Religiusitas IPTEK

I. PENDAHULUAN

Bila kita bandingkan tubuh manusia dengan tubuh hewan tingkat tinggi lainnya, maka tubuh manusia lemah, misalnya: gajah, harimau, burung, buaya, dan sebagainya. Gajah dapat mengangkat balok yang berat, harimau dapat berjalan dengan cepat,burung dapat terbang, dan buaya dapat berenang cepat. Tetapi rohani manusia yaitu akal budi dan kemauannya sangat kuat, sehingga dengan akal budi dan kemauannya itu manusia dapat mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Dengan kedua alat ini manusia dapat mengungguli makhluk yang lainnya.

Dengan akal budinya, menyebabkan rasa ingin tahu manusia tidak tetap sepanjang zaman. Rasa ingin tahu manusia tidak pernah dapat di puaskan, apabila suatu masalah dapat dipecahkan, maka akan timbul permasalahan lain yang menunggu pemecahannya. Seiring dengan perkembangan kuoritas manusia yang kian berkembang, mereka mencoba menggunakan pengamatan dan pengalaman untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul di benak mereka. Tetapi metode yang mereka gunakan seringkali tidak dapat memuaskan , terbentur oleh pengetahuan yang terbatas maka mitospun mulai berkembang tepatnya pada zaman Babylonia yaitu kira-kira 700-600 SM. Kejadian itu tidak berlangsung lama, sekitar 624-548 SM mulai lahir seorang pemikir besar pada zaman itu. Thales berpendapat bahwa keanekaragaman benda di alam ini merupakan gejala alam saja, pada waktu itu pemikirannya menjadi luar biasa, karena sebelumnya masih banyak orang berpendapat bahwa benda yang beranekaragam itu diciptakan oleh dewa-dewa.

Selanjutnya berdasar kemampuan berfikir manusia yang semakin maju dan perlengkapan pengamatan semakin sempurna, maka mitos dengan berbagai legenda makin ditinggalkan orang dan cenderung menggunakan akal sehat dan rasio.

II. PENGARUH PARADIGMA DALAM PERKEMBANGAN IPTEK

Para ahli sejarah sepakat, bahwa sejarah perkembangan pemikiran diawali oleh Thales dan perkembangan ilmu pengetahuan modern yang kita kenal dewasa ini beserta aplikasi teknologi dan industrialnya diawali ketika Isac Newton membacakan bukunya yang berjudul Principiae philoshopiae matematica, di depan Royal Society of London, lebih dari 300 tahun yang lalu, yaitu pada abad ke-17, tepatnya pada tanggal 28 April 1686. Dampak paling besar terhadap perkembangan pemikiran ilmu pengetahuan ditimbukan oleh volume ketiga dari Principae tersebut yang berjudul The System of World, yang berisi hukum univeral tentang gravitasi atau gaya tarik bumi. Namun, kalau kita lihat secara keseluruhan, buku Newton tersebut berisikan tentang berbagai hukum dasar tentang gerakan disertai dengan rumusan-rumusan yang jelas tentang beberapa konsep fundamental, seperti konsep tentang materi, massa atau berat dari materi, kecepatan, percepatan, inertia,dsb. Teori –teori yang termuat dalam buku Newton inilah yang kemudian dikenal dengan hukum-hukum dasar Mekanika Klasik.

Sejak saat itulah perkembangan ilmu pengetahuan beserta aplikasi teknologi dan industrialnya mengikuti konsep-konsep dasar Newton. Maka lahirlah apa yang dikenal dengan sejarah ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai munculnya  Newton paradigma atau paradigma Newtonian. Sesuai dengan konsep-konsep Newton, maka paradigma Newton ini bersifat mekanistik deterministic, yaitu apabila kondisi awal dari sesuatu dapat ditentukan terlebih dahulu secara benar dan akurat, maka kondisi berikutnya dapat diprediksi secara lebih benar dan akurat. Misalnya, kalau suatu kendaraan bergerak dengan kecepatan 60km. Perjam menempuh jarak 120km, maka kita dapat memprediksikan dia akan sampai ke tempat tujuan dalam waktu 2 jam.

Inilah paradigma Newtonian, dan paradigma ini berkembang ke semua ilmu, termasuk dalam ilmu-ilmu social. Karena sifatnya yang deterministic dan mekanistik,linier, sehingga dalam pradigma Newtonian itu seolah-olah hanya ada satu solusi.

Paradigma Newtonian yang bersifat mekanistik-detrministik itu kemudian mampu memacu timbulnya revolusi industri di Inggris pada abad ke-17, yaitu dimulai dengan ditemukannya mesin tenun, mesin cetak, yang kemudiam mejalar sampai ke daratan Eropa dan bahkan mencapai daratan Amerika. Revolusi industri inilah yang merupakan perwujudan dari aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang atas dasar paradigma Newtonian. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dengan paradigma ini mencapai kurun waktu 300 tahun sampai pada awal abad 20 ini. Jadi, mulai abad ke-17 paradigma Newtonian terus mendominasi sampai pada abad ke-20 ini. Sedangkan aplikasi industrialnya yang dimulai sejak revolusi industri berkembang melalui beberapa tahapan: pertama, mekanisasi pada abad ke-17; kedua, energisasi pada abad ke-18, yaitu ditemukannya mesin uap, lalu timbul kapal uap, kereta api, motor uap, penumbuk gandum dengan mesin mesin uap; ketiga, optimalisasi (abad ke-18-19);dan yang keempat, otomatisasi, dengan munculnya mesin-mesin mobil, pesawat terbang,dan sebagainya pada abad 19 dan 20.

Namun pada decade 20-an abad ke-20 ini, muncul paradigma ilmu pengetahuan yang baru, yang dalam perkembangannya selama 70 tahun terakhir ini mampu menggantikan Paradigma Newtonian yang bersifat mekanistik deterministic itu. Munculnya paradigma baru tersebut, diawali atau dipacu oleh dua temuan penting di bidang ilmu pengetahuan pada awal abad ke-20 ini. Kedua temuan tersebut adalah: pertama, teori mekanika kuantum dari Heisenberg, Scrodinger, dan kawan- kawan; kedua, teori Relafitas umum dari Einsten yang kemudian merubah pandangan kita tentang energi dan matahari, juga ruang waktu. Berbeda dengan pardigma Newtonian, paradigma baru tersebut bersifat probablistik-relatifistik. Karenanya, dengan sifat yang probablistik ini, sesuatu bisa mempunyai banyak sekali kemungkinan atau alternatif pemecahan, dan bahwa sesuatu itu sifatnya relatifistik tidak deterministic. Ilmu pengetahuan dan teknologi pun lebih mempunyai daya prediksi yang kuat dibandingkan sebelumnya.

Disamping kedua temuan diatas, pada awal decade 50an, tepatnya pada tahun 1953, kita menyaksikan ditemukannya struktur molekul DNA (Desoxyribo nucleic acid), suatu materi genetic atau materi pembawa sifat yang diturunkan dari induk ke anak-anaknya. Dengan temuan ini, lahirlah ilmu biologi molekuler, suatu cabang ilmu biologi yang membicarakan tentang sifat-sifat makhluk hidup dan bagaimana sifat tersebut dapat diturunkan atau bahkan dipindahkan.

Lahirnya ilmu ini diawali dengan tersingkapnya struktur molekul DNA, suatu materi genetic yang bertanggung jawab sebagai pembawa sifat-sifat organisme hidup. Dari sinilah dikenal apa yang sering disebut Genetic Enginering atau Rekayasa Genetika, gen yang satu dipindahkan kepada makhluk yang lain. Sesungguhnya bagian-bagian (segmen-segmen)tertentu dari DNA inilah yang sebenarnya dikenal sebagai gen, yang membawa sifat-sifat organisme hidup. Para pakar biologi molekuler sekarang telah mampu membaca sandi-sandi atau kode-kode dalam gen tersebut, sehingga para pakar tersebut mampu mengetahui sifat-sifat dan nasib dari makhluk hidup.

Paradigma probabilistic-relatifistik ini kemudian melecut perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi beserta aplikasi industrialnya sangat cepat dan dramatis. Dikatakan dramatis karena kalau dilihat dalam khazanah ilmu pengetahuan sekarang, hampir 90% dibuat pada pasca perang dunia II. Ilmu-ilmu baru semacam science material atau ilmu pengetahuan tentang bahan mikro elektronika, komputer,teknologi komputer, merupakan ilmu-ilmu yang lahir dari paradigma tersebut. Ilmu-ilmu dasar seperti biologi, kimia, maupun fisika menjadi ilmu yang mempunyai daya prediksi lebih kuat lagi setelah menggunakan paradigma baru tersebut. Di bidang ilmu fisika, misalnya lahir cabang-cabang baru seperti Astrofisika mempelajari tentang hal ihwal jagad raya serta alam semesta. Sedangkan fisika kuantum mempelajari tentang materi yang sekecil-kecilnya, seperti electron,quark, foton, nutrino, dan lain sebagainya.

Dalam perkembangannya, para pakar astrofisika, misalnya, saat ini telah mampu memberikan teori tentang asal-usul jagad raya atau universe ini yang sampai sekarang di kenal dengan teori Bing-Bang Theory atau Teori Dentuman Besar. Pada prinsipnya teori ini menyatakan bahwa sekitar 12 sampai 15 milyard tahun yang lalu, terjadi dentuman yang maha dasyhat yang berasal dari suatu titik singuralitas yang mempunyai suhu dan kerapataan sangat tinggi. Ini bisa dibuktikan baik dengan perhitungan matematik dan dengan pantulan elektronik maupun mikro elektronik. Titik singularitas ini merupakan kepaduan antara ruang-waktu dan energi-materi.

Dentuman besar itulah yang kemudian mengeluarkan energi-materi beserta ruang-waktu yang kemudian berpisah dan berkembang menjadi alam semesta yang kita kenal dewasa ini, setelah mengalami evolusi ekspansi alam sekitar 12 milyard tahun. Tentang ruang dan waktu, menurut paradigma Newtonian bahwa, ruang dan waktu itu suatu entitas yang terpisah. Ruang adalah ini, dan waktu adalah itu.

Tapi dalam paradigma Einstein, ruang dan waktu adalah entitas yang terkait sati sama lainnya menjadi dimensi yang namanya ruang dan waktu. Tanpa ruang, tidak ada waktu; tanpa waktu tidak ada ruang. Sebagai contoh Einstein mengatakan, kalau kita mengatakan satu tahun, itu artinya bumi mengililingi matahari 1 kali revolusi, satu kali circul. Kalau tidak ada matahari yang dikelilingi, maka tidak ada namanya satu tahun. Kalau orang bergerak dari satu tempat ke tempat lain tiga menit, itu berarti bahwa waktu itu tergantung dari satu materi yang satu ke tempat yang lain, ke ruang lain.

Sekarang kalau kita mengatakan bahwa, kita berada pada jarak seratusan juta km, diatas bumi, misalnya, dimana kita sudah keluar dari posisi bumi mengelilingi matahati, maka waktu yang disana sering orang mengatakan waktu astronomis, tahun cahaya. Namun kalau universe itu tidak ada, apakah ada waktu? Jawabnya tentu tidak ada. Jadi menurut paradigma ini, waktu dan materi serta ruang itu adalah ciptaan produk. Berbeda dengan Newton yang menyatakan bahwa waktu adadengan sendirinya. Dan dentuman besar itulah saat dimana waktu, materi, ruang itu tercipta secara bersama-sama muncul dari singularitas. Karenanya, sebelum itu praktis tidak ada waktu.

Dengan demikian, sebelum terjadinya dentuman besar itu tidak ada yang namanya ruang-waktu, tidak ada pula yang namanya energi-materi, yang ada menurut pakar astrifisika hanyalah titik singularitas. Pada titik itu kita tidak dapat menyatakan waktu kemarin atau waktu akan datang, karena waktu belum ada. Jadi kita juga tidak bisa menyatakan ‘kapan’ terjadinya singularitas. Dari pembicaraan diatas,dapatlah dikatakan bahwa paradigma merupakan hal yang essensial terlihat dari muatannya yang mampu menguak berbagai ilmu pengetahuan.

II. KEDUDUKAN IPTEK TERHADAP RELIGIOSITAS

Perkembangan Iptek yang begitu mengagumkan,ternyata mampu menyentuh masalah penciptaan, suatu masalah yang sebelumnya bukan merupakan kajian ilmu pengetahuan. Pada waktu ilmu pengetahuan masih menggunakan teori Newtonian, masalah penciptaan sama sekali tidak pernah disinggung. Ilmu pengetahuan pada waktu itu menyatakan bahwa, alam atau universe itu kekal dan ada dengan sendirinya, tidak terbatas dan tidak akan hancur.

Sedang astrofisika yang lahir dari paradigma probabilistic justru menyatakan bahwa, jagad raya itu ada saat awalnya yang di sebut penciptaan, ada saat kejadiannya, dan alam semestinya akan mengalami akhir pula yang diperkirakan seratus milyard tahun mendatang. Demikian pula dengan ditemukannya ilmu biologi mokuler, ilmu pengetahuan yang mampu berbicara tentang nasib, sesuatu yang dahulunya merupakan monopoli bidang keagamaan.

Contoh yang lain adalah tentang dunia lain, yang merupakan kajian keagamaan. Dengan adanya Ilmu Fisika Kuantum, adanya dunia lain tersebut sudah mulai dapat dikuak oleh ilmu pengetahuan. Perhitunga fisika kuantum menjelaskan adanya dimensi ruang-waktu yang lain selain dimensi ruang-waktu kita. Menurutnya, terdapat tujuh dimensi ruang-waktu yang lain selain dimensi ruang-waktu yang lain selain ruang-waktu yang kita diami. Kita ini sekarang berada pada dimensi ruang-waktu yang dikenal jagad raya dan seisinya. Dan dunia di sini bukanlah planet, tapi dunia yang dimaksudkan adalah bumi ini serta universe.

Contoh-contoh diatas merupakan contoh-contoh yang sangat dekat dengan pandangan keagamaan dan lebih-lebih  lagi agama islam. Maka tak aneh, jika dua orang yang masing-masingpakar dalm fisika inti, Prof. Abdulsalam yang memenangkan hadiah Nobel Fisika tahun 1979 dan Prof. Ahmad Baiquni, sangat tertarik untuk menggunakan temuan-temuan baru di bidang Astrofisika, fisika kuantum bahkan biologi mokuler untuk menafsirkan ayai-ayat Qur’aniyah yang berkenaan dengan penciptaan alam semesta maupun yang berkenaan dengan ayat-ayat kauniyah lain yang terdapat di dalam al-qur’an.

Big-bang theory yang menyatakan bahwa sebelum terjadinya dentuman besar ruang alam dan waktu adalah satu, berupa singularitas, maka menurut Baiquni ini sesuai dengan pernyataan di dalam ayat 30 surat al- anbiya’ yang menyatakan:

Dan tidaklah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa sama’(langit yang berarti ruang alam) dan ardh(bumu, materi, alam)itu dahulunya sesuatu yang padu, kemudian kami pisahkan keduanya”

Adanya tujuh dimensi ruang-waktu yang lain, seperti yang dijelaskan melalui perhitungan fisika kuantum, hal ini pun telah disinggung oleh al-qur’an didalam surat al-thalaq ayat 12:

Allah yang telah menciptakan  tujuh langit (sama’) dan (ardl)seperti itu pula”

Itulah dintara dimensi-dimensi yang telah bisa dikuak dengan pendekatan paradigma pribabilita. Lalu, apakah paradigma probabilita itu bisa punah? Tidak. Hal ini karena masing-masing paradigma saling melengkapi, paradigma probabilita tidak bisa meninggalkan semuanya dari paradigma mekanistik –ditermistik. Tetapi untuk masalah –masalah yang sangat krusial yang menyangkut dunia-dunia yang paling halus itu pasti dengan probabilita. Hal ini disebabkan, probabilistic-relatifistik yang paling dekat dengan ketuhan-an.

Meskipun demikian masih terdapat keraguan, jika dengan ilmu pengetahuan kita mampu membuktikan tuhan. Akan sangat berat untuk membuktikan tuhan. Membuktikan ciptaan tuhan yang namanya universe saja membutuhkan evolusi yang begitu lama, dan itu pun belum tuntas. Hal ini sama dengan komputer untuk membuktikan adanya manusia. Sehingga wajar bila kebebasan otak manusia itu akan terbentur kalau kita sudah membicarakan masalah-masalah ketuhanan.

Sehubungan dengan manusia, sebetulnya ilmu pengetahuan sejak paradigma Newtonian telah banyak menyorotinya. Namun masih terbatas dalam arti manusia sebagai body. Stuktur manusia masih dipelajari dalam anatomi, proses kejadian metabolisme dipelajari dalam fisiologi. Bagian-bagian dari manusia yang dikatakan nyawa ataupun kata hati tidak sampai jangkauan ilmu pengetahuan. Apakah ilmu pengetahuan dan teknologi dengan paradigma yang baru itu akan sampai kesana? Jawabnya wallahu a’lam. Tetapi bahwa fisika kuantum sekarang sudah menjangkau masalah-masalah yang metafisis. Materi yang paling kecil yang kita kenal sebagai atom ternyata masih bisa di belah menjadi proton dan electron; masih bisa dibelah lagi menjadi quark, masih bisa lagi dibelah kecil, kecil, kecil. Yang akhirnya ada suatu materi yang masanya atau beratnya itu adalah 0,001 atau praktis nol. Dan materi dengan masa yang sekecil itulah yang memungkinkan kita bisa melihat apa saja, tapi bisa dideteksi tentangnya dengan alat tertentu.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini sudah mulai bersinggungan dengan masalah-masalah yang sebelumnya merupakan aras keagamaan. Hal tersebut seharusnya menarik perhatian para ulama atau peminat keagamaan. Mengapa demikian? Karena temuan-temuan ilmiah baru itu sangat mencocoki dengan pernyataan-pernyatan Qur’aniah dan, oleh karena itu, dapat ikut membantu dalam memahami ayat-ayat Qur’aniah,yang sebelumnya belum ditafsirkan dengan tepat. Hal ini bukan suatu langkah untuk mencocok-cocokan ataupun apologetik, tetapi kita lihat. Tetapi untuk menyakinkan kita akan kebenaran yang terdapat didalam al-qur’an. Dan juga sebagai pengendali dari perkembangan iptek yang begitu pesat, sehingga akan didapatkan perkembangan iptek yang terikat oleh nilai-nilai etik agama, yang akhirnya tidak akan terdapat penyelewengan ilmu.

III. KESIMPULAN

1)      Perkembangan ilmu pengetahuan modern yang kita kenal dewasa ini beserta aplikasi teknologi dan industrialnya diawali Isac Newtonian tepatnya pada tanggal 28 april 1686, berdasarkan teori yang dikemukakannya tentang gravitasi atau gaya tarik bumi.

2)      Sejak saat itulah perkembangan ilmu pengetahuan seringkali mengikuti konsep-konsep Newton, sehingga lahirlah paradigma Newtonian yang bersifat mekanistik deteministik.

3)      Pada abad 20 muncul paradigma baru, yang dipicu oleh dua temuan penting. Pertama: teori mekanika kuantum dari Heisenberg, Scrodinger, dkk; kedua: teori relatifitas umum dari Einstein. Sehingga lahirlah paradigma baru yang bersifat probabilistic relatifistik.

4)      Perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat ternyata dapat bersentuhan dengan permasalahan yang sebelumnya sangat tabu, yaitu permasalahan penciptaan, hal ini cukup mempengaruhi khususnya umat islam  dalam pembuktian kebenaran terhadap apa-apa yang terdapat dalam al-qur’an

DAFTAR PUSTAKA

Jasin, Maskoeri, Drs,1995 Ilmu alamiah dasar, Jakarta:Rajawali Press.

Mulkhan, Abdul Munir,dkk, 1998 Religiusitas Iptek, Yogyakarta: pustaka pelajar.

Khun, Thomas, 1989 Peran Paradigma dalam Revolusi sains, Bandung:Remadja karya.

Mahdi, Ghulsyani, Dr, 1991 Filsafat Sains Menurut Islam, Bandung: Mizan.

1 Komentar

  1. assalaamu’alaykum.mohon maaf sebelumnya. saya bukan ingin mengomentari tulisan anda. tapi saya minta tolong untuk dibagi ilmunya. pada bagian pendahuluan, paragraf 2, baris 4, ada kata “kuoritas”. itu maknanya apa ya? apalagi konteksnya adalah dalam diri manusia, dan selama ini yg saya lihat justru konteksnya adalah produk (misal quority of animation, good quority paper, dll). saya di psikologi, tapi saya belum pernah tahu tentang ini. terima kasih banyak atas jawabannya. semoga anda diberi kemudahan untuk semakin banyak membuat tulisan yang bermanfaat yang bisa mengingatkan orang akan Dia.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s