan dalam perasaan maupun syaraf orang yang bersangkutan, yang disebabkan oeh minyak wangi, keringat dan lain-lain, hal tersebut akan meninggalkan kesan kemudian menentukan tindakan apa yang akan dilakukan.

Dengan kata lain, Inti dari semua kehidupan sosial adalah interaksi sosial, tanpa interaksi sosial tidak akan mungkin terwujud kehidupan bersama, sehingga secara otomatis interaksi sosial pun menjadi dasar dari proses sosial. Karena bertemunya seseorang tanpa berbicara, berbincang dan menyepakati suatu tujuan tidak akan menghasilkan kelompok sosial.

2.2.1. Sebab Terjadinya Interaksi Sosial

Berlangsungnya suatu proses interaksi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :

1) Imitasi, salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku

2) Sugesti, faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau suatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain.

3) Identifikasi, sebenarnya merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam daripada imitasi, karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini.

4) Proses simpati, sebenarnya merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Di dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.[4]

2.2.2. Kontak Sosial Ssebagai Syarat Interaksi Sosial

Sebuah interaksi sosial tidak akan terjadi apabila tidak memenuhi 2 syarat berikut, yaitu : pertama, kontrak sosial; kedua komunikasi.[5]

Kata kontak berasal dari bahasa latin con atau cum (yang artinya bersama-sama) dan tango (yang artinya menyentuh), jadi secara harfiah berarti sama-sama menyentuh. Kemudian dalam kerangka sosiologi dipahami sebagai suatu hubungan yang terjadi antara individu atau kelompok dengan tidak dibatasi pada hubungan seperti berbicara. Bahkan dengan kemajuan teknologi manusia dapat berhubungan melalui alat-alat elektronik.

Kontak sosial dapat berhubungan langsung dalan tiga bentuk, yaitu:

  1. Antar oarng perorangan, misalnya apabila anak kecil mempelajari kebiasaan-kebiasaan dalam keluarganya, proses demikian terjadi melalui sosialisasi (sosialization), yaitu proses, dimana anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat di mana ia menjadi anggota.
  2. Antara orang perorangan dengan suatu kelompok manusia tau sebaliknya. Misalnya apabila suatu partai politik memaksa anggotanya untuk menyesuaikan diri dengan ideologi dan programnya.
  3. Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya. Misalnya dua partai politik bekerjasama untuk mengalahkan partai politik yang ketiga dalam pemilihan umum.[6]

Suatu kontak dapat bersifat positif atau negatif, dapat pula bersifat primer atau sekunder, dikatakan positif apabila dari kontak tersebut menghasilkan atau mencapai tujuan dan bersifat negatif apabila sebaliknya. Adapun dikatakan primer apabila yang mengadakan hubungan bertemu langsung dan bersifat sekunder apabila sebaliknya.

2.3 Proses Sosial Senagai Sebuah Turunan teori bentuk Interaksi sosial

Setelah memaparkan pendekatan – pendekatan pada faktor terjadinya interaksi sosial, penulis pun berargumentasi, dengan bahwa fungsi teori pada proses sosial sebenarnya punya kesamaan bentuk dengan fungsi teori dari Interaksi sosial.

2.3.1 Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

Bentuk interaksi sosial dapat berupa sebagi berikut :

  1. Kerja sama (Cooperation)
  2. Akomodasi (Accommodation)
  3. Persaingan (Competition)
  4. Pertikaian (Conflik)[7]

Konflik selalu menuju suatu penyelesaian, namun dalam prosesnya dapat berkondisi sementara, yang disebut akomodasi, ada yang mengganggap akomodasi sebagai salah satu bentuk interaksi sosial.

2.3.2 Bentuk – Bentuk Proses Sosial

Gillin dan Gillin[8] menggolongkannya secara lebih luas, mereka membagi proses sosial yang timbul akibat interaksi sosial ke dalam 2 kelompok, yaitu :

  1. Proses yang asosiatif (Proseses of association) yang terbagi kedalam tiga bentuk khusus, yaitu :

a. Akomodasi

b. Asimilasi

c. Akulturasi

  1. Proses yang disasosiatif (Proseses of disassociation) yang mencangkup :

a. Persaingan

b. Persaingan yang mencangkup kontravensi dan pertentangan atau pertikaian (conflict)

Adapun bentuk-bentuk proses sosial menurut Kimball Young[9] :

1. Oposisi (Opposisition) yang mencangkup persaingan, pertentangan dan pertikaian.

2. Kerjasama (Cooperation) yang menghasilkan akomodasi, dan

3. Direrensisi (Differentiation) yang menghasilkan suatu proses dimana setiap orang dalam masyarakat memperoleh hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang berbeda dalam masyarakat atas perbedaan usia, seks dan pekerjaan.

Dalam makalah ini akan dijelaskan bentuk-bentuk proses sosial diatas, walaupun terdapat beberapa perbedaan dalam pengklasifikasiannya namun pada dasarnya tidak ada perbedaan yang signifikan.

2.4 Penjelasan Bentuk Proses Sosial

2.4.1 Proses-Proses yang asosiatif

1) Kerjasama (co-operation)

Bentuk kerjasama dapat dijumpai pada semua kelompok sosial, kebiasaan kerjasama dimilai sejak kanak-kana. Kerjasama terjadi karena dua orang atau lebih (dua kelompok atau lebih) menginginkan mencapai suatu tujuan yang diyakini akan bermanfaat bagi mereka. Kerjasama timbul karena orientasi orang terhadap kelompoknya, maka harus ada pembagian kerja yang sesuai dan imblan yang jelas. Kejasama akan bertambah kuat apabila ada ancaman dari luar atau sesuatu yang menyinggung nilai adat istiadat suatu kelompok. Masyarakat yang menjunjung tinggi kerjasama biasanya kurang kreatif karena selalu mengharapkan bantuan dari rekannya.

Menurut Syahril Sabaini, dkk, bentuk- bentuk kerjasama adalah sbb :

  1. Bargaining, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua organisai.
  2. cooptation, yaitu proses penerimaan unsur baru dalam kepemimpinan suatu organisasi guna menghindari goncangan stabilitas organisasi tersebut (saling menndukung)
  3. Coalition, yaitu kombinasi dari dua organisasi yang mempunyai tujuan sama, sehingga bersifat kooperatif, jika kerja sama tresebut berdasarkan bagi hasil disebut joint-venture.[10]

Adapun James D. Thompshon seperti yang dikutif Soerjono Soekanto membaginya menjadi 5 bentuk yang pada hakikatnya tidak ada pernedaan, yaitu :

  1. Kerukunan yang mencangkup gotong-royong dan tolong-menolong.
  2. Bargaining
  3. Ko-optasi
  4. Koansi
  5. Join Venture.

2) Akomodasi

Akomodasi digunakan dalam dua arti, yaitu menunjukan pada suatu keadaan dan menunjukan suatu proses, akomodasi sebagai suatu keadaan berarti adanya suatu keseimbangan (aquiblirium) dalam interaksi sosial. Adapun dalam arti sebuah proses menunjukanpada usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan, yaitu usaha untuk mencapai kesetabilan.

Akomodasi merupakn suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpe menghancurkan pihak lawan tresebut kehilangan pribadiannya. Tujuan akomodasi adalah untuk mengurangi pertentangan manusia akibat perbedaan paham, untuk mencegah meledaknya suatu pertentangan, usaha untuk memungkinkan adanya kerjasama antar kelompok sosial, dan usaha untuk melebur antara kelompok-kelompok sosial yang terpisah.

Bentuk-bentuk akomodasi sebagai suatu proses adalah sbb

  1. Coertion, adalah akomodasi yang dilaksanakan karena paksaan, baik secara fisik maupun psikis. Misalnya perbudakan, pada negara totaliter coertion dijalankan manakala suatu kelompok suatu minoritas dalam masyarakat memegang kekuasaan.
  2. Compromise, suatu pihak bersikap untuk bersedia merasakan dan mengerti keadaan pihak lainnya dan sebaliknya, misalnya beberapa partai politik sadar bahwa mereka mempunyai kekuatan yang sama dalam suatu pemilihan umum.
  3. Arbitration, merupakan suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak mampu menghadapinya sendiri, pertentangan diselesaikan oleh pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak atau oleh sebuah badan hukum yang lebih tinggi. Misalnya dalam penyelesaian perburuhan.
  4. Mediation, melibatkan pihak ketiga dalam menyelesaikan masalah secara damai dengan peranannya sebagai mediator.
  5. Concilition, suatu usaha untuk memprtemukan keinginan-keingina pihak yang berselisih guna tercapainya tujuan bersama, misalnya beberapa unsur dalam panitia penyelesaiannya masalah perburuhan.
  6. Toleration, juga sering dinamakan tolerant-participation suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan formal bentuknya, didasari oleh watak manusia yang berkeinginan munculnya konflik.
  7. Stalemate, merupakan suatu akomodasi, dimana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya, hal ini terjadi karena kemungkinan pihak yang berselisih sudah tidak mungkin maju atau mundur, mislnya stalemete terjadi antara Amerika dan Soviet Rusia dibidang nuklir.
  8. Adjudication, yaitu penyelesaian perkara atau sengketa dipengadilan.

Gillin dan Gilin[11] menjelaskan hasil-hasil suatu proses akomodasi ialah sibagai berikut :

  1. Akomodasi dan integrasi masyarakat telah berbuat banyak untuk menghindarkan masyarakat dan benih-benih pertentangan latent yang akan melahirkan pertentangan baru.
  2. Menekan oposisi
  3. Koordinasi berbagai keperibadian yang berbeda
  4. Perubhan lembaga-lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan yang terus berubah
  5. Perubahan-perubahan dalam kedudukan
  6. Akomodasi membuka jalan ke arah asimilasi

3) Asimilasi

Setiap orang sebagai warga kelompok tadi saling bergaul secara langsung dan intensif untuk waktu yang lama, sehingga kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri.

Adapun faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya asimilasi antara lain adalah :

  1. Toleransi
  2. Kesempatan-kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi
  3. Sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya.
  4. sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat.
  5. Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan.
  6. Perkawinan campuran (amalgamation)
  7. Adanya musuh bersama dari luar.

Berikut adalah faktor-faktor yang dapat menghalang terjadinya asimilasi adalah antara lain :

  1. Terisolasi kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat (biasanya golongan minoritas)
  2. Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi dan sehubungan dengan itu, seringkali timbul faktor ketiga, yaitu :
  3. Perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi.
  4. Perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu lebih tinggi dari pada kebudayaan golongan atau kelompok lainnya.
  5. Dalam batas-batas tertentu, perbedaan warna kulit atau perbedaan ciri-ciri badaniyah dapat pula menjadi salah satu faktor penghalang terjadinya asimilasi.
  6. Memiliki in-group feeling yang tinggi. In group feeling yang berarti adanya suatu perasaan yang kuat sekali bahwa individu terkait pada kelompok dan kebudayaan kelompok yang bersangkutan.
  7. Apabila kaum minoritas mengalami gangguan-gangguan dari golongan yang berkuasa.
  8. Adanya perbedaan kepentingan ditambah dengan pertentangan-pertentangan pribadi.

2.4.2. Proses Disosiatif

Proses-proses disosiatif sering disebut sebagai oppositional processes, oposisi dapat diartikan sebagai cara berjuang melawan seseorang stau sekelompok manusia, untuk mencapai tujuan tertentu, terbatasnya makanan, tempat tinggal, dll telah melahirkan beberapa bentuk kerja sama dan oposisi. Pola oposisi tersebut dinamakan juga sebagai perjuangan untuk tetap hidup. Untuk kepentingan analisis ilmu pengetahuan, oposisi atau proses disosiatif dibedakan dalam tiga bentuk. Yaitu : persaingan (competitioan), Kontravensi (contravention) dan pertentangan atau pertikaian (conflicl).

1) Persaingan (Competition)

Persaingan merupakan proses sosial, dimana seseorang atau kelompok sosial bersaing memperebukan nilai atau keuntungan bidang kehidupan melalui cara-cara menarik perjatian publik. Persaingan dapat bersifat pribadi dan dapat berupa kelompok atau organisasi. Bentuk persaingan dapat berupa sebagai berikut :

  1. Persaingan ekonomi, yaitu usaha memperebutkan usaha barang dan jasa dari segi mutu, jumlah, harga dan pelayanan.
  2. Persaingan kebudayaan, usaha memperkenalkan nilai-nilai budaya agar diterima dan dianut. Persaingan dapat terjadi di bidang keagamaan, pendidikan, peradialan, kesenian dan lembaga pemasyarakatan lainnya.
  3. Persaingan sttus sosial, udaha mencapai dan memperebutkan kedudukan dan peran yang terpandang, baik oleh individu maupun kelompok. Kedudukan dan peran apa yang dikejar sangat tergantung pada nilai apa yang akan paling dihargai pada masa tertentu.
  4. Persaingan ras, yaitu persaingan kebudayaan khas yang diwakili ciri ras selaku perlambang sikap beda budaya, hal ini terjadi karena keadaan badaniah yang tampak, lebih jelas terlihat dari pada nilai yang dianutnya.

Persaingan dalam batas-batas tertentu mempunyai beberapa fungsi yaitu antara lain :

  1. Untuk menyalurkan keinginan-keinginan yangbersifat kompetitif.
  2. sebagai jalan dimana keinginan, kepentingan serta nilai-nilai pada suatu masa menjadi pusat perhatian tersalurkan dengan sebaik-baiknya.
  3. Sebagai alat untuk mengadakan seleksi atas dasar sex dasn seleksi sosial.
  4. Sebagai alat utnuk menyaring warga golongan-golongan karya untuk mengadakan pembagian kerja.

2) Kontravensi (Contravention)

Pada hakikatnya kontravensi berada diantara persaingan dan pertikaian. Kontravensi merupakan suatu proses sosial yang ditandai oleh gejala-gejala ketidak puasasanterhadap diri seseorang atau terhadap suatu rencana.

Menurut Leopold von Wiese dan Howard Bechker, baahwa bentuk kontravensi ada 5 (lima)[12] :

  1. Prose yang umum meliputi perbuatan seperti penolakan, keenganan, perlawanan, perbuatan menghalang-halangi, protes, gangguang-gangguan, kekerasan, pengacauan rencana
  2. Prose yang sederhana seperti menyangkal pernyataan orang lain di muka umum, memaki-maki melalui surat selebaran, mencerca, memfitnah, melemparkan beban pembuktian pada pihak lain, dst.
  3. Proses yang intensif, penghasutan, menyebarkan desas desus yang mengecewakan pihak lain
  4. Proses yang rahasia, mengumumkan rahasian orang, berkhianat.
  5. Prose yang taktis, mengejutkan lawan, mengganggu dan membingungkan pihak lain.

Contoh lain adalah memaksa pihak lain menyesuaikan diri dengan kekerasan, provokasi, intimidasi, dst.

Menurut Leo von Wiese dan Howard Becker ada 3 tipe umum kontravensi[13] :

  1. Kontraversi generasi masyarakat : lazim terjadi terutama pada zaman yang sudah mengalami perubahan yang sangat cepat
  2. Kontraversi seks : menyangkut hubungan suami dengan istri dalam keluarga.
  3. Kontraversi Parlementer : hubungan antara golongan mayoritas dengan golongan minoritas dalam masyarakat.baik yang menyangkut hubungan mereka di dalam lembaga legislatif, keagamaan, pendidikan, dst.

Tipe Kontravensi :

  1. Kontravensi antarmasyarakat setempat, mempunyai dua bentuk :
    1. Kontavensi antarmasyarakat setempat yang berlainan (intracommunity struggle)
    2. Kontravensi antar golongan-golongan dalam satu masyarakat setempat (intercommunity struggle)
  1. Antagonisme keagamaan
  2. Kontravensi Intelektual : sikap meninggikan diri dari mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi atau sebaliknya
  3. Oposisi moral : erat hubungannya dengan kebudayaan.

3) Pertentangan (Pertikaian atau conflict)

Pribadi maupun kelompok menydari adanya perbedaan-perbedaan misalnya dalam ciri-ciri badaniyah, emosi, unsur-unsur kebudayaan, pola-pola perilaku, dan seterusnya dengan pihak lain. Ciri tersebut dapat mempertajam perbedaan yang ada hingga menjadi suatu pertentangan atau pertikaian.

Sebab musabab pertentangan adalah :

  1. Perbedaan antara individu
  2. Perbedaan kebudayaan
  3. perbedaan kepentingan
  4. perubahan sosial.

Pertentangan dapat pula menjadi sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam masyarakat. Timbulnya pertentangan merupakan pertanda bahwa akomodasi yang sebelumnya telah tercapai.

Pertentangan mempunyai beberapa bentuk khusus:

  1. Pertentangan pribadi
  2. Pertentangan Rasial : dalam hal ini para pihak akan menyadari betapa adanya perbedaan antara mereka yang menimbulkan pertentangan
  3. Pertentangan antara kelas-kelas sosial : disebabkan karena adanya perbedaan kepentingan
  4. Pertentangan politik : menyangkut baik antara golongan-golongan dalam satu masyarakat, maupun antara negara-negara yang berdaulat
  5. Pertentangan yang bersifat internasional : disebabkan perbedaan-perbedaan kepentingan yang kemudian merembes ke kedaulatan negara

Akibat-akibat bentuk pertentangan

  1. Tambahnya solidaritas in-group
  2. Apabila pertentangan antara golongan-golongan terjadi dalam satu kelompok tertentu, akibatnya adalah sebaliknya, yaitu goyah dan retaknya persatuan kelompok tersebut.
  3. Perubahan kepribadian para individu
  4. Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia
  5. Akomodasi, dominasi, dan takluknya salah satu pihak

Baik persaingan maupun pertentangan merupakan bentuk-bentuk proses sosial disosiatif yang terdapat pada setiap masyarakat.

BAB III

KESIMPULAN

Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang peroarangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menemukan sistem serata bentuk-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang telah ada

Dalam kaitannya dengan pengetahuan, proses-proses sosial memungkinkan seseorang untuk memperoleh pengertian mengenai hal yang dinamis dalam masyarakat atau gerak masyarakat.

Sedangkan untuk, bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial (yang dapat dinamakan pula proses sosial), karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis dan menyangkut hubungan antara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia maupun antara orang per orangan dengan kelompok manusia.

Berlangsungnya suatu proses interaksi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : Imitasi, Sugesti, Identifikasi, Proses simpati.

Sebuah interaksi sosial tidak akan terjadi apabila tidak memenuhi 2 syarat berikut, yaitu : pertama, kontrak sosial; kedua komunikasi Bentuk interaksi sosial dapat berupa sebagi berikut :Kerja sama (Cooperation), Akomodasi (Accommodation), Persaingan (Competition), Pertikaian (Conflik).

Terakhir, proses sosial yang timbul akibat interaksi sosial ke dalam 2 kelompok Proses yang asosiatif (Proseses of association) yang terbagi kedalam tiga bentuk khusus, yaitu : Akomodasi, Asimilasi ,Akulturasi. Proses yang disasosiatif (Proseses of disassociation) yang mencangkup ;Persaingan yang mencangkup kontravensi dan pertentangan atau pertikaian (conflict).

DAFTAR PUSTAKA

· Asy’Ary Imam Sapari, Sosiologi Kota dan Desa, Usaha Nasional Indonesia, 1993.

· Alisjahbana Takdir, Antropologi Baru, Dian Rakyat, Jakarta, 1966.

· Etzioni, Amitai, Social Change, New York : Basic book, 1973.

· Fauzi Ahmad, Psikologi Umum, Pustaka Setia, Bandung, 1997.

· Gilin dan Gilin, Cultural Sosiology, a revision of an introduction of Sosiology, (New york : The Macmillan Company, 1954)

· Hartoko Dick, Tantangan Kemanusian Universal, Kanisius, Yogyakarta, 1992.

· Kimbali Young, Sosiology of Study and Culture, (Washington: Education Press, 1994)

· Leopold von Weise dan Howrd Becker, Systymatic Sosiology, (New York : John R.Wiley dan Sons : 1932..

· Ritzer George, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berpradigma Ganda, Rajawali, Jakarta, 1985.

· Sarbaini, Syahril, Sosiologi dan Politik. Bogor : Ghalia Indonesia, 2004.

· Sajogyo Pudjiwati, Sosiologi Perdesaan, Gajah Mada University Press, yogyakarta, 1995.

· Sears David O, Psikologi Sosial, Erlangga, Jakarta, 1988.

· Soejono Soekanto, Faktor-faktor Dasar Interaksi Sosial dan Kepatuhan Pada Hukum-hukum Nasional No. 25, 1994.

· Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002)

· Syahril Sarbaini, Sosiologi dan Politik[1] Gilin dan Gilin, Cultural Sosiology, a revision of an introduction of Sosiology

· Tsamotsu Shibutani, Social Process an Introduction to Sosiology, ( Berkeley: Universsity of California Press, 1986)

· Pacson, talcott. The Social System, New York: The pripees, 1994

· Turner Bryan S, Weber dan Islam, Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi Agama/IAIN, Jakarta, 1983.

· Widjaja. A.W., Ilmu Komunikasi, Bina Aksara, Jakarta, 1988.


[1] Syahril Sarbaini, Sosiologi dan Politik. (Bogor : Ghalia Indonesia, 2004), hal. 27.

[2] Tsamotsu Shibutani, Social Process an Introduction to Sosiology, ( Berkeley: Universsity of California Press, 1986), hal. 5.

[3] Gilin dan Gilin, Cultural Sosiology, a revision of an introduction of Sosiology, (New york : The Macmillan Company, 1954), ha. 489.

[4] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 63.

[5] Soejono Soekanto, Faktor-faktor Dasar Interaksi Sosial dan Kepatuhan Pada Hukum-hukum Nasional No. 25, 1994.

[6] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar,hal. 65-66.

[7] Syahril Sarbaini, Sosiologi dan Politik, hal. 27-28.

[8] Gilin dan Gilin, Cultural Sosiology, a revision of an introduction of Sosiology, hal. 501.

[9] Kimbali Young, Sosiology of Study and Culture, (Washington: Education Press, 1994), hal. 71.

[10] Syahril Sarbaini, Sosiologi dan Politik, hal. 28.

[11] Gilin dan Gilin, Cultural Sosiology, a revision of an introduction of Sosiology,hal. 606-607.

[12] Leopold von Weise dan Howrd Becker, Systymatic Sosiology, (New York : John R.Wiley dan Sons : 1932. Bab. 13.

[13] Ibid.

1 Komentar

  1. makasih banyak kk artikelnya, buat nambah referensi tugas nih🙂


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s